Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Film Dokumenter Juga Terkena Getah Kerusuhan
Kamis, 16 Juli 2009 | 10:40 WIB
|
Share:
Rebiya Kadeer, Ketua Kongres Uighur Dunia yang berbasis di AS, yang dituduh China mendalangi kerusuh

MELBOURNE, KOMPAS.com — Pemerintah China diberitakan tengah mencoba menghentikan rencana pemutaran film dokumenter tentang seorang aktivis Uighur pada Festival Film Internasional Melbourne.

Tuduhan itu datang di tengah gencarnya aparat keamanan China mengatasi dampak kerusuhan yang melibatkan minoritas Uighur di Provinsi Xinjiang. Juga di tengah ketegangan hubungan antara Beijing (China) dan Canberra (Australia), menyangkut penahanan seorang eksekutif perusahaan pertambangan berkebangsaan Australia, yang dituduh melakukan mata-mata industri.

Direktur Festival Film Internasional Melbourne Richard Moore mengatakan, seorang pejabat dari Konsulat China meneleponnya Jumat pekan lalu. Pejabat itu mendesaknya untuk menarik film dokumenter Ten Conditions of Love karya Jeff Daniels dari Melbourne, sebelum pemutaran perdananya pada 8 Agustus mendatang.

Film itu mengenai Rebiya Kadeer, Ketua Kongres Uighur Dunia yang berbasis di AS, yang dituduh China mendalangi kerusuhan bulan ini di Xinjiang.

Telepon itu, kata Moore, datang dari Atase Kebudayaan China di Melbourne yang baru, Chunmei Chen.

Pejabat konsulat itu, menurut Moore, mengatakan, semestinya Festival Film Internasional Melbourne tidak memutar film tersebut karena Kadeer yang ditokohkan dalam film itu seorang kriminal. Diplomat China itu juga mengimbau panitia membatalkan kunjungan promosi oleh aktivis Uighur itu bulan depan.

”Dia katakan, ’saya mendesak Anda untuk menarik film itu dari festival’,” kata Moore kepada radio ABC mengenai telepon dari pejabat Konsulat China itu.

”Saya katakan saya tidak punya alasan menarik film itu dari festival. Kemudian dia mengatakan kepada saya bahwa saya harus memberi alasan memasukkan film itu dalam festival.”

”Ketika saya katakan bahwa saya tidak harus memberi alasan dimasukkannya film itu, kemudian dengan sopan dia menutup telepon.” Insiden itu menarik perhatian media di Australia.

Film itu mengungkapkan hubungan tokoh Uighur Rebiya Kadeer dengan suaminya, Sidik Rouzi, yang seorang aktivis. Film ini juga mengungkap pertengkaran Rebiya dengan 11 anaknya mengenai perjuangannya untuk mendapatkan otonomi yang lebih besar bagi orang Uighur Muslim di China yang jumlahnya 10 juta jiwa. Tiga anaknya telah dipenjara di China.

Pihak berwenang China telah menuduh Rebiya mendalangi kerusuhan berdarah di Xinjiang, provinsi asal orang Uighur. Kerusuhan itu antara orang Uighur yang sebagian besar Muslim dan pendatang Han yang kini justru menjadi mayoritas penduduk Provinsi Xinjiang.

Kadeer, mantan wanita pengusaha berusia 62 tahun, pernah melewatkan enam tahun dalam penjara China sebelum dia dibebaskan tahun 2005 atas tekanan AS. Wanita yang tinggal di Virginia Utara, AS, ini menyangkal tuduhan bahwa ia ada di balik kerusuhan yang menewaskan 192 orang itu. Rebiya pernah ditangkap tahun 1999 dan dinyatakan bersalah ”memberikan informasi rahasia kepada orang asing”.

Hari Selasa, Rebiya juga menepis tuduhan bahwa dirinya dibantu Al Qaeda. Ia bahkan mengecam ancaman kelompok itu untuk menyerang kepentingan China sebagai pembalasan atas tewasnya orang Muslim Uighur.

Rebiya, perempuan yang menjadi ketua Kongres Uighur Dunia yang berbasis di Washington, mengatakan menentang penggunaan kekerasan dalam perjuangannya untuk mendapatkan hak-hak yang lebih besar bagi kelompok etnis itu di Xinjiang.

”Saya tidak percaya kekerasan adalah sebuah solusi bagi masalah apa pun,” katanya.

”Dan teroris global seharusnya tidak memanfaatkan aspirasi sah rakyat Uighur dan tragedi yang sekarang terjadi di Turkestan Timur untuk melakukan tindakan terorisme atas warga sipil China,” katanya. Orang Uighur umumnya penganut Islam moderat yang dipengaruhi ilmu tasawuf sufi. (AFP/Reuters/DI)