


JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah gempuran film horor dan komedi berbumbu seks, oase datang dari penyanyi yang kini mulai menjajal dunia film, Opick "Tomboati". Dalam waktu dekat ini, ia akan merilis film perdananya Di Bawah Langit.
Adakah Opick tengah melakukan "perlawanan" terhadap tontonan bioskop yang nyaris seragam? Bisa jadi ya. Katanya, masyarakat memang butuh tontonan alternatif, tidak sekadar film-film yang nyaris sejenis.
"Jika ada yang beranggapan ini film dakwah, yang silakan. Tapi, saya ingin mencoba mengangkat kisah kehidupan orang-orang di pesisir yang jarang diungkap ke publik," katanya saat ditemui di acara peluncuran film tersebut di Plaza Semanggi, Jakarta, Rabu (10/3/2010) malam.
Diakui Opick, sudah cukup lama ia menaruh obsesi untuk membuat karya film. Bahkan demi memuluskan obsesinya tersebut, Opick rela merogoh uang tabungan hingga ratusan juta rupiah. Berapa besaran angkanya, Opick ogah mengungkapkannya. "Cukup besarlah," jawabnya.
Sebuah langkah berani. Hanya bermodal niat dan kepercayaan diri, Opick akhirnya bisa merampungkan film perdananya. Ia mengerjakan hampir keseluruhan proses dengan memangku lima jabatan sekaligus, dari mulai produser, sutradara, penata musik, penulis skenario, hingga pemain. "Bukan serakah, tapi biar ngirit," ujarnya.
Setelah proses penggarapan film rampung dan siap dirilis akhir Maret ini, Opick hanya bisa bersyukur. "Alhamdulillah, saya dikasih kemudahan untuk mewujudkan mimpi saya dari dulu untuk membuat film. Idenya sendiri berawal dari sebuah lagu, kemudian jadi sinopsis, skenario, kemudian novel, dan akhirnya film. Ini karunia buat saya. Banyak kemudahan dan pertolongan Allah. Rasa-rasanya saya tak mungkin menyelesaikannya tanpa kemudahan dari Allah," ungkapnya.
Di Bawah Langit, kata Opick, berisi cerita tentang orang-orang pesisir yang termarjinalkan. Ada kisah tentang orang-orang yang kalah, tetapi tetap taat beribadah.
Gambaran itu terekam dari sejumlah sosok dalam film tersebut. Ada tokoh Mas Gelung, yang diperankan sendiri oleh Opick. Ia sosok yang dianggap gila, padahal tidak gila. "Ia hanya patah hati karena cinta. Dia meninggalkan dunia kemudian mengucilkan diri untuk mengenal Tuhan," terang Opick.
Selain itu, ada tokoh Maesaroh (Inneke Koesherawaty). Tokoh yang satu ini nyaris sama. Cintanya kalah atas keinginan kuat ayahnya, yang merupakan seorang kyai terpandang di daerah tersebut. "Kalau ada yang bilang ini film dakwah ya silakan saja, bukan juga enggak apa-apa. (Dari) film ini, (saya) hanya mencoba memotret kehidupan orang-orang di pesisir," katanya.
Tak hanya dibintangi Opick dan Inneke, film ini juga melibatkan aktor kawakan Didi Petet dan Agus Kuncoro. "Tokoh yang saya mainkan sangat berbeda dengan apa yang pernah saya mainkan. Tokohnya sangat sangat tidak menyenangkan buat masyarakat. Saya jadi rentenir," kata Didi.
Nah, saat ditanya soal hitung-hitungan bisnis film ini nantinya, Opick tentu berharap film ini bisa ditonton banyak orang. Namun, bila harapannya tak sesuai harapan, maka ia hanya bisa bersyukur. "Saya dapat pesan dari guru saya. Katanya, 'sukses itu adalah ketika kamu bisa melakukan apa-apa yang kamu pikirkan. Sukses adalah ketika semua itu terkabul. Saya akan memperlakukan seperti halnya lagu-lagu saya. Perkara filmnya nanti ditonton, itu rezeki dari Allah," ucapnya. (EH)

