Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Julia Roberts Kerap Improvisasi, Pemeran Liyer Kebingungan
Senin, 16 November 2009 | 18:05 WIB
|
Share:

BALI, KOMPAS.com Bintang film Hollywood sekelas Julia Roberts ternyata masih juga keseringan tidak menghapal naskah dari skenario film yang dimainkannya. Di film Eat, Pray, Love atau EPL yang pengambilan gambarnya dilaksanakan di Bali, bintang Pretty Women itu bahkan sering berimprovisasi. 

"Julia Roberts yang banyak tak hapal naskah dan banyak improvisasinya. Inilah yang membuat saya bingung karena yang saya hapalkan juga kata terakhir dari naskahnya, Julia baru bisa masuk ke dialog saya," kata Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut Liyer dalam film EPL di Denpasar, Senin (16/11).

Meskipun demikian, suami dari Sumirahayu, yang memerankan tokoh dukun sekaligus guru spiritual Julia Roberts dalam film tersebut, tak banyak mengalami hambatan ketika melakukan dialog bersama bintang kenamaan Hollywood itu.

Bahkan pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur, ini mengaku sampai hapal hingga titik-koma tentang apa yang harus diucapkan. Malah, Ketut Liyer sampai kebingungan dengan akting yang dilakukan Hadi.

"Wah, kamu mainnya bagus sekali dan justru saya bingung karena kalau saya yang memerankan itu belum tentu bisa sebagus itu," kata Hadi menirukan ucapan Liyer.

Ia mengemukakan, adegan yang diulang tak hanya karena pemain yang lupa naskah, tetapi juga karena angin kencang yang kerap mengganggu jalannya shooting sehingga sutradara memilih memotong adegan.

"Saya sebenarnya tidak enak mengucapkannya karena bahasa Inggris Liyer tidak baku. Sutradara juga memperbolehkan saya untuk melakukan improvisasi, tapi saya yang tidak mau," ungkap dia.

Saat ditanya mengenai resep untuk mampu menghapal seluruh naskah hingga titik-koma di usianya yang sudah 67 tahun, Hadi mengatakan bahwa dia harus melibatkan seluruh indra yang dimiliki.

Saat bertemu dengan Liyer, Hadi menolak untuk menghapalkan mantra tertentu sehingga saat pengambilan gambar di hari terakhir, hanya suara Liyer asli yang masuk ketika adegan sedang bersembahyang di Pura.

Hadi bercerita bahwa Liyer memberikan kenang-kenangan sebuah buku manusia berkaki empat. Bagi dia, hal itu memiliki filosofi yang dalam, yaitu apa pun cobaan yang dihadapi, tetaplah tegar berdiri seolah-olah memiliki empat kaki. "Jangan melihat dunia dengan kepala, tetapi juga dengan hati," ujarnya. (ANT/EH)