Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
RIP: Tanpa Patokan Standar, tapi Tetap Rock
Jumat, 19 Juni 2009 | 18:27 WIB
|
Share:
DOK. KOMPAS ENTERTAINMENT

JAKARTA, KOMPAS.com — Lewat album berjudul Release is Peace (RIP) ini, Getah seperti ingin meyakinkan bahwa kehadiran mereka kali ini memang benar-benar berbeda. Pun, seolah ingin meyakinkan bahwa tidak ada patokan standar untuk sebuah komposisi dan aransemen musik rock yang mereka mainkan.

Simak "Revolusi dalam Hati", misalnya. Ketukan drum dan bas di lagu ini memang bukan ketukan "standar" musik rock yang biasa dimainkan Getah. Jalinan nada-nada yang keluar dari gitar pun terlalu bening, tetapi tegas dan penuh distorsi yang menimbulkan efek-efek orkestrasi. Lagu ini seolah merupakan deskripsi atas sekumpulan manusia yang terkungkung dalam kamar tertutup yang luas, gelap, absurd, tetapi riuh dalam gema suara yang berputar-putar di dalamnya.

Awalnya agak ragu mengatakan bahwa musik di lagu ini "lari" ke arah rock progresif. Namun, nyatanya, memang betul begitu. Apalagi setelah tahu bahwa khusus untuk lagu ini Getah menggandeng Iwan Hasan dari band Discus. Semakin jelaslah, latar musik ini sangat kental dengan racikan irama rock progresifnya.

Meskipun begitu, tidak tampak kesan terlalu "aneh". Seperti sembilan nomor lagu lainnya, lagu ini tidak terlalu berat untuk dinikmati. Boleh jadi, hal tersebut disebabkan oleh kemasan soft dari tarikan vokal Syaharani, yang masuk sebagai latar vokal Oddie Octaviadi.

Dibuka dengan "Parasit Hati", album ini langsung menyodok perhatian dengan tetap menyajikan ciri mereka sebenarnya—gothic rock nan "gelap pekat". Dari semua lini, baik itu gitar, bas, drum, dan vokal, lagu ini terdengar powerfull. Oddie Octaviadi (vokal), Peter St John (gitar), Marcel Marcive (bas), dan Richrad Mutter (drum) betul-betul menggeber, sangat enerjik!

Sebaliknya, di lagu berikutnya, "Kembali Putih atau Tabula Rasa", Getah menawarkan tempo lambat. Namun begitu, lagu ini mampu menyihir telinga yang sensitif dengan sayatan gitar Peter yang dingin tetapi sangat penuh penghayatan.

Lain halnya di Release is Peace. Di lagu ini justru bas dan drum yang mengambil peranan untuk menyetir bergulirnya lagu. Alhasil, berisiknya Getah di lagu ini sejenak terkesan "santun". Karena memang, kali ini Peter begitu apik memainkan instrumennya dengan nuansa bunyi yang jernih tanpa kebisingan.

Secara keseluruhan, siapa pun akan puas mendengar permainan Getah dalam album kedua mereka ini. Album yang sangat variatif ini mampu memainkan emosi lewat cara mereka mengawinkan beberapa nomor enerjik dengan nomor-nomor bertempo lambat.

Nah, akankah album ini mampu menyamai bahkan menandingi kesuksesan mereka13 tahun lalu lewat debut album pertama, Getah? Beberapa lagu selanjutnya—"Segitiga Bermimpi", "Sepi", "1.000 Tahun" (featuring Ricky Siahaan/Seringai), "Menggapai Surga", "Salvation", "Karam", serta "Release is Peace" (English piano version)—mungkin akan membantu anda menjawab pertanyaan itu. Sebab, kendatipun 13 tahun kesuksesan perdana tersebut telah berlalu, Getah berupaya tetap mengusung rock dengan semangat yang luar biasa seperti saat  band itu dibentuk. (M Latief)