Jumat, 28 November 2014
Abdul Hadi WM dalam Sastra Sufistik
Selasa, 10 Juni 2008 | 14:12 WIB
|
Share:

DARI periode Hamzah Fazuri, seorang sastrawan pembaharu yang hidup antara pertengahan abad 16 sampai awal abad 17, hingga reformasi, sufisme dapat dikatakan sebagai tema utama sastra di Indonesia. Sastra seperti ini kemudian dikenal dengan sastra sufistik. Sastra sufistik inilah yang menjadi topik diskusi kebudayaan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, Senin (9/6).

Secara teoritik, sastra sufistik mulai menjadi perbincangan serius sejak akhir 1970-an. Hal ini  karena Abdul Hadi Widji Muthari bersama Sutardji Calzoum Bahri, Danarto, serta sejumlah sastrawan lain menyuarakan semangat “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber”. Gerakan ini menjadi ilham bagi para sastrawan dalam bersastra.

Meskipun identik dengan Islam, Abdul Hadi menekankan bahwa sufisme tidak bisa dipandang sebagai dogma agama saja. Setiap orang juga harus melihat sastra sufisme ini sebagai kebudayaan universal dari segi peradaban, kebudayaan, dan estetika.

“Islam merupakan agama yang universal,” kata Abdul Hadi dalam diskusi bertajuk 'Paradigma Abdul Hadi WM dalam Kebudayaan Indonesia' itu.

Abdul Hadi juga menjawab kritikan yang dialamatkan kepada buku serta karya-karyanya yang tidak banyak mengutip referensi dari Arab. Ia menekankan bahwa studinya memang merupakan studi sastra Melayu yang asalnya dari Persia.

“Kalau membicarakan sastra Islam itu tidak bisa dilihat dari kebudayaan Arab saja karena kebudayaan Islam bukan kontribusi Bangsa Arab saja. Kebudayaan Islam juga milik orang Melayu, Turki, Persia, Urdu, dan lain-lain,” kata pria kelahiran Madura, 62 tahun lalu ini.

Diskusi yang masuk dalam rangkaian tiga hari merayakan berhasilnya Abdul Hadi WM menjadi profesor di bidang sastra ini juga dihadiri oleh Taufik Ismail. Budayawan Indonesia yang juga sahabat Abdul Hadi WM ini mengatakan bahwa Abdul Hadi WM merupakan satu-satunya penyair di Indonesia yang menjadi profesor dalam bidang ilmu sastra di negeri ini.

“Sayangnya, untuk ukuran Indonesia, pemberian gelar ini sangat-sangat terlambat,” kata Taufik Ismail.

Taufik Ismail juga mengatakan bahwa Abdul Hadi WM sebagai pembaca dan penulis yang luar biasa produktif. “Pernah, suatu hari saya bertemu Beliau, kemudian saya bertanya 'semalam kamu mengerjakan apa?' Ketika Beliau menjawab menciptakan 25 puisi, saya kaget karena puisi sebanyak itu biasanya saya ciptakan dalam waktu enam bulan,” kata Taufik Ismail sambil melirik Abdul Hadi dengan bangga.

Diskusi ini tidak hanya menghadirkan pembicara seperti Maman S. Mahayana (pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Sukron Kamil (dosen tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta), Ahmadun Yosie Herfanda (Presiden Komunitas Sastra Indonesia), dan Sutejo (Kepala Sekolah SMA Immersion) yang banyak mengulas tentang karya-karya Abdul Hadi WM serta paradigmanya dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

Di luar ruang diskusi, panitia pelaksana juga memamerkan ratusan karya Abdul Hadi itu sendiri. Karya yang dipamerkan antara lain adalah buku Abdul Hadi WM yang berjudul Laut Belum Pasang, Mereka Menunggu Ibunya (Sajak Anak-Anak), Pembawa Matahari, serta artikel-artikelnya yang dimuat di Berita Buana, Majalah Horison, dan lain-lain.

Metode Pengajaran Sastra Berbasis ESQ

Dalam diskusi ini, pembicara juga mengangkat isu yang berhubungan dengan sastra sufistik dan aplikasinya dalam ilmu-ilmu lain. Sutedjo, mengatakan bahwa karya-karya Abdul Hadi seharusnya dimasukkan juga sebagai materi ajar siswa-siswi di sekolah.

“(Hal ini) agar anak-anak tidak hanya mengenal Armijn Pane, Abdul Hadi juga harus dikenal siswa karena karya-karyanya penting dan menarik,” kata Sutedjo.

Selama ini, mata pelajaran sastra kurang diminati oleh anak-anak sekolah karena guru yang mengajar sastra itu sendiri rabun sastra. “Guru-guru sastra hanya menyuruh anak-anak maju baca puisi, lalu ditanya maknanya apa. Ketika anak menjawab tidak tahu, guru itu akan mengatai anak itu bodoh,” kata Sutedjo menjelaskan.

Menurut Sutedjo, mengajarkan sastra kepada anak-anak harus dilakukan dengan relaksasi dan meditasi. Metode ini merupakan metode yang dikenal orang sebagai ESQ atau memainkan emosi. “Guru harus membuat si anak itu merasa bersalah, merenung, dan menangis, kemudian menyalurkan energi positif yang memancar itu dialihkan menjadi semangat yang luar biasa.”

Ketika merenung, guru bisa memasukkan puisi-puisi yang berhubungan dengan tema renungan kali itu. Metode ini disambut antusias oleh Abdul Hadi WM. Menurutnya, sarjana sekarang ini kualitasnya kurang karena guru-guru mereka tidak pernah mengajak mereka untuk merenungi kejadian-kejadian yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. (M10-08)