Naif Mau Bikin Pembajak BT Jumat, 9/5/2008 JAKARTA, JUMAT - Capek deeeh... Itu yang dirasa oleh band Naif dalam menghadapi kondisi industri musik rekaman dalam negeri dewasa ini. Makanya, mereka memberi gratis setiap copy album baru mereka lewat penjualan setiap eksemplar salah satu majalah waralaba yang beredar di Indonesia. Mei ini, Naif--terdiri dari David (vokal), Jarwo (gitar), Emil (bas), dan Pepeng (drum)--merilis album CD baru berjudul Let's Go. Tapi, berbeda dari lima album terdahulu yang dikeluarkan oleh grup pop retro tersebut, Let's Go tidak dijual, tapi diedarkan secara gratis sebagai sisipan setiap dari 35.000 eksemplar majalah Rolling Stone (Indonesia) edisi bulan ini. Emil, yang juga manajer Naif, kepada Kompas.com mengatakan, ada perhitungan tersendiri yang mendasari keputusan Naif untuk menempuh cara itu, yang telah dilakukan oleh Koil, salah satu grup rock asal Bandung. "Kalau kami kontrak dengan perusahaan rekaman untuk memproduksi dan merilis album ini, dari setiap copy album (CD atau kaset) kami yang terjual, kami dapat Rp1.000. Karena kami berempat, tiap orang cuma dapat Rp250," papar Emil sebelum tampil bersama rekan-rekannya dalam konser kecil akustik pada acara Kompas.com Music Corner, Kamis (8/5) sore, acara setiap Kamis di Toko Buku Gramedia, Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat. "Kalau album ini terjual, katakanlah, 60.000 copy, kami dapat Rp60 juta. Alhamdulillah, uang sejumlah itu bisa kami dapat dengan hanya sekali manggung 45 menit. Di lain pihak, untuk mencapai angka penjualan 60.000 copy, sekarang enggak gampang, lama, berbulan-bulan, apalagi banyak pembajakan. Jadi, daripada capek-capek, sekalian saja kami gratiskan," sambungnya. Album Let's Go diproduksi sendiri oleh Naif. "Kami pakai sistem bisnis gurita. Master album ini bisa diperbanyak oleh siapapun yang bekerja sama dengan kami. Pihak itu yang menanggung beaya perbanyakan dan peredaran album ini. Pertama, dengan majalah Rolling Stone edisi bulan ini. Sesudahnya, bisa saja dengan surat kabar Kompas terbitan Minggu-nya," paparnya lagi. "Habis itu, mungkin jadi bonus untuk pembelian deterjen," selorohnya. Dengan album Let's Go dirilis gratis, kata Emil, Naif memperoleh keuntungan materi tak langsung. "Dengan album ini beredar, kami dapat order manggung lagi, sekali main Rp60 juta. Kami enggak perlu capek-capek menunggu berbulan-bulan untuk dapat uang segitu," ujar Emil, yang bersama David, Jarwo, dan Pepeng, dapat job setidaknya dua kali seminggu. "Pembajak juga jadi BT (bad temper), apa yang mau mereka jual," imbuhnya. Kata Emil, Let's Go bukan merupakan album keenam, melainkan, "Album setengah enam." Album keenam belum mereka bikin. "Sebagian lagunya sih sudah ada. Tapi, kami belum tahu kapan akan digarap," ucap Jarwo. Album Let's Go berisi 13 lagu. Ada lagu-lagu lama dengan aransemen baru. Contohnya, Towal Towel. Ada juga satu lagu lama yang di-remix oleh Agrikulture. Judulnya, Ajojing. Ada pula lagu-lagu yang belum dirilis dalam album-album terdahulu, tapi beberapa dari lagu-lagu itu sudah muncul ke publik lewat film Kawin Kontrak. Dalam konser akustik kecil pada acara Kompas.com Music Corner--yang digelar gratis untuk para pengunjung Toko Buku Gramedia Matraman--Naif juga membawakan Nyali, salah satu lagu dari album tersebut. Selain tampil, Naif menyediakan waktu untuk memberi tanda tangan kepada mereka yang sudah memiliki majalah yang bersisipan album Let's Go. Mereka juga melakukan hal yang sama bagi para pembeli buku Kenapa Kuda Lumping Makan Beling? karya Naif. Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
|
|