


DENPASAR, KOMPAS.com — Kegiatan shooting film Eat, Pray, Love (EPL) yang dibintangi aktris Hollywood, Julia Roberts, selama empat hari di Pantai Padang-padang, Pecatu, kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, rupanya mendatangkan berkah buat penduduk setempat.
I Made Rediana, misalnya, pak guru yang menyambi sebagai nelayan musiman, mengaku mendapatkan uang sebesar Rp 20 juta setelah terlibat sebagai pemain figuran selama empat hari. "Kelompok nelayan di pesisir Labuan Sait senang mendapat kompensasi cukup serta pelayanan yang memuaskan saat terlibat dalam pembuatan film ini," kata Rediana, guru SD Nomor 6 Pecatu yang juga tergabung dalam kelompok nelayan di Labuan Sait, tempat pengambilan gambar film EPL.
Padahal, kata bapak satu anak ini, keterlibatannya dalam film itu tergolong "sepele". Ia bersama teman-temannya hanya diminta melakoni kegiatannya sehari-hari sebagai seorang nelayan. Selama empat hari, sebanyak 19 jukung (perahu) milik nelayan disewa dengan nilai kontrak Rp 10 juta. Angka ini belum termasuk jika jukung dilepaskan ke laut atau hanya bersandar di darat.
Menurut Rediana, jukung yang dilepaskan ke tengah laut mendapatkan kompensasi Rp 1,5 juta per hari, sedangkan yang disandarkan di pasir saja hanya Rp 500.000 per hari. "Jukung yang dilepaskan di tengah laut ada sembilan dengan diterangi lampu petromaks dan genset untuk menyalakan lampu-lampu yang sudah dipasang," kata dia.
Saat pengambilan gambar, Rediana dan kawan-kawan mempersiapkan jukung yang akan dipakai sejak pukul 13.00 Wita dan akan dipakai pada pukul 19.00-05.00 Wita. Adegan yang dilakukannya yaitu berendam di laut sembari memegang jukung agar tetap pada posisinya saat ombak laut datang.
Uang honor dan kompensasi itu sendiri, katanya, akan digunakan Rediana untuk membangun rumah yang belum selesai serta membiayai hidup sehari-hari.
Selama terlibat shooting, Rediana mengaku jadwal mengajarnya tidak terganggu karena bertepatan dengan masa libur sekolah selama dua pekan, yakni saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Dia mengakui adanya pro-kontra dan masalah kecil terkait nilai bayaran yang diberikan pihak produser film EPL. "Itu semua hanya masalah kecil dan sudah bisa diatasi karena pasti ada masyarakat yang puas dan tidak puas," katanya.
Rediana berharap bahwa ke depannya akan ada lagi kegiatan pengambilan gambar seperti ini yang melibatkan masyarakat. Dengan perkembangan pariwisata yang bagus, orang-orang seperti dia diuntungkan secara langsung di luar kegiatan sebagai petani dan nelayan yang merupakan pekerjaan musiman. (EH)

