Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Melissa Karim di Sisa Waktu
Minggu, 1 Juni 2008 | 03:00 WIB
|
Share:
FOTO-FOTO: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

DAHONO FITRIANTO

”Halo, kamu lagi sibuk apa sekarang?”

Pastikan Anda memiliki waktu luang yang cukup jika benar-benar ingin mengetahui jawaban pertanyaan itu dari seorang Melissa Karim.

Agak sulit menyebut perempuan bersosok mungil (tinggi badan 150 sentimeter, berat badan 40 kilogram) ini dengan satu predikat karena hampir semua bidang pekerjaan di dunia hiburan pernah ia lakoni. Saat ini saja, Melissa adalah seorang presenter, aktris, asisten sutradara, penulis skenario, penyiar radio, foto model, bintang iklan, MC, dan VJ.

Di luar itu, dia pernah ikut main teater dan menjadi perancang kreatif di sebuah event organizer. Dan, sebentar lagi, ia akan menjadi penulis novel.

Itu sebabnya jika ditanya dia sedang sibuk apa, jawabannya pasti akan panjang dan setiap detailnya akan terlalu sayang untuk dilewatkan. Seperti yang saya alami saat berbincang santai dengan Melissa di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/5) petang.

Sisi kehidupan

Satu pertanyaan sederhana akan membawa kita berpetualang masuk ke sisi-sisi kehidupan perempuan kelahiran Jakarta, 12 Mei 1978, ini, yang tak pernah diduga sebelumnya. Seperti pertanyaan, mengapa dia memilih Rumah Maroko—rumah berarsitektur dan interior gaya Timur Tengah—sebagai lokasi pemotretan?

Awalnya, jawaban pertanyaan itu sederhana: karena rumah itu milik sahabatnya, jadi dia bisa pinjam kapan pun dia mau. Tetapi, jawaban itu tidak berhenti di sana. Ternyata, Melissa juga seorang penggemar hal-hal yang berhubungan dengan Maroko atau India, termasuk makanannya. ”Gue dulu pernah tergila-gila sama kebudayaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan India,” ungkap perempuan berdarah China ini.

Masih berhubungan dengan rumah tersebut dan India, di rumah itu pula dia dengan gengnya berkumpul setiap Sabtu untuk latihan yoga. ”Gue udah 5-6 tahun terakhir ini menekuni yoga. Kalau gak yoga, gue langsung sakit,” ujarnya.

Menurut Melissa, ia menekuni aliran ashtangayoga, sebuah aliran yoga yang berasal dari Mysore, India. Katanya, setelah rutin mempraktikkan aliran yoga tersebut minimal dua jam setiap minggu, badan jadi lebih fleksibel, perut jadi tambah kenceng, dan semua rasa lemah dan kantuk hilang. ”Setiap melakukan yoga di Rumah Maroko, gue merasa gak di Jakarta. Terbebas dari segala keruwetan,” tutur sulung dari dua bersaudara ini.

Tidak itu saja, Melissa juga mengaku seorang penggila olahraga. Ia rutin lari di treadmill paling sedikit tiga kali seminggu. ”Pengennya sih lari beneran, bukan di treadmill. Tapi, di Jakarta ini, di mana sih kita bisa lari dengan santai, bo? Mau ke Senayan aja udah kena macet duluan,” kata Melissa, yang tampak cantik dibalut gaun rancangan Lenny Agustin sore itu.

Waktu tersisa

Bagaimana Melissa mempunyai waktu untuk semua itu di tengah aktivitas profesionalnya yang sangat padat? Ia sendiri bercerita, dalam satu hari dia bisa bangun pukul 05.00 untuk menjadi presenter acara bincang-bincang pagi di TV, dan baru pulang pukul 12 malam atau bahkan dini hari seusai jadi MC. Hampir tak ada waktu tersisa.

”Ya, harus disediakan waktu buat olahraga, sesibuk apa pun. Kalau lagi stres, aku lampiaskan dengan lari-lari. Justru kalau tidak olahraga, gue gak bakal bisa kuat ngerjain semuanya. Umur gue udah 30, bo, udah gak muda lagi, he-he-he,” kata Melissa, yang kini mulai latihan beban untuk mencegah osteoporosis ini.

Saking rajinnya berolahraga, Melissa sempat tersinggung ketika seorang tukang pijat di Yogyakarta menyebut otot pahanya lebih keras dari atlet bulu tangkis yang biasa ia pijat. ”Sebagai perempuan, gue langsung ilfil dikatain kayak gitu. Begitu balik Jakarta, gue ngedrop, gak mau lari selama dua minggu, ha-ha-ha,” kenang jebolan Jurusan Public Relations, Universitas Pelita Harapan ini.

Proyek idealis

Meski berkutat di seputar dunia hiburan, jangan bayangkan kegiatan Melissa melulu demi mencari uang dan selalu bersifat hura-hura serba gemerlap. Sejak tahun lalu, ia juga mengerjakan proyek-proyek idealis sebagai Direktur Operasional Kalyana Shira Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan produser dan sutradara Nia Dinata. ”Ini adalah organisasi nonprofit yang dibentuk atas kepedulian terhadap kaum marjinal, seperti perempuan dan anak-anak, terutama dalam kampanye tentang kesehatan reproduksi perempuan,” paparnya.

Karya pertama yayasan ini adalah antologi film Perempuan Punya Cerita. Dari empat cerita tentang perempuan dalam film itu, Melissa menulis skenario untuk dua cerita, yakni Cerita Cibinong (disutradarai Nia Dinata) dan Cerita Jakarta (Lasja F Susatyo).

Tahun depan, yayasan tersebut berencana menggelar 1st International Children Film Festival di Jakarta. Festival film khusus film tentang anak-anak tersebut diharapkan dapat merangsang para pembuat film di Indonesia untuk lebih memerhatikan penonton anak-anak. ”Festival itu obsesi gue sekarang!” tandas Melissa.