Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
TO Menghibur, Afgan dan Lea Jadi Bintang
Rabu, 4 November 2009 | 08:37 WIB
|
Share:

PALEMBANG, KOMPAS.com - Kelompok musik simfoni Twilite Orchestra (TO) tampil mengibur pada Konser Musicademia 2009 yang digelar di Hotel Aryaduta, Palembang, Selasa (3/11) malam. Afgan dan Lea Simanjuntak, menjadi bintangnya. Keduanya berhasil mencuri perhatian kawula muda Palembang lewat penampilan yang tak kalah memesona dengan penyanyi tenor Christopher Abimanyu.

Penyanyi berlesung pipi yang namanya tengah melambung di jagat musik Indonesia, tampil menawan dengan membawakan lagu "Juwita Malam". Lagu karya cipta Ismail Marzuki,  berhasil dibawakan Afgan dengan penuh penghayatan. Walhasil, tepuk tangan pun langsung bergemuruh usai Afgan menyanyikannya dengan begitu apik.

Addie MS, konduktor sekaligus pimpinan TO, mengakui talenta yang dimiliki Afgan. Selain kebintangannya saat ini, performa Afgan di atas pentas kerap menggoda. "Dia improvisasinya jago," puji Addie seusai konser.

Addie pun sadar betul talenta itu, makanya ia memberi ruang sebebas-bebasnya kepada  Afgan untuk berimprovisasi ketika ia menyanyikan lagu "Juwita Malam". Bisa diduga, ada warna lain ketika Addie juga memberikan sentuhan sedikit jazzy dan bossas pada lagu tersebut.
 
Sambutan yang tak kalah luar biasa juga diberikan kepada Lea Simanjuntak. Dalam tiga kali penampilannya malam itu, Lea tampil begitu powerful dan percaya diri. Seperti saat penampilan Afgan, sekitar 1500 penonton yang memadati ruangan Ballroom Hotel Aryaduta, lagi-lagi dibuat terpesona. Performa bintang Lea sangat terasa ketika ia tampil membawakan lagu "The Power of the Dream" karya David Foster/Baby Face. Pitch controlnya begitu terjaga. Ia bahkan mampu mencapai nada tinggi tanpa cela.

"Suaranya keren habis, wonderful... amazing. Pokoknya wow! Jujur, gue sampai merinding pas dia nyanyi," kata Putri Apriani (21), menanggapi penampilan Lea malam tadi. 

Yang tak kalah memesona Putri, boleh jadi karena inilah pertama kalinya ia menyaksikan sebuah pertunjukan musik simfoni TO secara langsung. "Beda banget, konser semacam ini memang baru pertama kali ada di Palembang. Nggak tahu lagi deh, kapan bisa nonton lagi konser semacam ini di Palembang,"  ujarnya lagi.

Konser Musicademia yang tahun ini memasuki tahun ke-9, memang dimaksudkan sebagai jembatan mengakrabkan musik simfoni kepada publik. Tak heran bila Addie sengaja mengajak penyanyi Afgan dan Lea untuk dilibatkan dalam konser yang mengusung tema "Bagimu Pahlawan" dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November nanti.   

Sebanyak 18 repertoar dihadirkan. Sebagian besar adalah lagu bernapaskan perjuangan seperti "Bangun Pemudi Pemuda", "Syukur", "Padamu Pahlawan" hingga "Indonesia Jaya". Sementara untuk memperkenalkan musik simponi kepada publik, TO yang melibatkan sekitar 50 pieces didukung Twilite Chorus dan Paduan Suara Mahasiswa "Belisario" Universitas Sriwijaya, juga menghadirkan repertoar semacam "Symphony No.5 In C Minor, Op 67" karya Ludwig van Beethoven, "Trumpet Concerto in E-flat Major" karya Franz Joseph Hayden dan "Bugler's Holiday" (Leroy Anderson).

Sebagai overture (musik pembuka) TO tampil dengan membawakan lagu "Indonesia Raya" karya WR Supratman.   

Penonton yang sebagian besar adalah kalangan civitas akademika terlihat sangat antusias dan bergembira menyaksikan sajian musik simfoni TO. Boleh jadi, karena konser macam ini memang belum pernah digelar sebelumnya.  

Dennis Indah, mahasiswi semester V Teknik Sipil Universitas Sriwijaya mengakui hal itu. "Di Palembang konser musik orkestra kayaknya memang baru pertama kali ini. Jadi sayang aja kalau enggak nyempatin nonton," ujarnya.

Konser pun  dihadirkan Addie dengan suasana yang berbeda ketimbang konser orkestra yang biasanya, kental dengan kekakuan atau bahkan "keangkeran". Suasana begitu longgar, tak formal, dan cenderung riang gembira. Suasana riuh kadang hadir kala TO hendak memainkan sebuah nomor. Beberapa kali, Addie sempat memberi isyarat agar penonton tak berisik. Addie paham soal sikap penontonnya itu. "Bagaimana pun penonton harus diingatkan, saya pikir itu bagian dari edukasi," katanya.

Yang cukup menarik dari penampilan TO malam itu, tak lain bagaimana mereka mengajak penontonnya untuk menikmati musik dengan santai dan penuh suka cita. Kesan kaku dan cenderung angker seperti kebanyakan konser simponi di gedung pertunjukan megah, tak lagi tampak. Selain memang di Indonesia tak memiliki gedung khusus pertunjukan orkestra, pertunjukan ini sengaja dihadirkan untuk mendekatkan masyarakat dengan pertunjukan semacam ini.

Konsep pertunjukan pun dibuat cair namun tetap berkualitas. Untuk mencairkan suasana pertunjukan, ketiga musisi terompet Eric Awuy, Gatut Santoso dan Aubrey Victoria mencoba  melakukannya "atraksi" komedi sebelum ketiganya tampil memainkan nomor "Bugler's Holiday". Meski bukan pelawak, toh guyonan mereka disambut tawa.   
 
Alhasil, suguhan TO malam itu menjadi semacam jembatan bagi penonton untuk bisa mengapresiasi musik yang lebih serius dan berkualitas dengan pendekatan pop. Tak hanya itu, Addie juga telah merobohkan pandangan bahwa musik orkestra adalah musik orang-orang gedongan dan milik kalangan tertentu saja. "Bayangkan hanya dengan membeli tiket Rp 20 ribu, masyarakat bisa menyaksikan konser orkestra secara full," kata Addie.
 
Sebagai bentuk terima kasih kepada para pejuang kemerdekaan, pihak PT HM Sampoerna Tbk akan menyerahkan seluruh hasil penjualan tiketnya kepada organisasi Legiun Veteran di wilayah Palembang. Penyerahan secara simbolik diserahkan kepada para pejuang usai konser berlangsung.  (EH)