


JAKARTA, MINGGU - Mengaku terinspirasi oleh grup rock legendaris dari Inggris The Who, sampai sekarang band rock asal Surabaya Boomerang masih menutup konser mereka dengan membanting gitar. Enggak sayang tuh gitar?
Sejak 2000, Boomerang--yang berawal dari grup Lost Angels, yang lahir di Surabaya pada 1991 dan berganti nama menjadi Boomerang pada 8 Mei 1994--memiliki tradisi membanting gitar di ujung pertunjukan mereka. "Kami mendapat inspirasi dari konser-konser The Who," kata Roy Jeconiah, vokalis Boomerang, kepada Kompas Entertainment. "Tapi, kalau The Who ngancurin semua (alat musik), kami cuma ngebanting gitar. Kalau semua, beayanya mahal, kami enggak mampu," sambungnya mewakili ketiga rekannya dalam Boomerang, Andry Franzzy (gitar), Hubert Henry (bas), dan Farid Martin (drum).
Kata Roy lagi, aksi tersebut tidak ditujukan untuk tampil urakan atau tak menghargai alat musik yang merupakan nyawa bagi gitaris itu. "Itu penghargaan buat penonton. Mereka sudah mengeluarkan uang untuk menonton. Mereka harus diberi hiburan mata dan telinga. Itu hiburan mata," jelasnya. "Kalaupun konser kami gratis, toh mereka sudah datang dan ikut nyanyi sama-sama," lanjutnya.
Ungkap Roy, gitar yang dibanting itu, yang digunakan hanya di akhir pertunjukan, "KW-nya (kualitasnya-Red) tahu sendiri dong, enggak bagus-bagus amat." Oleh karena itu, harganya juga relatif murah. "Supaya enggak rugi-rugi amat. Soalnya, kalau dibanting, pasti rusak atau bahkan pecah," imbuhnya.
Adalah Roy yang mendapat peran membanting gitar di ujung konser Boomerang, bukan sang gitaris, John Paul Ivan, yang keluar pada 2005, atau Andry, yang menggantikannya sejak 2007.
"Pernah, yang ngebanting gantian, personel-personel lain juga dapat giliran. Tapi, begitu mereka tahu bahwa honor personel yang ngebanting gitar dipotong untuk beli gitar, mereka enggak mau lagi," kenang Roy dibumbui tawa.
Adakah Roy tidak berkeberatan kena pemotongan honor karena honornya lebih besar daripada honor para personel lain Boomerang? "Oh enggak, honor kami sama," tepis Roy, yang bersama rekan-rekan Boomerang-nya kini manggung rata-rata cuma seminggu sekali.
Roy memiliki cara membanting yang tak membuat gitar pecah. "Waktu dibanting ke lantai panggung, gitar harus berdiri, jangan tidur," ungkap Roy. "Itu perlu latihan," imbuh Roy, yang bareng teman-teman Boomerang-nya terakhir merilis album pada 2004, yaitu Urbanoustic.

