

MITOLOGI China mengenal adanya naga sama halnya dengan suku Dayak yang meyakininya sebagai simbol keperkasaan dan keagungan. Apakah karena rumpun proto yang sama sehingga keduanya memiliki mitologi yang sama pula?
Tulisan ini tidak bermaksud menarik akar antropologis antara China dan suku Dayak. Tapi membahas buku foto satwa yang terbit setelah sejumlah fotografer menuntaskan petualangannya dalam sebuah ekspedisi foto dan jurnalistik "shelookRED" di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan Barat.
Hasil ekspedisi memburu ikan naga atau arowana merah (Scleropages formosus), bukan sebagai pemburu liar yang menjaring satwa langka tersebut lalu dijual secara ilegal melainkan menangkapnya menggunakan sensor kamera hingga melahirkan rekaman lestari ikan pesona dalam buku berjudul "Rona Pesona Arowana".
Pasti buku satwa. Membosankan rasanya jika lagi-lagi dijejali dengan imej yang sudah diketahui sejak pelajaran dulu di sekolah dasar.
Masih ingat ketika para murid biologi dengan tabik mendengar penjelasan guru tentang ikan arowana dari sebuah buku satwa. Murid akhirnya tahu bahwa arowana adalah satwa yang menebar pesona sekaligus buas dari teks dalam lembar buku yang disela sedikit foto.
Atau jika foto arowana diperlihatkan, dengan koor orang langsung menyebut ikan dengan sisik yang perak, kuning atau merah merona disertai dua sungut lancip di bibir. Dan tahu persis ikan ini diidamkan sekaligus dimitoskan banyak orang khususnya mereka yang beretnis China.
Akan tetapi ada hal lain yang penting dan menarik karena yang lahir bukan buku teks atau ensikolpedi apalagi sekadar disebut katalog. Melainkan garapan baru yang dicipta benar-benar menjadi buku foto satwa, arowana.
Buku setebal 130 halaman memuat foto-foto karya Eddy Hasby (pewarta foto Harian Kompas), drh Erwan Hendrawan, Ignas Seta Dwiwardhana, Lucky Pransiska (pewarta foto Harian Kompas), Mulkan Salmun, dan Ricky Yudhistira (pewarta foto The Jakarta Post).
Detil puluhan foto arowana merah diturunkan dalam bab pertama dengan judul Pesona Sang Naga. Penempatan foto sengaja keluar dari mainstream tata letak. Pemotongan foto tampak dilakukan secara ekstrem dan ditempel pada sudut yang tidak sama dalam tiap halaman. Inilah yang membedakannya dengan buku satwa lazimnya.
Bagian ini seperti menegaskan, "Lihat bukti pesona ikan asli Indonesia!" Guratan bagian-bagian ikan ditampilkan makro agar terlihat perkasa dengan rona warna pada tiap sisik ikan.
Hanya saja disayangkan, kualitas cetak pada beberapa foto perbesaran ikan di halaman pembuka terlihat sangat sharpen dengan gradasi warna yang tidak alami, nyaris menjadi vektor dalam buku karya desain grafis.
Setelah puas melihat anatomi luar ikan yang adiwarna. Dilanjutkan bab berikutnya masuk ke dunia petualangan menuju habitat sang ikan yaitu di hutan rawa terbesar di Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Selain menampilkan lanskap alam juga diturunkan rekaman budaya suku Dayak.
Sebuah foto seorang suku Dayak yang disebut pemotretnya pawang arowana, dengan punggung dihiasi tato ikan suluk (Sebutan Dayak untuk ikan arowana) tengah menghadap hamparan Sungai Kapuas. Ini adalah foto paling memikat di antara foto lainnya. Bahkan bisa disejajarkan nilainya dengan foto sang ikan naga, untuk saling menguatkan tentang simbol mitologi.
Kedalaman Foto
Mencermati halaman lebih dalam, sekali lagi, benar-benar membuat buku foto satwa ini berbeda. Mata jurnalis menangkap roh hidupan liar. Sang arowana tayang dengan keperkasaannya ketika lompatan demi lompatan ikan ke udara direkam membeku ditingkahi percikan air yang kontras dengan rona sisik.
"Satu jepretan satu moment, kesabaran dan kecepatan ekstra untuk merekam gerakan arowana melompat ke udara untuk mendapatkan mangsa," ungkap Eddy Hasby dalam peluncuran buku ini di Jakarta, Sabtu (23/8) lalu. Gerak lincah arowana dia abadikan di tambak budi daya arowana PT Inti Kapuas Internasional (IKI) di aliran Sungai Kapuas dan Sungai Landak, Pontianak.
Paling berkesan menurutnya ketika harus memotret saat meloloh anakan keluar dari mulut pejantan. Kedalaman gambar sulit diperoleh hanya dengan bermodal cahaya yang terbatas. Namun ketelatenan akhirnya menghasilkan karya foto eksklusif.
Namun para fotografer pun mengakui kelemahan dalam karya mereka. Tak ada satu pun arowana liar di habitat aslinya yang bisa mereka abadikan sebagai masterpiece dalam buku. "Sangat sulit mendapatkannya (arowana liar), butuh waktu sangat lama dan itu pun belum tentu beruntung, kalaupun ada itu kebetulan terperangkap dalam jaring nelayan," terang Lucky Pransiska.
Meskipun muncul pengakuan adanya kelemahan, buku ini tetap edukatif dan menjadi referensi khususnya bagi kaum peduli konservasi. Menjaga ikan naga, siluk merah atau arowana sang merah pesona, berarti menjaga habitat hutan rawa Kalimantan Barat agar tetap terjaga, dan tentu juga menghargai filosofi suku Dayak, seperti dikutip dari Institut Dayakologi: "Aku adalah udang di palung sungai, aku adalah ikan di air, aku adalah binatang di hutan". FIKRIA HIDAYAT

