Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Si "Boneka dari India" Itu Telah Berpulang
Selasa, 3 November 2009 | 07:53 WIB
|
Share:
Dok. Remaco

JAKARTA, KOMPAS.com Duka kembali menyelimuti panggung hiburan Tanah Air, setelah pelantun "Boneka dari India" yang juga aktris tenar di zamannya, Ellya Khadam, wafat pada Senin (2/11) sekitar pukul 20.00 kediamannya di Jl Kayu Manis II, No 5, Kompleks Pertanian, Citayam, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Denny, cucu Ellya yang selama ini merawatnya, sang nenek mengidap penyakit diabetes. "Kemarin gula darahnya mencapai 237," terang Denny saat dihubungi, Selasa.

Kepergian Ellya tentu saja membuat kehilangan putri terbaiknya yang pernah memberi warna dalam dunia hiburan Tanah Air. Nama Ellya Khadam memang tak bisa dilupakan dari sejarah kehadiran musik Melayu dan dangdut.

Kehadiran di jagat musik pada zamannya terbilang sangat fenomenal. Penulis Dharmo Budi Suseno dalam bukunya Dangdut Musik Rakyat terbitan Kreasi Wacana, Yogyakarta, Januari 2005, menegaskan hal itu. Penyanyi asli Betawi inilah yang memperkenalkan musik dangdut untuk pertama kalinya.

Dharmo menyebutkan, lagu "Boneka dari India" yang dibawakannya itulah yang dianggap pantas untuk ditunjuk sebagai lagu dangdut pertama sekalipun istilah dangdut belum pernah digunakan di era tahun 50-an, ketika musik Melayu masih merajai saat itu.
    
Dalam buku setebal 176 halaman itu, Dharmo menuliskan, kehadiran penyanyi muda bernama Ellya mampu mencuri perhatian banyak orang pada saat itu.

Dari tengah Kota Jakarta, Ellya melantunkan sebuah lagu "Boneka dari India". Daun kalender saat itu menunjuk angka tahun 1956. Publik tergetar. Tergoda oleh sensualitas dan dinamisme yang unik dalam musiknya, serta penampilannya yang mendebarkan saat membawakan lagu yang diciptakan oleh Husein Bawafie itu. Irama dan tekstur bunyi baru (khususnya suara yang ditimbulkan gendang Indonesia, Arab, India, suling, dan sitar) yang sebagian besar diambil dari film-film India yang ketika itu membanjiri Indonesia, tetapi dengan tetap menaruh setia pada irama Melayu. Lantas, seperti dapat diduga, Ellya pun masuk dunia film dan selama beberapa tahun membeludaklah pengikut
musik Melayu yang kemudian sohor sebagai dangdut.

Saat itu dangdut kurang menarik hati orang-orang terpelajar, tetapi basis pengikutnya yang luar biasa luas di kalangan masyarakat kelas bawah telah mengundang banyak orang untuk memperbincangkannya.

Tidak habis-habis orang mempertanyakan bagaimana mungkin dangdut bisa begitu fenomenal. Ia gencar dipertunjukkan dalam media televisi dan radio serta melalui pertunjukan-pertunjukan langsung di panggung-panggung terbuka yang merangsang masyarakat umum, bahkan anak-anak dan kalangan remaja, untuk menjadikannya sebagai pilihan saluran ekspresi.
     
Kehadiran lagu "Boneka dari India" yang dinyanyikan Ellya Khadam benar-benar telah menghipnotis, melampaui zamannya. Sutradara Nyak Abbas di awal tahun 1990 bahkan membuat film yang terinspirasi dari lagu tersebut dengan membuat film berjudul Boneka dari Indiana. Film ini masuk dalam lima film terbaik di ajang Festival Film Indonesia 1991 dengan sejumlah film lainnya, seperti Zig Zag, Cinta dalam Sepotong Roti, Potret, dan Langit Kembali Biru.

Seiring dengan perkembangan musik yang terus bergulir, nama Ellya Khadam tetap saja menarik perhatian. Penampilannya yang keindia-indiaan lengkap dengan baju khas Bollywoodnya itu membuat perempuan kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1938, itu kerap menjadi pusat perhatian.

Selain menyanyi, Ellya juga pernah membintangi sejumlah film bersama aktor dan aktris legendaris Tanah Air, seperti dengan Benyamin dalam film Benyamin Biang Kerok (1972) dan Bing Slamet Setan Djalanan pada tahun 1972.

Pamor "Boneka dari India" dan nama Ellya kembali mencuat ketika Multivision Plus sempat mengangkatnya ke sinetron dengan judul yang sama. Sinetron ini disutradarai Sridhar Jetty dan Irwan Ibon, dan mencuri perhatian publik karena menghadirkan komedi yang pas dengan setting Betawi. (EH)