


JAKARTA, SENIN -- Selain Bambang Trihatmodjo dan Dewa Budjana, seorang pria bernama Charles pernah disebut punya hubungan dekat dengan Mayangsari.
Ibunda Mayang, Larastun, pernah menceritakan, Charles Antonius Simamora (34) adalah pria yang baik, sopan lagi tampan. Mayang amat mencintainya dan beberapa kali Charles datang ke Purwokerto menemui keluarga besar Mayang. Namun apa mau dikata, karena Chrales dan Mayang beda agama, hubungan yang nyaris direstui itu tak berakhir di pelaminan.
Belakangan Charles menikahi Indah Stephanie (28). Sayang rumah tangga mereka kini penuh prahara. Salah satu penyebabnya, Charles masih kerap berhubungan dengan Mayang. Selain itu, Charles dituduh ringan tangan. Berikut curahan hati Indah tentang kondisi rumahtangganya dengan Charles. Pada awalnya saya adalah wanita mandiri, bekerja sebagai pramugari Singapore Airlines dan lebih sering tinggal di Singapura. Sekitar pertengahan 2004 paman saya mencoba mengenalkan saya dengan Charles Antonius Simamora, putra seorang pengusaha di Jakarta dan pernah kuliah di Australia. Maksudnya menjodohkan, namun saya tidak mau tanggapi.
Tapi sekitar 4 bulan kemudian saya dihubungi Charles. Dari perbincangan awal itu Charles sering datang ke Singapura untuk menemui saya. Singkat cerita saya akhirnya menerima pinangan Charles dan saya berhenti dari Singapore Airlines. Kami menikah pada 15 Januari 2005 lalu dalam suatu pernikahan meriah di Balai Sudirman, Jakarta.
Sebetulnya setelah saya menikah, beberapa teman sudah membisik kepada saya, bahwa Charles adalah pacar Mayangsari. Konon Charles pernah mendatangi rumah orang tua Mayangsari di Purwokerto. Namun, saya tidak ambil pusing karena Charles pacaran dengan Mayangsari, kan sebelum menikah dengan saya. Dan saya yakin hubungan mereka akan putus dengan sendirinya setelah kami berumah tangga.
Ternyata dugaan saya meleset. Salah seorang saudara keluarga Charles menegaskan, meski Charles sudah menikah dengan saya, namun Charles masih tetap menjalin hubungan setidaknya melalui telepon dengan Mayangsari.
Semula saya tidak begitu mengenal Mayangsari, namun dari cerita dari para kerabat dan berita di media, saya jadi mengetahui sosok Mayangsari, istri siri Bambang Triatmojo. Diam-diam saya mendapatkan nomor telepon Mayangsari melalui seorang kerabat yang lain.
Ketika kami berkunjung ke Singapura, saya terkaget-kaget saat melihat kuitansi pembayaran hotel tempat kami menginap, di antaranya tercantum pembayaran telepon ke ponsel Mayangsari.
Sebagai istri, tentu saya tidak tenteram, lalu saya konfirmasi ke Charles. Semula Charles sempat tidak mengaku. Dia baru mengaku setelah saya desak terus.
"Mayangsari konsultasi karena salah seorang adik Mayangsari tengah melakukan Praktek Kerja Lapangan di perusahaan (milik keluarga Charles) di Tanjung Priuk," katanya.
Bukan itu saja, nomor yang sama juga saya temukan ketika kami berada di Australia. Misalnya, dalam sebuah print out telepon di antaranya hubungan telepon dengan Mayang tertanggal 21 Maret 2005 jam 17.12. dan jam 17.21. Saya menyimpulkan sendiri bahwa Charles masih rutin komunikasi dengan Mayangsari. Jangan-jangan sampai sekarang pun mereka masih berhubungan? Siapa tahu.
Suatu hari di Jakarta, kebetulan saya dan Charles jalan-jalan ke Plasa Senayan. Entah Charles sengaja atau tidak, di sana kami berpapasan dengan Mayangsari. Dengan ragu-ragu, saya dikenalkan Charles kepada Mayangsari. Itulah pertama kali saya melihat dari dekat Mayangsari. Pertemuan itu hanya beberapa detik saja, tetapi sempat membuat saya uring-uringan.
Pada hari-hari berikutnya, saya merasakan tidak ada upaya Charles untuk membina rumah tangga dengan baik. Setiap ada persoalan kecil saja, dia selalu mengatakan cerai dan cerai. Dia begitu mudah melecehkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas.
Pada usia kehamilan 4 bulan, kami berangkat ke Australia. Katanya agar saya lebih tenang dalam menjalani kehamilan hingga persalinan. Lalu, Charles kembali ke Jakarta dengan alasan mengurus perusahaan. Dia kembali lagi ke Australia menjelang kelahiran anak kami.
Baru 2 hari setelah anak kami, Sonia, lahir, kami kembali bertengkar lagi. Pasalnya saya jengkel karena dia tidak pernah memberi waktunya kepada saya yang memerlukan perhatian suami. Dia selalu pergi dengan alasan main golf dan sebagainya.
Setelah beberapa hari di Australia, Charles kembali ke Jakarta. Ia balik ke Australia ketika Sonia berusia 60 hari. Setelah 7 bulan tinggal di Australia, kami sepakat kembali ke Jakarta.
Di Jakarta, keluarga kami mengadakan pertemuan kecil untuk membahas keluarga kami. Intinya memberi nasihat agar saya tetap tabah. Saya harus patuh kepada suami, meski diperlakukan tidak adil!
Anehnya, beberapa hari kemudian mertua saya melarang ibu saya datang ke rumah kami di Pulomas. Saya hanya puas menyapa Ibu melalui telepon.
Ketika Sonia berusia setahun, saya juga telah membujuk Charles agar diizinkan kembali bekerja. Maksud saya agar saya tidak lagi tergantung kepadanya dalam hal uang belanja. Responnya? Sungguh mencengangkan. "Kalau kamu bekerja, saya tidak akan memberikan biaya. Dia juga pernah mengatakan, "Kalau kamu bekerja biar saya yang di rumah!"
Sementara itu pemberitaan tentang Mayangsari semakin sering saya lihat di infotainment maupun media cetak. Kalau sudah demikian, Charles berusaha menghindar dengan bermacam alasan. Namun yang membuat saya terkaget-kaget, ketika salah satu tabloid terbitan Jakarta menulis mobil Jaguar milik Mayangsari adalah pemberian Charles.
Bagaimana tidak kaget? Kami masih menumpang di rumah orangtua dan biaya hidup masih tergantung dari pemberian orangtua. Tetapi di sisi lain, Charles mampu membelikan mobil mewah kepada Mayangsari. Kepada saya? Jangankan dibelikan mobil, sepeda motor pun tidak!.
Sambil menahan marah, saya bertanya ke Charles, apakah semua pemberitaan itu benar? Dia mengatakan, "Itu bohong." Saya pun sewot, kalau berita itu bohong, kenapa tidak diklarifikasi. Eh, Charles diam dan pergi.
Hari-hari selanjutnya saya menjalani hidup tanpa kebahagiaan. Saya merasa diperlakukan bukan sebagai pasangan hidup, tetapi sebagai perempuan yang diperlakukan semena-mena. Sejak Januari 2008, Charles tidak lagi tidur bersama saya, alias pisah ranjang.
Tanggal 23 Maret lalu kami kembali bertengkar. Saat itu dia menghempaskan pintu sekuat tenaga, sehingga paku yang menancap di pintu mengenai jidat saya dan berdarah. Saya langsung menelepon kakak saya agar mengantarkan ke RS. Sebenarnya saat itu ada yang menganjurkan agar saya melapor ke polisi. Namun kakak saya melarang.
Hubungan saya dengan suami semakin memburuk. Kami kak saling menegur. Charles sering pulang pagi, bahkan kalau ke luar kota tidak pamit. Kalau saya SMS tidak dibalas, kalau ditelepon tidak diangkat. Bahkan uang belanja pun diberikan langsung ke pembantu.
Perbuatannya membuat saya menderita, akhirnya saya memilih pergi dari rumah, Senin (12/5) bersama anak saya Sonia (2). Saya juga membawa mobil, yang saya beli ketika masih gadis.
Saya memberitahukan kepergian kami lewat ke Charles lewat SMS. Charles membalas dan mengatakan bisa maklum, tapi Sonia jangan dikorbankan. Setelah itu Charles melaporkan saya ke Mapolda Metro Jaya dengan tuduhan meninggalkan rumah tanpa pamit dan membawa anak dengan tudingan yang sama, Charles juga melaporkan saya ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Ini membuat saudara dan ibu saya harus menjalani pemeriksaan secara maraton di Mapolda.
Hal inilah yang membuat saya merasa perlu melaporkan Charles ke Mapolres Jakarta Timur, Senin (9/6) karena telah melakukan KDRT terhadap saya. Saya hanya bisa berharap keadilan akan datang buat saya.
Penulis: Tumpak Sidabutar

