

KEDIRI, RABU - Puluhan warga Kota Kediri, Jawa Timur, berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota, Rabu (18/2). Mereka menuntut pembatalan rencana pembangunan rumah susun sederhana sewa untuk masyarakat miskin dan buruh pabrik di Kelurahan Dandangan.
Massa yang mengatasnamakan Ikatan Pemuda Kediri beralasan pembangunan rusun tersebut telah mengakibatkan puluhan hektar sawah rusak dan beralih fungsi menjadi permukiman. Padahal sawah itu menjadi sumber utama penghasilan warga.
Massa datang dengan menumpang kendaraan truk bak terbuka. Mereka sebenarnya ingin masuk ke kantor Pemerintah Kota Kediri untuk bertemu Wali Kota Kediri Maschut. Namun, massa dihadang oleh barisan personel polisi dari Polresta Kediri, sehingga mereka akhirnya berorasi di jalan raya.
"Kami menolak dengan tegas pengalihfungsian tanah kas Kelurahan Dandangan berupa sawah menjadi areal pembangunan rusun. Kami tidak menerima negosiasi atau kompensasi dalam bentuk apapun, kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan," ujar Koordinator Aksi Tomi Ari Wibowo.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Kediri Bambang Basuki Hanugerah secara terpisah mengatakan pembangunan rusun merupakan proyek dari pemerintah pusat khususnya Kementerian Perumahan Rakyat. Pemerintah Kota Kediri hanya bertugas menyediakan lahan.
Seharusnya proyek pembangunan rusun dengan konsep twin block dimana setiap bloknya memiliki 94 kamar itu, mulai dikerjakan tahun 2009. Akan tetapi, realisasi proyek ini molor karena terganjal masalah pembebasan lahan.
Warga menolak menjual lahannya yang sebagian besar berupa sawah itu kepada pemerintah. Kalaupun warga mau menjual, mereka minta kompensasi tinggi. Untuk 3,5 hektar lahan yang akan dipakai, warga meminta Rp 6 miliar.

