Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Obati Kekecewaan, Noe "Letto" Wakafkan Karyanya
Rabu, 16 Desember 2009 | 10:37 WIB
|
Share:
KOMPAS ENTERTAINMENT/ATI KAMIL
Letto, bersama pembawa acara, ikut menyuguhkan kuis untuk para penonton.
TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com Vokalis band Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe (30), sedang sering berada di Yogyakarta. Selama di rumah, ia menyempatkan hadir dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh sejumlah pelaku industri kreatif di Yogyakarta.

Dalam diskusi itu, Noe bercerita bahwa saat ini musisi tidak punya pilihan selain mewakafkan karyanya. Namun, soal wakaf kali ini sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan sosial keagamaan.

Rupanya istilah wakaf itu muncul untuk menanggapi tingkah para pembajak karya, terutama musik, yang kian menjadi. Barangkali dengan kesadaran untuk mewakafkan, kekecewaan akibat karyanya ramai-ramai dibajak bisa berkurang.

”Banyak karya Letto yang dibajak. Kami sih ketawa-ketawa aja melihatnya. Soal ikhlas itu relatif, tetapi dari banyak kasus jadi kelihatan mental orang Indonesia itu seperti apa,” katanya, pekan lalu.

Pembajakan adalah kendala utama pengembangan industri kreatif di Indonesia. Menurut Noe, posisi kreator sangat lemah sehingga karyanya bisa dengan mudah dibajak pihak lain. Jika dibiarkan, itu bisa berdampak pada menurunnya kualitas musik Indonesia.

”Mestinya memang ada yang tidak beres di sini. Kan, undang-undangnya sudah ada,” ujarnya.
Noe mengharapkan pemerintah segera hadir dan menjadi wasit tegas dalam menerapkan undang-undang antipembajakan. (ARA)