Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
"Dunia Baru" dr Bram
Kamis, 28 Mei 2009 | 16:50 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Inilah album karya seorang dokter kandungan, dr Bramundito Abdurrahim, singkatnya dr Bram, yang menghadirkan  musik jazzy bernuansa 1980-an. Dunia Baru, judul album itu. 

Sebanyak 12 lagu, yang diciptanya dalam rentang waktu 2001 hingga 2007, disajikannya dengan balutan aransemen musik yang easy listening dan segar. Sentuhan jazz fusion dari era 1980-an terasa betul di setiap lagu yang dibawakannya. 
 
Dr. Bram tak menampik bahwa band-band yang berjaya di kala itu, yang kental dengan jazz fusion, seperti Karimata dan Emerald, memberi pengaruh kuat kepada proses berkaryanya. "Dunia Baru sedikit lebih nge-jazz. Sementara itu, (lagu-lagu) yang lainnya lebih ke smooth jazz," katanya ketika  ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Lewat album yang ia beri nama Dr. Bram Project itu, ia tak sedang merintis karier sebagai penyanyi. Ia mengaku hanya sebagai pecinta musik yang gemar mencipta lagu. Maka, tak heran, jika pemain bas band The Doctors ini menggaet sejumlah pemusik dan penyanyi ternama. "Saya tidak bisa menyanyi, hanya senang dengerin lagu dan akhirnya senang bikin lagu," ucapnya.

Nama-nama seperti aranjer Andy Bayou, Tohpati (gitar), Ade Hamzah (bas), Idham Noorsaid (trompet), hingga Yudhis GVG, termasuk dalam barisan pemusik yang turut memperkuat album Dunia Baru. Sementara itu, di deretan pernyanyi, lagu-lagu ciptaannya dipercayakan kepada Tompi, Ivan Nestorman, Netta KD, Eka Meilianawati, dan Matthew Sayersz.
 
Melalui single Dunia Baru, yang menjadi judul untuk albumnya, dr. Bram memberi ruang bagi para pemusik untuk mengeksplorasi kemampuan mereka melalui sajian instrumental. Ia juga memberi ruang kepada para pemusik untuk mewarnai 12 lagu yang dibuatnya tanpa menghilangkan identitas karyanya.

Tohpati, misalnya, memberi sentuhan lewat lagu-lagu Lama Kunanti dan Cerita Semata, yang dibawakan oleh Matthew Sayersz.  Sementara itu, Yudhis GVG untuk lagu Jangan Harap, Andaikan, dan Bencana, yang disuguhkan Tompi.
 
Pada lagu Jangan Berharap, Yudhis mencoba menawarkan suasana riang sekaligus santai. Hal ini berbeda dengan lagu Bencana, ketika Yudhis menghadirkan suasana yang terasa dramatis, terlebih dengan memasukkan unsur musik Aceh di dalamnya. Pemilihan Tompi pun terasa pas di lagu tersebut, mengingat lagu Bencana dicipta dr Bram dalam menggambarkan suasana batinnya ketika bencana tsunami menerjang sejumlah wilayah di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang juga tanah kelahiran Tompi.   

Hal lain yang juga cukup menarik dari album ini boleh jadi adalah keterlibatan penyanyi asal Flores Ivan Nestorman, yang biasa membawakan lagu-lagu berbahasa kampung halamannya. Ivan, yang hadir lewat empat single, yakni Bersemi di Bali, Tak Akan Ada Lagi Cinta, Tak Terbingkai, dan Gulana.
 
''Ini tantangan buat saya, karena biasanya saya bernyanyi dengan lirik berbahasa Flores. Tetapi, sekarang saya justru dicoba untuk bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Ini sungguh pengalaman yang baru buat saya,'' ujar pria berambut gimbal ini, yang mengaku merasa dapat feel-nya saat membawakan lagu Gulana.

Diakui dr Bram, atas Dunia Baru, yang dirilisnya sejak November lalu, ia tidak terlalu berkeinginan muluk-muluk. "Saya hanya ingin menjadikan album ini sebagai bagian dari musik Indonesia," ujar Bram, yang bersama bandnya, The Doctors, beberapa kali memeriahkan hajatan JavaJazz dan
JakJazz ini. (Eko Hendrawan Sofyan)