Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Cinta Mati Happy Salma
Senin, 15 Desember 2008 | 17:05 WIB
|
Share:
KOMPAS ENTERTAINMENT/RAWDHATUL IFADAH
Happy Salma

YOGYAKARTA, SENIN - Artis cantik Happy Salma mengaku makin mencintai dunia sastra. Ia bahkan tak peduli dengan tudingan sejumlah pihak, yang menyebutkan usahanya menjadi penulis lantaran kesepian order di dunia entertainment, yang membesarkan namanya. "Biarin aja deh orang mau bilang apa," tandas Happy saat bertandang ke Jogja, untuk mempromosikan buku terbarunya, Telaga Fatamorgana, belum lama ini.  

Menurut Mojang asal Sukabumi, Jawa Barat ini, apa yang dilakoninya saat ini adalah bagian dari proses pembelajaran untuk bisa terus menghasilkan sebuah karya. "Bagi saya yang terpenting adalah berkarya," katanya.

Dunia Sastra lah, yang diyakini Happy, bisa menjadi jembatan buatnya untuk menumpahkan potensi dirinya itu. Pertemuan dengan mendiang penulis kawakan Pramoedya Ananta Toer, beberapa waktu lalu, menggiringnya makin kesengsem pada dunia sastra. Ibarat orang yang tengah dilanda kasmaran, Happy  merasa sedang dalam puncak romantisme itu.

Bagi bintang pendukung film Gie ini, menekuni dunia sastra, seperti halnya menekuni sebuah dunia baru yang menyimpan ruang-ruang pengetahuan yang luas untuk digali. Inilah yang dijadikannya sebagai kawah candradimuka baginya untuk terus belajar.

Tengok saja, hal itu dibuktikannya dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi sastra di sejumlah kota di Tanah Air. Dengan banyaknya kelompok diskusi sastra tersebut, Happy berharap idenya untuk menulis dapat semakin terpacu.

Bahkan, ia tak begitu peduli dengan kondisi dunia sastra yang disebut-sebut sejumlah praktisi buku, tengah dalam kondisi lesu. "Saya akan terus terus menulis. Bagi saya yang terpenting adalah berkarya," tegasnya.

Telaga Fatamorgana  merupakan buku kumpulan cerpen karya Happy yang kedua. Karya sebelumnya,  berjudul Pulang dirilis pada tahun 2006 silam. Buku  ini berisikan 13 kumpulan cerita pendek, yang  pengerjaannya memakan waktu cukup lama. Kesibukan jadwal syuting yang padat,  menjadi salah satu penyebabnya.  "Buku ini saya kerjakan sekitar  delapan bulan di sela-sela rehat syuting,"  ungkap happy.

Setelah satu bulan dirilis ke pasaran, sejumlah rencana pun tengah dirancangnya.  Salah satunya, dengan menjual karyanya  dalam bentuk e-novel. "Untuk  buku saya yang pertama, banyak juga yang pesan saya via facebook, karena di toko udah kehabisan. Kalau demikian, kadang saya berpikir, kenapa gak dijual lewat online sekalian. Lebih irit transportasi. Hanya saja, bagi saya itu masih terlalu ribet, " ujar Happy. (sulistyawan/EH)