


PRODUSER, PENULIS SKENARIO, SUTRADARA: Andibachtiar Yusuf, IDE CERITA: William Shakespeare BINTANG: Sissy Prescillia, Edo Borne, Alex Komang, Epi Kusnandar, Ramon Y Tungka, Norman Akyuwen, EXCECUTIVE PRODUSER: Lucki L Hakim, Jonathan Foo, Joshua Hong, MUSIK:Ananda Sukarlan
Kisah cinta Romeo-Juliet yang melegenda karya klasik William Shakespeare itu, kini hadir dalam denyut fanatisme suporter sepakbola Indonesia. Sutradara Andibachtiar Yusuf menghadirkannya lewat Romeo & Juliet. Sebuah cer ita yang membumi, dengan pendekatan sentimentil perseteruan antara para pendukung fanatisme dua kesebelasan sepakbola di Tanah Air: Jakmania dan Viking. Inilah pilihan yang sulit untuk dipilih cinta versus cinta.
Seperti dituturkan Andibachtiar, penulis naskah dan sutradara film ini, “Fanatisme telah hidup dalam diri para suporter berlandaskan berbagai motif, baik yang rasional maupun yang di luar nalar. Mereka bahkan rela mati demi klub kesayangannya.”ujarnya.
Kisah inilah yang terekam lewat fanatisme suporter bola di Indonesia. Kekecewaan dan kekalahan tim kesayangannya selalu saja menyulut aksi kekerasan dan bentrok antarpendukung. Tak hanya di negara lain, peristiwa pun kerap terjadi di negeri ini, negeri yang prestasi tim sepakbola nasionalnya tak beranjak dari kerusuhan dan bentrok antar suporter bola di hampir setiap pertandingan.
Meski sepakbola identik dengan laki-laki, namun faktanya ribuan suporter fanatik adalah juga kaum perempuan. Pendukung Persija Jakarta memberi nama para suporter perempuan mereka dengan nama Jak-Angel, sedangkan Persib Bandung memilih nama Lady Vikers. Pada titik inilah cerita dalam film Romeo-Juliet yang diproduksi oleh Bogalakon Pictures ini menemukan rentetan konflik.
Yusuf yang sebelumnya membesut film The Conductors yang meraih penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008, mengaku terinspirasi oleh fenomena tersebut. Menariknya, ia juga menemui banyak cerita cinta di kalangan suporter yang berakhir sedih, karena menjalin percintaan dengan suporter klub musuh. Dalam sudut pandang para suporter, jatuh cinta atau bahkan merajut tali kasih dengan suporter klub musuh merupakan hal yang haram.
Rangga (Edo Borne) adalah seorang Jakmania yang jatuh cinta pada Desi (Sissy Prescillia), seorang Lady Vikers. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat terjadi bentrokan berdarah antara Jakmania versus Viking. Rangga memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk bertemu Desi. Bagi kawan-kawan dekatnya, kepergian Rangga ke Bandung seperti layaknya menyetorkan nyawa pada Viking. Rangga pun dicap sebagai pengkhianat oleh para Jakmania. Sedangkan Desi mengalami penolakan keras tatkala keluarganya tahu bahwa ia menjalin kasih dengan seorang Jakmania. Apalagi Parman (Alex Komang), kakak Desi yang juga pemimpin supporter viking.
Film ini menceritakan perseteruan antara Jakmania Jakarta dan Viking Bandung, yang memang memiliki historis permusuhan yang hebat. Hubungan cinta Rangga dan Desi ditentang oleh kedua pihak, Jakmania dan Viking. Mereka memutuskan untuk lari ke tempat yang aman dari permusuhan ini. Kota Malang menjadi tujuan mereka, karena pada kenyataannya memang Aremania, pendukung Klub Arema, tidak bermasalah dengan Jakmania maupun Viking. Namun dua sejoli ini tetap dikejar untuk dipisahkan oleh para Viking.
Dengan kebesaran cinta yang dimiliki oleh rangga terhadap Desi, Rangga pun mendatangi rumah Desi untuk melamarnya. Namun hal itu ditolaknya oleh Parman, kakak Desi. Tidak sampai di situ, akhirnya Desi pun melarikan diri dari rumah untuk bertemu dengan Rangga dan menikah di Jakarta. Lagi-lagi mereka dipisahkan dan bertemu kembali saat supporter viking menyaksikan tim kesayangannya. Rangga yang sangat menyayangi istrinya mendatanginya di antara ribuan viking. Sebuah pilihan yang tak bisa dielakkan. (FIAN)

