


JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, empat vokalis dari latar belakang dan warna musik berbeda bisa bergabung dalam satu band dan memberi warna musik yang berbeda.
The Dance Company, grup baru yang berdiri dengan tujuan sekadar bersenang-senang. Kuartet itu diisi oleh Nugie (Mbot) pada drum, Pongki Barata (Wega) dengan bas, Baim (Bebe) pada gitar, dan Ariyo Wahab (Riyo) pada vokal. Dalam band tersebut mereka menggunakan nama kecil mereka.
Hubungan keempat vokalis itu tak hanya sebatas teman. Di luar aktivitas masing-masing, mereka kerap menyempatkan waktu untuk bermain musik bersama. Dari situlah mereka mulai mencipta lagu bersama dan berebut posisi untuk memegang alat musik.
Ditemui di Wisma Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (5/5), dalam pembuatan klip video single pertama The Dance Company, Papa Rock n Roll, Pongki, yang juga vokalis grup Jikustik, mengungkapkan bahwa gagasan membentuk band muncul ketika mereka mengikuti KTT ASEAN mengenai perubahan iklim di Bali. "Kami di sana empat hari. Waktu mau pulang, di atas bus sudah ada rencana bikin band," cerita Pongki. Lanjutnya, mereka berjalan atas restu para istri.
Nama band tersebut, terang Pongki, diambil dari nama sebuah toko di Bali. "Waktu itu kami pergi ke sebuah toko yang namanya The Dance Company. Terus, saya bilang ke teman-teman, lucu juga nih kalau dijadiin nama band kita," kisah suami dari Sophie Navita, pembawa acara yang juga menyanyi.
The Dance Company lahir tanpa tujuan meraih keuntungan materi. "Kami menyesal, dulu membentuk band dengan tujuan supaya laku. Sekarang, kami pengin cari fun aja dan enggak nyari keuntungan," terang Pongki lagi.
Tak hanya itu, grup tersebut dibentuk dengan maksud mengajak para artis musik yang berasal dari segala aliran dan sudah melupakan kesenangan dalam bermusik untuk memadukan musik para artis musik itu dengan empat warna vokal dari Pongki dan kawan-kawan tanpa batasan. "Genre musik kami bermacam-macam aliran mulai disko, jazz, dan rock n' roll. Jadi, kami enggak membatasi diri dalam berekspresi," tutur Pongki. "Justru yang membatasi itu istri kami," candanya.
Proses pemilihan posisi untuk setiap personel The Dance Company boleh dibilang unik karena semua berprofesi sebagai vokalis. Ariyo terpilih sebagai vokalis setelah melalui voting oleh para istri. "Atas dasar restu istri kami, akhirnya dipilihlah Ariyo. Soalnya, kata mereka, dia ganteng," ungkap Pongki.
Menanggapi Pongki, Ariyo menambahkan, tugas Pongki dan Nugie yang paling berat. Pasalnya, keduanya harus memegang alat musik yang tak biasa bagi mereka. Lain halnya dengan Baim. Ia penuh percaya diri menjadi gitaris karena biasa bergitar sambil bernyanyi.
Para personel The Dance Company, grup yang berangan-angan ingin seperti Jon Bon Jovi, rock star yang sayang istri, menjanjikan musik segar di tengah derasnya pop Melayu. "Sekarang ini lagi banyak band Melayu. Karena itu, kami mau kasih penyegaran dengan lagu-lagu dance," ujar Nugie.
Meski band itu terkesan mencari kesenangan saja, nyatanya, Nugie, vokalis yang terkenal dengan lagu-lagu tentang alam, menampik bahwa ia dan teman-temannya hanya akan ada sampai kesenangan mereka sudah habis. "Sampai bosan, ya sudah, kami bubar. Yang penting, The Dance Company akan tetap ada selama ada kesenangan. Tapi, proyek band ini tetap digarap serius. Pokoknya, lihat saja deh bagaimana nanti kami ngebawain lagu ini," ucapnya. (C7-09/ATI)
