

Laporan wartawan Kompas Antonius Ponco A
MADIUN, KAMIS — Sejumlah sopir angkutan umum di Madiun keberatan jika turunnya harga bensin diikuti dengan turunnya tarif angkutan umum. Pasalnya, jumlah penumpang yang naik angkutan umum semakin sepi dan penurunan harga bensin tidak diikuti turunnya harga suku cadang kendaraan.
Akibatnya, meskipun harga bensin mulai tanggal 15 Januari sudah turun, mereka masih memberlakukan tarif lama. Bahkan, sejak tarif turun dari harga Rp 6.000 per liter sampai sekarang Rp 4.500, mereka belum pernah sekalipun menurunkan tarif angkutan umum.
"Kalau tarif diturunkan, berat bagi sopir. Apalagi sekarang penumpang semakin sepi, sedangkan di sisi lain harga suku cadang angkutan umum malah semakin mahal," ujar Bambang, sopir lyn F (Josenan-Tawangrejo), yang masih memberlakukan tarif Rp 2.500 bagi penumpang umum dan Rp 1.500 bagi pelajar.
Hal senada diungkapkan oleh sopir bus mini jurusan Madiun-Kendal, Ngawi, Wito. Menurutnya, jika tarif angkutan umum diturunkan akan semakin sulit baginya bisa memenuhi target setoran kepada pemilik bus setiap harinya yang besarnya Rp 70.000.
"Dengan kondisi sekarang saja sering kali kami hanya bisa memenuhi target setoran, sehingga kami tidak bisa mendapatkan penghasilan sedikit pun. Bagaimana kalau nanti tarif sampai diturunkan? Bisa-bisa kami ngutang terus," keluh Wito.

