


JAKARTA, KOMPAS,com - Di tengah gempuran grup-grup band "menye-menye", band cadas semacam Boomerang tetap saja mendapat tempat di hati penikmat musik Indonesia.
Kehadiran Boomerang di Jakarta Fair Kemayoran 2009 (JFK 2009) atau Pekan Raya Jakarta 2009 (PRJ 2009), Kamis (2/7) malam, menjadi bukti. Grup yang digawangi Roy Jeconiah (vokal), Hubert Henry Limahelu (bas), Farid Martin (drum), dan Andry Franzzy (gitar), disambut antusias oleh para penonton, tak terkecuali Boomers--sebutan untuk para penggemar grup asal Surabaya itu.
Sebanyak 12 lagu disuguhkan oleh Boomerang dalam pementasan tersebut. "Kita akan bawakan enam lagu dari album baru, Suara Jalanan, dan enam lainnya dari album terdahulu," terang Roy saat ditemui sebelum naik ke atas panggung.
Suara Jalanan, Seumur Hidupku, Aurora, dan Cicak bin Kadal merupakan sebagian dari lagu-lagu baru yang mereka bawakan. Gebukan drum Farid yang rancak diimbangi betotan bas Hubert dan raungan gitar Andry benar-benar memanaskan para penonton di area panggung utama yang nyaris tak menyisakan ruang kosong. Roy, dengan suaranya yang khas, tampil dengan stamina yang tetap terjaga dari awal hingga akhir. Suara Jalanan, yang menjadi lagu jagoan dari album terbaru, yang dirilis Maret lalu, boleh saja dibilang lagu baru. Namun, ternyata, lagu tersebut sudah begitu akrab di telinga Boomers.
Berkali-kali koor di deretan penonton terdengar kencang, mengikuti lagu yang dibawakan Roy. Sungguh sebuah pertunjukan yang hangat, meski tanpa kehilangan kegarangan. Ya, para penonton begitu bersemangat berjingkrak-jingkrak merespon lagu-lagu cadas yang dibawakan oleh Boomerang.
Menengok jejak penampilan Boomerang di Jakarta Fair, tahun ini menjadi tahun keenam bagi mereka turut memberi hiburan di sana. "Sudah enam tahun berturut-turut kami ikut ngisi di PRJ. Tahun lalu, malah kami kebagian manggung sampai tiga kali. Tahun ini cuma kebagian sekali," kata Roy.
Meski begitu, Roy cs tak merasa sedih. Diakui oleh Hubert, publik masih ingat bahwa negeri ini masih memiliki band-band semacam Boomerang. "Kami masih punya Boomers yang masih memberi support kepada kami. Ada pihak sponsor yang masih percaya sama kami, sehingga masih ada panggung buat kami," tuturnya.
Diakui Roy, saat ini panggung musik memang tengah dirayakan grup-grup yang kemelayu-melayuan. Walau begitu, mereka tak iri hati. "Ini mungkin masa kejayaan mereka. Ke depan rock juga akan menemukan kejayaannya kembali. Roda akan terus berputar. Jadi, enggak harus membuat lagu dengan mengikuti pasar seperti sekarang," paparnya.
Bagi Boomerang, lanjut Roy, masih bisa menghasilkan karya dalam industri musik Tanah Air saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri. "Album ini (Suara Jalanan) bisa menjadi bukti bahwa kami masih eksis," ucapnya.
Tahun ini, kembali ke Logiss Records, setelah pernah bergabung dengan Sony-BMG Music Indonesia dan mengakhiri kerja sama mereka pada akhir 2008, Boomerang berancang-ancang
menyusun sebuah rencana besar. "Selain terus promo album baru Boomerang, kami juga bersiap membantu Log Zhelebour untuk menggapai mimpinya kembali, untuk musik rock bisa menemukan kejayaannya lagi. Dia sih punya mimpi menggelar tur di 100 kota. Kita lihat saja habis Lebaran nanti," tuntas Roy. (EH)

