Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
The Dance Company Bikin Album Tanpa Bayaran Uang
Rabu, 17 Juni 2009 | 22:21 WIB
|
Share:
KOMPAS ENTERTAINMENT/IRFAN MAULLANA
The Dance Company (ki-ka): Pongki, Ariyo, Nugie, dan Baim.

JAKARTA, KOMPAS.com - Papa ga pulang beibeh/Papa ga pulang/Papa ga bawa uang beibeh/Ga bawa uang... Sepotong lirik single pertama, Papa Rock n' Roll, ini ada dalam album perdana The Dance Company, yang telah diproduksi dan baru masuk ke pasar musik Tanah Air tanpa surat kontrak dengan perusahaan rekaman yang mengedarkan album mereka.

"Kami enggak dibayar. Beaya kontrak kami enggak dibayar pakai duit, tapi pakai barang. Belum tahu barangnya apa. Kami enggak perlu duit dari Nagaswara, tapi dari masyarakat," canda Pongki (bas) menggambarkan ikatan kepercayaan antara ia dan kawan-kawan The Dance Company-nya--yang terdiri dari Ariyo Wahab (vokal), Baim (gitar), dan Nugie (drum)--dengan perusahaan rekaman Nagaswara.

Walau tidak ada surat kontrak, The Dance Company, yang menaungi empat lelaki yang selama ini terkenal sebagai vokalis itu, tetap mendapat royalti atas karya mereka dalam album tersebut. Begitu kata Pongki lagi dalam acara peluncuran album tersebut di Jakarta, Rabu (17/6).

Dengan empat personel berlatar aliran musik yang berbeda, The Dance Company ingin membuat gebrakan berbeda untuk musik Indonesia. "Di sini, di dunia showbiz, semua butuh hiburan. Kalau biasa saja, enggak ada yang menarik. Kami bukan cuma untuk meramaikan industri musik, industri musik sudah ramai kok. Kami mau berikan yang terbaik dan berbeda," jelas Pongki.

Untuk keseriusan dan keunikan band baru ini, semua personel yang berganti nama dan melakukan komitmen yang besar. Riyo (Ariyo Wahab) rela membatalkan kontrak main dalam FTV sebanyak empat kali dan tidak hadir pada pemutaran perdana filmnya. Bebe (Baim) rela berpindah dari karier solonya. Wega (Pongki) tetap meluangkan waktu kendati sibuk dengan band asalnya, Jikustik. Mbot (Nugie) menunda kontrak album solonya dan mengambil sebagian waktu yang biasa disediakannya untuk aktivitas lingkungan hidup.

Band ini diawali dengan pertemuan mereka dalam sebuah kegiatan lingkungan hidup mengenai perubahan iklim di Bali, 2007. Dari situ muncul ide untuk membuat sesuatu bersama. Nama The Dance Company sendiri didapat dari nama toko Dance Company di Bali, yang menurut mereka memiliki makna teman berdansa atau teman untuk bersenang-senang seperti persahabatan mereka.

Mereka ingin mencipta lagu untuk bersenang-senang. Maka dari itu, tema yang mereka bawa dalam band ini adalah Bring Fun to the Band. "Fun dulu. Nyari duit nanti," tegas Pongki.

Aliran yang mereka bawa adalah rock n' roll. "Rock n’ roll itu fun-nya tinggi. Berapa banyak orang yang mau ninggalin kontrak film, solo kariernya, bandnya, aktivitas lingkungan hidupnya. Berapa banyak orang yang mau pasang tarif di media. Berapa banyak orang yang mau dibayar pakai barang. Cuma kami. Rock n’ roll itu ketika kita dapat duit, kita beliin tas buat istri. Karena rock n' roll itu the real life," papar Pongki.

Mereka dengan jujur mengatakan tarif manggung mereka Rp50 juta. Hingga Agustus mendatang, jadwal main mereka sudah padat.

Mereka mengaku, The Beatles dan Bon Jovi merupakan sumber inspirasi mereka. Mereka juga mengaku, seperti lirik lagu Papa Rock n' Roll, bahwa mereka band yang sayang istri layaknya Bon Jovi.

Penandatanganan kontrak dan pembayaran mereka akhirnya dilakukan juga pada akhir acara  peluncuran album itu. Sebuah smart phone terkenal untuk setiap personel  menjadi bayaran mereka. Papa-papa tersebut pun pulang membawa smart phone tersebut. (M2-09)