

JAKARTA, KOMPAS.com — Masih tingginya praktik korupsi di negeri ini menyedot perhatian Venna Melinda, mantan Puteri Indonesia 1994 yang kini bertugas di Komisi X DPR RI. Menurutnya, perlawanan terhadap korupsi haruslah dilakukan sejak dini dengan menanamkan nilai-nilai moral dan contoh teladan terhadap anak-anak.
"Ini tugas semua pihak, orang tua, guru, dan masyarakat sendiri untuk menanamkan kepedulian terhadap gerakan antikorupsi. Memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa korupsi bukanlah hanya milik orang tua," katanya saat dihubungi tengah berada di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menuju perjalanan ke Jakarta, Rabu (9/12/09).
Menurutnya, setiap orang punya andil besar untuk menyelamatkan negeri ini dari bahaya laten korupsi. "Apa pun yang kita kerjakan basic-nya diri sendiri. Kalau kita bersifat jujur, saya pikir akan selamat dunia dan akhirat. Setiap orang harus menjadi motor penggerak buat dirinya sendiri juga orang lain," katanya.
Hari Antikorupsi Sedunia, yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2009, terang perempuan kelahiran Surabaya, 37 tahun lalu itu, seharusnya dijadikan trigger untuk terus mengupayakan perlawanan terhadap praktik korupsi, yang juga melanda di banyak negara. "Peringatan ini memberi indikasi bahwa setiap negara kerap terjadi praktik korupsi yang mengakibatkan runtuhnya integritas moral. Penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan banyak hal, termasuk melemahnya ekonomi," katanya.
"Ini momentum yang tepat untuk membuat orang sadar betapa bahaya praktik korupsi. Memotivasi orang untuk care terhadap masalah ini," tambahnya.
Munculnya ide-ide kreatif dalam rangka menumbuhkan semangat antikorupsi di sejumlah sekolah di Tanah Air, diakui Venna sebagai terobosan yang perlu diapresiasi dan diikuti. "Di salah satu sekolah di Bogor, misalnya, ada sekolah yang membagi-bagikan buku tentang apa itu korupsi, seperti apa bentuk korupsi dan sanksi hukum serta hal-hal yang menyangkut masalah tersebut. Ini langkah antisipasi yang baik," katanya.
"Saya juga sangat apresiasi dengan didirikannya kantin kejujuran, di mana siswa dilatih dan distimulus untuk bersikap jujur. Mereka melakukan transaksi sendiri tanpa diawasi. Ini yang kelak akan melatih kejujuran dan membentuk karakter untuk selalu berlaku jujur," katanya.
Nah, ketika ditanya soal hukuman apa yang pantas diberikan kepada pelaku yang terbukti melakukan praktik korupsi, Venna tak mau gegabah. "Saya belum berani memberikan statement mengenai hal itu. Saya khawatir memberikan pernyataan yang tak mendasar. Sepenuhnya serahkan saja sesuai dengan hukum yang berlaku," ujarnya. (EH)

