


SURABAYA, SABTU – Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid menilai Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis 20 tahun penjara oleh majelis hakim Mahkamah Agung hanya pelaku yang dikorbankan. Adapun perencana pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir malah tidak diungkap.
Hal ini disampaikan KH Abdurrahman Wahid dalam pengarahan kepada kader-kader dewan pengurus cabang PKB se-Jawa Timur dalam musyawarah wilayah luar biasa (Muswilub) PKB Jatim, di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (26/1).
“Pemerintah sudah biasa bohong kepada rakyatnya. Yang kasihan Pollycarpus dihukum 20 tahun. Tapi yang sesungguhnya merencanakan pembunuhan Munir malah bebas lepas dan bahkan menjadi menteri. Lha terus piye?,” tutur KH Abdurrahman Wahid yang kerap dipanggil Gus Dur.
Kunci satu-satunya dan saksi paling utama yakni personel Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Santoso, lanjut Gus Dur, malah tidak dilepas untuk bersaksi dengan dalih sedang bertugas di luar negeri.
Budi Santoso tiga kali dipanggil untuk bersaksi dalam perkara pembunuhan Munir di Mahkamah Agung. Namun, Kepala BIN Syamsir Siregar melalui suratnya menerangkan Budi masih berada di luar negeri menjalankan tugas negara secara tertutup.
Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Budi Santoso yang dibacakan jaksa penuntut umum di persidangan pertengahan Januari lalu, diketahui bahwa Pollycarpus berteman dengan Deputi V BIN Muchdi Pr. Budi sempat menjadi penghubung keduanya.
Dalam rekaman pembicaraan Pollycarpus dan mantan Direktur Utama PT Garuda Indra Setiawan yang diputar di persidangan, terungkap pula keterkaitan Pollycarpus dengan banyak pejabat BIN seperti Wakil Kepala BIN As’ad.
Semestinya, kata Gus Dur, masalah diungkap tuntas. Dengan demikian, bisa dilakukan perbaikan ke depan. (INA)

