Jumat, 25 April 2014
Cerpen Karya Seno Gumira, Cerpen Terbaik Kompas 2007
Kamis, 26 Juni 2008 | 23:40 WIB
|
Share:
KRISTIANTO PURNOMO
Penyair Sapardi Djoko Damono memberikan sambutan sebagai wakil dewan juri pada peluncuran Buku Cinta di Atas Perahu Cadik Cerpen Kompas Pilihan 2007 di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/6) malam. Sebanyak 15 karya cerpen yang dimuat Kompas selama tahun 2007 terpilih untuk dibukukan.
TERKAIT:

JAKARTA, KAMIS -  Cerita pendek (cerpen) berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2007 sekaligus menjadi judul antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007.

Antologi cerpen yang seluruhnya berisi 15 cerpen Kompas terpilih yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/6) petang. Bersamaan dengan itu, juga digelar Pameran Ilustrasi Kompas.

Atas karya terbaiknya itu, Seno mendapat penghargaan yang diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono. Bagi Seno ini adalah cerpen keduanya yang terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas. Beberapa tahun sebelumnya,  saat pertama kali Kompas membukukan cerpen-cerpen pilihannya, cerpennya berjudul Pelajaran Mengaran, terpilih sebagai cerpen terbaik.

Direktur Penerbit Buku Kompas yang juga Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto dalam sambutannya mengatakan, pihaknya tetap mencoba berani menerbitkan antologi cerpen tersebut, meskipun dari segi pemasaran, saat ini penjualan karya fiksi tidak sebaik masa lalu (Orde Baru -pen) ketika cerpen dijadikan pembaca sebagai alternatif untuk mencari berita yang benar.

"Tapi kami percaya  masih ada pembaca yang akan mencarinya," katanya dalam acara yang juga dihadiri para cerpenis yang cerpennya masuk dalam antologi, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo yang juga Wakil pemimpin umum Kompas, Pemimpin Redaksi Kompas, Bambang Sukartiono, para seniman dan budayawan.  Sularto juga percaya masih banyak "pelanggan lama" yang bakal membeli antologi tersebut.

Sularto juga menyinggung model pemilihan sehingga terpilih 15 cerpen pilihan di antara cerpen-cerpen pernah dimuat Kompas sepanjang 2007.  Tahun ini, katanya, pihaknya melanjutkan model pemilihan yang  sudah dimulai tahun lalu, yakni mengundang pihak luar Kompas untuk melakukan penilaian. Tahun ini, pemilihan dilakukan oleh Ayu Utami dan Sapardi Dko Damono.

Ayu Utami dikenal sebagai seorang novelis,  kolumnis  yang juga menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2006-2009.  Ia juga pernah menjadi redaktur jurnal kebudayaan Kalam. Sedangkan Sapardi Djoko Damono adalah guru besar emeritus yang dikenal sebagai penyair, penulis cerpen, kritikus sastra, dan pernah menjadi redaktur pada majalah kebudayaan seperti Basis dan Horison.

Dari seluruh cerpen yang terbit di harian Kompas setiap hari Minggu sepanjang tahun 2007 , keduanya memilih 15 cerpen. Satu di antaranya  berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma, sekaligus terpilih sebagai cerpen terbaik.

Dalam pidato pertanggungjawabannya selaku juri Sapardi menyatakan agak sulit menetukan dan menjelaskan alasan mana cerpen yang terbaik, sebab penilaian juri subyektif. 

"Ada beberapa catatan, antar alain, dari 52 cerpen yang dinilai, tidak ada sesuatu yang cukup berbeda dibanding cerpen-cerpen yang dimuat Kompas dua tahun lalu. Dalam dunia sastra sekarang ini, sulit menentukan isme-isme, karena cerpen umumnya bicara masalah kepincangan sosial, percintaan, dan masalah pribadi dan sekitarnya. Kecenderungan yang sangat kuat adalah kelisanan, " katanya.

Sementara itu Ayu Utami yang menulis prolog untuk antologi itu antara lain menyebut, ada hal-hal yang menjadi usang dan tidak boleh diulang sebagai ciptaan, termasuk dalam menulis cerpen. Sementara Sapardi dalam  epilognya menghubungkan sifat koran yang ruangnya semakin terbatas dengan kemampuan cerpenis menyusun cerpen koran yang meyakinkan. Dua pemikiran itu pula yang mendasari pemilihan cerpen yang diterbitkan sebagai antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007.

Selain Cinta di Atas perahu Cadik, ke-14 cerpen lain terpilih ialah Lampu Ibu karya Adek Alwi; Kisah Pilot Bejo (Budi Dharma); Koh Su (Putu EA);  Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak); Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu); Sinai (F Dwi Ria Utari); Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo); Bigau (Damhuri Muhammad); Lak-uk Kam (Gus tf Sakai); Candik Ala (GM Sudharta); Tukang Jahit (Agus Noor); Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad); Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo); dan Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan).

Dalam sambutan singkatnya Seno mengatakan, "Dalam ilmu surat tidak ada juara satu. Yang ada hanya keberuntungan wacana." Kalau harus berbicara, katanya, maka kita hanya perlu kembali kepada  firman Tuhan (sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci Al Quran), "Bacalah!". (NAL/WIP)

 

Sumber :
KOMPAS