

JAKARTA, RABU — Aksi unjuk rasa yang berlangsung di depan Istana Merdeka Jakarta, Rabu (18/2), untuk menolak Pemilu 2009 sempat diwarnai kerusuhan. Hal ini menyusul penangkapan terhadap sekitar 10 orang peserta aksi oleh aparat kepolisian.
Kelompok massa mahasiswa, yang menyebut diri mereka Laskar Maftuh Fauzi, melakukan aksi dengan longmarch sejak siang tadi dengan melewati rute, antara lain, kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jalan Senen Raya, Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Istana Jakarta.
Saat menjelang tiba di depan Istana Merdeka, tiba-tiba aparat kepolisian melakukan pembubaran paksa dengan menangkap dan melakukan sejumlah aksi kekerasan dengan memukul peserta demonstrasi tersebut. Suasana pun menjadi lebih panas. Beruntung kerusuhan itu tak berlanjut lebih lama.
Ratusan peserta aksi lantas membatalkan niat mereka untuk terus melakukan konvoi. Mereka lalu menuju Jalan Medan Merdeka Barat, dan duduk bersila di badan jalan, tepatnya di depan kantor Departemen Perhubungan. Aksi ini dilakukan untuk menggugat penanggakan atas sejumlah rekan mereka. "Kenapa teman-teman kami ditangkap, padahal bapak-bapak tadi tahu bahwa kami hanya berjalan di depan istana," kata salah satu peserta aksi, Rizki Arsilan, dalam orasinya.
Sebelumnya, massa mahasiswa sempat melakukan aksi orasi di depan Kedutaan Besar AS. Sebab, sesuai dengan tema unjuk rasa yang mereka usung, penolakan pemilu adalah karena pesta demokrasi itu diyakini telah "ditunggangi" oleh kepentingan asing.
Saat ini, aksi duduk di jalan itu telah menyebabkan kemacetan pada ruas jalan Medan Merdeka Barat ke arah Jalan Thamrin. Bahkan, kemacetan pun sudah menular ke arah sebaliknya karena perputaran kendaraan yang hendak berbalik arah juga terhambat oleh aksi ini.

