CIRQUE DU FREAK: THE VAMPIRE'S ASSISTENT
SUTRADARA: Paul Weitz, Durasi: 108 Menit, GENRE: Komedi Horor PEMAIN: Chris Massoglia, John C. Reilly, Josh Hutcherson
PEMBUATAN film remaja dari buku novel trilogi atau tetralogi sudah menjadi tren. Tren ini pertama kali ditularkan film Harry Potter. Pengikut terbaru tren itu adalah Film Cirque du Freak: The Vampire’s Assistent. Film ini diadopsi dari buku trilogi karya novelis Inggris, Darren Shan, yang berjudul Cirque du Freak Tween.
Cerita dimulai dari persahabatan dua remaja tanggung. Darren Shan (Chris Massoglia) yang terobsesi dengan laba-laba sejak kecil berkarib dengan Steve (Josh Hutcherson).
Pada suatu ketika, di kawasan permukiman Shan dan Steve melintas sebuah mobil unik yang menyebarkan selebaran tentang pertunjukkan Cirque du Freak. Atraksi kelompok sirkus ini sangat memukau. Salah satu bintang sirkus adalah Larten Crepsley (John C. Reilly) yang beraksi dengan laba-laba beracunnya.
Masalah mulai muncul ketika laba-laba milik Crepsley menggigit Steve. Tak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Satu-satunya cara penyembuhan adalah Darren harus bersedia menjadi asisten Crepsley.
Namun, Crepsley justru mengubah Darren menjadi setengah vampir, yang tahan terhadap sinar matahari. Masalah semakin besar ketika Mr. Tiny (Michael Cerveris), cenayang pembuat masalah, berusaha menciptakan peperangan antara vampir dengan vampineze. Ia merusak perjanjian yang telah ada selama 100 tahun.
Di bagian awal, film ini terlihat begitu menarik. Hal ini terlihat dari satir yang disisipkan sutradara dalam film. Seperti, sindiran kepada orang tua Darren yang mencoba memberikan pendidikan yang terbaik walaupun tak sesuai dengan keinginan anaknya.
Namun, alur cerita film justru menjadi stagnan. Humor-humor yang muncul tidak mampu mengocok perut penonton. Pam Grady, kritikus film mengatakan film yang mengaku bergenre horor komedi ini sangat jauh dari kesan seram atau lucu. “Sutradara kurang mampu menunjukkan kedua sisi tersebut,” ujarnya.
Film ini juga gagal sebagai kisah yang berlanjut. “Film ini tidak meninggalkan rasa penasaran bagi penonton. Mereka tidak ingin mencari tahu kelanjutan dari ceritanya,” ujar Pam. (KONTAN)
