


JAKARTA, KAMIS - Suciwati, istri mendiang aktivis HAM (Hak Azasi Manusia) Munir kembali berduka. Gara-garanya, konser musik kemanusiaan Tribute To Munir, yang rencananya dihajat di kampus Universitas Indonesia (UI), pada 20 Februari 2009 mendatang, batal digelar. Pihak Rektorat UI secara tiba-tiba menolak digelarnya konser yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Radio RTC UI itu.
"Ini adalah hal yang sangat mengecewakan dan menyedihkan, karena baru kali ini dan pertama kalinya kegiatan kita mendapatkan respon seperti ini. padahal UI adalah ruang pendidikan, yang juga katanya kampus perjuangan," ujar Suciwati, dalam jumpa pers di Kedai Tempo, Jl. Utan Kayu No. 68 H, Jakarta Utara, Kamis (19/2).
Rencananya, konser musik yang digelar untuk mengenang perjuangan Munir itu, akan dimeriahkan sejumlah musisi kenamaan, sebut saja grup band Nidji dan Iwan Fals, penyanyi yang pernah dijuluki Pahlawan Besar Asia oleh Majalah Time itu.
Larangan dari pihak rektor UI tersebut dikeluarkan empat hari menjelang konser digelar. Alasannya, pihak rektorat menilai konser tersebut berbau politik. Ui ingin bersikap netral dalam kasus Munir.
"Saya rasa ini satu kemunduran yang sangat besar apalagi datangnya dari pihak UI. Yang saya heran alasannya hanya karena kesalahan teknis. Kalau alasan politis, saya pikir ini berlebihan karena Kasum dan KBRI mencari celah yang keluar dari masalah politik," ujar Direktur Produksi KBR68 H, Rudi Hendratmoko,
Sementara itu, Anang dari Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), pelarangan tersebut memberi bukti bahwa UI tidak bersikap dewasa. "Sampai saat ini tidak ada surat dari pihak UI dalam melihat kasus Munir. Seharusnya kampus menjadi dinamika yang baik dan bersikap dewasa, tapi di sini pihak Rektorat tidak tegas," ujar Anang. (FIAN/EH)
