Penyanyi legendaris Ellya Khadam wafat pada Senin (2/11) sekitar pukul 20.00 karena penyakit diabetes yang dideritanya. Kepergiannya, seperti halnya para seniman legendaris lainnya, meninggalkan jejak panjang yang luar biasa. Kisah-kisah di balik perjuangan hidupnya, dan proses kreatifnya memang menarik untuk disimak. Seperti apa kisahnya, berikut kami angkat kembali tulisan tentang Ellya Khadam yang ditulis wartawan Kompas, Frans Sartono (Kompas-Senin, 22 Mei 2000).
Ellya Khadam adalah "Boneka dari India". Penyanyi dan lagu yang diciptakannya sendiri itu merupakan fenomena menarik dalam sejarah musik di Indonesia. Lagu itu menjadi awal masuknya elemen India ke dalam musik yang kini dikenal sebagai dangdut. Elemen itu terasa pada sosok melodi, cengkok vokal Ellya Khadam, dan yang paling spesifik adalah pada dominasi perkusi yang secara onomatopik (bunyi-bunyian sesuai tangkapan telinga) terdengar sebagai dang dang dut.
Lagu itu diciptakan Ellya Khadam (68) pada tahun 1957. Direkam di studio Irama milik Mas Yos, "Boneka dari India" diiringi Orkes Melayu Kelana Ria pimpinan Adi Karso dan Munif Bahasoan. Musisi pendukungnya antara lain Husein Bawafie (akordeon), Mat Syabi (mandolin), dan Adi Karso—pencipta lagu "Papaya Cha Cha itu"—memainkan marakas. Elemen India dalam lagu tersebut lahir dari berbagai usulan musisi orkes Kelana Ria, termasuk masukan dari Ellya Khadam sebagai pencipta lagu.
"Mas Yos waktu itu bilang, 'Kita coba ya, lagu ini kayaknya lain'," kata Ellya Khadam menirukan Mas Yos. Ternyata lagu itu memang disukai publik. Remy Sylado, pengamat musik yang menjadi saksi telinga popularitas lagu itu, menuturkan, di Bandung tahun 1960-an "Boneka dari India" hampir setiap hari diputar di radio. "Bahkan hampir menyaingi lagu 'Patah Hati'-nya Rahmat Kartolo," kata Remy yang penulis Ensiklopedi Musik itu.
Lagu itu menjadi penting karena sejak saat itu elemen bunyi serupa tabla menjadi bagian tak terpisahkan dari musik yang pada awal 1970-an dikenal sebagai dangdut. Munif Bahasoan, tokoh musik Melayu, mencatat, lagu "Boneka dari India" menandai peralihan dari zaman musik Melayu Deli ke era Melayu bernuansa India. Remy, yang pernah mengasuh majalah Aktuil, mengakui bahwa dangdut versi "Boneka" itu merupakan embrio dangdut saat ini. Menurut Remy, elemen bunyi dang dang dut itu belum pernah dipakai tokoh musik Melayu seperti Said Effendi sekalipun. "Ellya Khadam-lah yang menyebarkan wabah itu, jadi bukan Elvy (Sukaesih) atau yang lain," katanya.
***
LAGU itu sendiri muncul sebagai reaksi atas kejenuhan Ellya Khadam atas apa yang sebelumnya ia nyanyikan. Wanita dari kampung Kawi, kawasan Pasar Rumput, Jakarta, ini kemudian spontan saja
melantun-lantunkan lagu mirip lagu India yang kemudian bernama "Boneka dari India" itu. Kenapa India?
Ellya adalah penggemar berat film India, dan kebetulan rumahnya tak jauh dari bioskop Ratna yang banyak memutar film India. Atmosfer India itu lama menggumpal dalam benaknya, lantas tumpah menjadi "Boneka dari India".
Setelah "Boneka"-nya diterima publik yang luas, bahkan juga didengar komunitas di luar pendengar jenis musik Melayu, Ellya Khadam kemudian menciptakan "Kau Pergi Tanpa Pesan", "Termenung", dan "Pengertian" (yang kemudian juga dinyanyikan Emilia Contessa). Kesemua lagu ciptaannya itu bernuansa India. Vokal Ellya Khadam pun makin meng-india, yang menurut pengakuan si empunya suara, cengkok vokalnya memang asli demikian.
Sangat boleh jadi, film India beserta musik di dalamnya itulah yang memengaruhi Ellya Khadam. "Pengidentifikasian diri hingga nyaris sama India itu juga termasuk cengkok vokal Ellya Khadam yang
melingkar-lingkar," kata Remy.
Indianisasi itu juga melebar ke soal tampilan ragawi. Ellya Khadam memakai kostum sari yang khas India lengkap dengan "tahi lalat" di tengah dahi. Dan tentu saja tariannya yang persis perempuan India kasmaran dalam film India. Tampilan India lantas menjadi trade mark Ellya Khadam. Dan setelah puluhan tahun Ellya Khadam malah jadi gamang sendiri jika tampil tanpa Indian look-nya. "Rasanya, saya jadi tak mengenal diri saya," ia mengaku.
***
ELLYA Khadam terlahir sebagai Siti Alya Husnah pada 23 Oktober 1932. Oleh produsernya, nama itu disulap menjadi Ellya. Nama Khadam yang melekat sampai sekarang adalah nama bekas suaminya, yaitu Khadam Ali. Ellya juga pernah dikenal sebagai Ellya Agus dan Ellya M Haris.
Pada usia 14 tahun, Ellya dinikahkan dengan pria yang belum ia kenal sebelumnya. Ellya berpisah dari suaminya itu setelah mempunyai dua anak yang kini memberinya 14 cucu. Perceraian itulah yang kemudian menjadi awal langkah Ellya ke dunia tarik suara. Wanita muda yang sengsara itu kebetulan mempunyai tetangga penyanyi Melayu Deli bernama Dian Seruni. Manakala Dian berlatih bernyanyi, Ellya diam-diam memasang telinga.
"Hebatnya, Dian Seruni belum bisa menyanyikannya saya malah sudah bisa," tuturnya bangga. Saat itulah terbit niatnya menjadi penyanyi, namun ditentang keras oleh orangtuanya dengan alasan Ellya
seorang janda. Ia nekat nyanyi dan pada suatu kali diajak tampil pada sebuah acara perkawinan. "Perpisahan itu sangat menyedihkan, tetapi saya harus sehat. Dan sejak menyanyi, penderitaan saya
pelan-pelan menghilang."
Maka mulailah Ellya bernyanyi dari kampung ke kampung, sampai suatu kali ia di-"bon" Orkes Sinar Muda sebagai bintang tamu. Lewat orkes ini, pada tahun 1956 Ellya ikut tampil dalam sebuah temu orkes antara beberapa orkes di kawasan yang sekarang ini adalah kompleks Hotel Indonesia. Di situ ia bertemu tokoh-tokoh Melayu saat itu, seperti Husein Bawafie, Munif Bahasoan, dan Ali Atamimi. Rupanya, Husein Bawafie melihat cengkok spesifik pada vokal Ellya. Husein kemudian memperkenalkan Ellya kepada Adi Karso yang lantas mengajaknya untuk rekaman. "Saya tidak tahu apa itu rekaman. Saya kan orang kampung," kenang Ellya.
***
BELAKANGAN Ellya Khadam dan "Boneka"-nya muncul lagi dalam acara Joged yang digelar RCTI. Ia juga berkelebat dalam klip lagu "Cinta" dari Chrisye. Ellya Khadam dipilih karena menurut produser acara itu, Hanum Munajat, ia adalah salah satu legenda. "Dan kebetulan kita ingat lagu 'Boneka dari India' yang terkenal," tutur Hanum. Acara yang telah memasuki episode 12 itu menjadi indikator melebarnya akseptabilitas dangdut di kalangan masyarakat karena sekarang semua stasiun televisi
negeri ini telah mempunyai acara dangdut.
RCTI tayangkan Joged setelah merasa menemukan format yang pas untuk pemirsanya. Maksudnya adalah suguhan musik yang dapat diterima semua kalangan. Maka, penggarapannya pun dibuat sedemikan rupa, antara lain, dengan menghadirkan musisi "non-dangdut" macam Embong Raharjo
atau Dullah Suweleih yang selama ini berkiprah di jazz. Atau juga Idris Sardi dan penabuh drum rock, Jelly Tobing.
Ellya Khadam telah menyaksikan dangdut yang ikut dirintisnya itu berkembang ke format seperti yang disuguhkan RCTI. Dia tidak membayangkan sebelumnya musik yang dulu ia ikut perjuangkan
eksistensinya itu akan mendapat reaksi seperti sekarang. "Bertahun-tahun saya berjuang dengan musik saya seperti ini. Ada yang bilang musik kampunganlah, tetapi saya jalan terus."
Dan begitulah Ellya, ia seperti irama yang terus mengalir, diterima ketika usianya telah lanjut, menjadi legenda musik yang dulu pernah disebut sebagai musik kampungan, tetapi kini diterima luas.
