Kamis, 27 November 2014
"Termehek-Mehek" Bohongi Penonton
Kamis, 11 Juni 2009 | 16:59 WIB
|
Share:

BATAM, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Fetty Fajriati Misbach mengatakan, program televisi Termehek-mehek (Trans TV) membohongi penonton karena tidak seluruh tayangan berdasarkan realitas.
   
"Mereka bilang itu reality show, padahal bukan. Itu membohongi masyarakat," kata dia seusai sosialisasi hasil pemantauan KPI di Batam, Kamis (11/6).
   
Menurut dia, tayangan Termehek-mehek tidak sepenuhnya kisah nyata karena telah dibumbui skenario yang didramatisir. Jadi, sudah seharusnya, tim program Termehek-mehek jujur dengan menyebut Termehek-mehek sebagai drama reality, bukan reality show. Demikian dijelaskannya.
   
"Selain itu, pemberitahuan di akhir acara yang kira-kira berbunyi, 'Tayangan ini telah mendapatkan persetujuan semua pihak yang terlibat,' juga bukti pembohongan," kata Fetty. "Dengan tulisan itu, seolah-olah ini tayangan nyata," kata dia.
   
Di tempat yang sama, Panca, perwakilan Trans Coorporation mengakui, Termehek-mehek tidak murni kisah nyata, melainkan drama reality. "Dari awal, kita maunya drama reality, tetapi AC Nielsen tidak memiliki genre itu," kata dia. 
   
Sementara itu, Wakil Ketua KPI Daerah Kepulauan Riau Aulia Indriaty mengatakan perbedaan antara reality show dan drama reality pada fakta. "Reality show masuk dalam tayangan non-fiksi, sedangkan drama reality masuk pada fiksi," kata dia.
   
Pada drama reality, kata dia, sebuah kenyataan bisa didramatisasi sehingga menghibur. Adapun tayangan non-fiksi harus murni kenyataan, tanpa rekayasa. "Reality show tanpa skenario, drama reality dijalankan sesuai naskah," kata dia. (ANT/EH)