Minggu, 21 Desember 2014
Inilah Prosesi Siraman Nia Ramadhani yang Haru Biru
Rabu, 31 Maret 2010 | 13:45 WIB
|
Share:
POOL PHOTOGRAPHER
Nia Ramadhani (kanan) menjalani prosesi siraman dalam rangkaian pernikahannya dengan Ardi Bakrie, anak pengusaha Aburizal bakrie, di rumah orangtuanya Priya Ramadhani (kiri) dan Chanty Mercia di Jalan Benda II No 9, Jakarta Selatan, Rabu (31/03/2010).
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Prosesi siraman pesinetron Prianti Nur Ramadhani atau yang lebih dikenal dengan nama Nia Ramadhani berlangsung khidmat dan haru biru. Sepanjang upacara yang menggunakan adat Sunda itu, calon istri Anindia Ardiansyah Bakrie alias Ardie tersebut sesekali menitikkan air matanya.

Dihajat di kediaman ibunda Nia, Canty Mercia, di Jalan Benda II No 9 Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2010) pukul 10.15 WIB, seremoni siraman dimulai dengan menjemput Nia yang berada di kamar pengantin lantai dua oleh kedua orangtuanya, Priya Ramadhani dan Canty, sambil membawa sehelai kain panjang yang diselendangkan di pundaknya. Prosesi ini disimbolkan layaknya menggendong seorang bayi yang baru dilahirkan.

Nia diantar kedua orangtuanya menuju tempat sungkeman di lantai dasar. Di sana, kakak kandung Nia yang tertua, Yudhistira Hermawan alias Wawan sudah menunggu Nia.

Dipandu oleh pembawa acara, Nia dipersilakan meminta izin kepada Wawan dengan diiringi alunan musik kecapi dan merdunya suara sinden sepanjang prosesi sungkeman Nia kepada Wawan. "Tidak ada maksud Nia untuk mendahului atau melangkahi Mas Wawan. Tapi Nia meminta doa restu dan meminta Mas Wawan untuk merelakan Nia," ucap Nia seraya menitikkan air matanya.

Menjawab ucapan Nia, Wawan lalu berujar, "Nia saya izinkan, saya rida, dan saya ikhlas Nia menikah lebih dahulu," tutur Wawan. "Pesan Mas Wawan agar Nia selalu berbakti kepada suami, aku selalu berdoa kepada Allah agar rumah tanggamu selalu diliputi kebahagiaan," sambungnya tanpa kuasa menahan air matanya yang meleleh.

Seusai Wawan merestui Nia, sebagai simbolis dan adat Sunda, maka diputuskanlah benang lawe sebagai tanda keikhlasan persaudaraan yang terjalin antara kedua kakak-beradik itu yang dilanjut dengan peluk dan cium hangat dari Wawan di pipi kiri Nia. Lagi-lagi Nia tak kuasa menahan air matanya.

Sebagai bagian dari prosesi siraman selanjutnya, Nia dipandu untuk membakar ketujuh Sumbu Talita sebagai simbol sebagai hati yang suci dalam berumah tangga. Namun, sebelumnya Nia dipersilakan memanjatkan doa dahulu dengan diawali membaca basmalah.

Satu per satu Nia menyalakan Sumbu Talita tersebut dengan lilin yang dipegangnya. Sumbu pertama yang menyala diibaratkan sebagai iman, yang kedua ibarat Islam, ketiga ibarat ihsan sikap dan kegiatan, keempat sebagai simbol amal saleh, kelima adalah sahadat, keenam sidiqiyah, dan ketujuh adalah khubbah muqaromah. "Tujuh hal yang harus menyala dalam diri Nia selama menjalani rumah tangga di dunia ini," tutur pemandu acara siraman.

Selanjutnya adalah tahap pengucuran air dari paso (kendi) yang bermakna semulia-mulianya manusia akan kembali ke Yang Maha Mulia. Kedua orangtua Nia, Priya dan Canty, dipandu mengucurkan air ke dalam bokor sebagai tanda kasih sayangnya kepada Nia.

Priya menaburkan bunga-bunga berwarna merah ke dalam bokor tersebut. "Papa titipkan keberanian papa untuk Nia," ujar pemandu acara mewakili Priya. Sementara Canty menaburkan bunga mawar putih. "Mama menitipkan cinta kasih mama untuk Nia," sambung sang pemandu prosesi tersebut.

Setelah bokor terisi air suci dan kedua jenis mawar, selanjutnya Nia melakukan sungkeman kepada kedua orangtuanya yang didahului dengan sungkem kepada sang mama. "Mama, kata-kata Nia yang akan terucap pertama kali adalah terima kasih bahwa Nia telah dilahirkan dari orangtua seperti papa dan mama. Apa pun yang terjadi itu akan dijadikan bekal Nia untuk rumah tangga Nia, insya Allah papa dan mama memberikan restu," ujar Nia meminta restu.

Lanjut Nia, "Insya Allah besok Nia akan menjalankan kehidupan baru dengan laki-laki pilihan Nia. Tanpa itu (doa restu) semua, Nia yakin kehidupan Nia dan Ardie tidak akan bahagia tanpa restu mama dan papa," tutur Nia dengan cucuran air mata.

Mendengar niat tulus anak perempuannya, Priya dengan mengucap basmalah pun merestui anaknya. "Nia anak papa yang papa sangat sayangi, papa memaafkan kesalahan-kesalahan Nia. Papa selaku orangtua Nia juga banyak melakukan kesalahan kepada Nia, papa tidak sempurna dalam membesarkan Nia. Karena itu Papa dan Mama meminta maaf kepada Nia," kata Priya. "Untuk itu papa dan mama mengikhlaskan Nia untuk menikah dengan laki-laki pilihan Nia, yaitu Ardie," kata Priya.

Priya yang semula tegar menahan air matanya, akhirnya tak kuasa lagi menahan air matanya yang tumpah. "Papa berpesan jadilah istri yang rendah hati, sayangi keluarga baru Nia. Walaupun Nia tidak tinggal lagi sama papa dan mama, doa papa dan mama akan selalu menyertai Nia," ujar Priya tiba-tiba terisak tangis. "Camkanlah ini untuk Nia menjalankan bahtera rumah tangga," pesannya.

Seusai Priya merestui anak gadisnya, Nia pun dipandu untuk membasuh kaki kedua orangtuanya yang diawali dari sang mama terlebih dahulu. "Doakan mama dengan membaca doa untuk kedua orangtua," kata pemandu acara sebelum Nia melakukan naras dengan mengangkat telapak kaki Canty untuk mengusap kaki dengan air dan memberikannya wewangian, yang dilanjut mencium kaki Canty sambil mengucap istigfar sebanyak tiga kali.

Selanjutnya sungkeman dilanjutkan ke sebelah kiri Nia, tepat di pangkuan Priya. Dengan membacakan doa untuk kedua orangtua, Nia mulai mengusap kaki Priya dengan air dan memberikannya wewangian, setelahnya Nia lalu menciumi kaki Priya sambil mengucap istigfar sebanyak tiga kali yang kemudian diteruskan dengan sesi sungkeman ke sanak keluarga dan sesepuh lainnya.

Tak ketinggalan pula tahap mulangkeun cai susu indung (mengembalikan air susu ibu) sebagai bagian prosesi siraman, Nia memberikan air kelapa hijau kepada Canty dan Priya sebagai harapan Nia mengarungi kehidupan rumah tangganya seperti air kelapa hijau.

Setelahnya adalah tahap yang paling sakral dari upacara yang dihajat pada hari ini, yaitu siraman. Berjalan melalui hamparan kain tujuh lembar sebagai simbol hari yang tujuh, dengan dipapah kedua orangtuanya, Nia berjalan menuju tempat siraman.

Duduk di singgasana siraman, Nia lalu menanggalkan kebaya putihnya untuk berganti dengan busana bunga melati putih bersih sebagai tanda kesucian Nia yang akan menikah dengan lelaki pilihan hatinya.

Priya pun dipandu untuk mencampurkan tujuh sumber mata air yang sudah didoakan oleh para sesepuh ke dalam bokor. Salah satu dari air yang dituangkan Priya adalah dari air zam-zam tanah suci Mekkah, sementara enam lainnya diperoleh dari sumur masjid di sekitar Jakarta Selatan yang dicampur dengan tujuh kembang setaman.

Mercia diberi kesempatan menyiram Nia lebih dahulu, lalu Priya menyusul kemudian, sinden pun terus melantunkan salawat dan zikir, menambah kekhidmatan suasana upacara siraman sebelum para kasepuhan ikut menyiram Nia.

Selanjutnya, Priya menyerahkan kendi yang berisi air dari tujuh sumber mata air sebagai air wudu yang kendinya akan dipecahkan esok hari pada saat saweran.

Upacara siraman dilanjut dengan pemotongan rambut. Priya di sebelah kiri dan Mercia di kanan adalah sebagai tahalul, miceun geleuh keumeh untuk membuang sifat-sifat buruk yang diharapkan akan berganti menjadi kebajikan.

Setelah pemotongan rambut, ada kaul (keinginan) dari Nia untuk melemparkan gaun melatinya dengan harapan siapa yang menerimanya akan didekatkan jodohnya. Seorang wanita dewasa berhasil mendapatkan gaun melati Nia, tetapi wanita tersebut justru menyerahkannya kepada Wawan dengan harapan agar Wawan segera didekatkan jodohnya.

Seusai siraman, Nia digendong oleh keempat kakaknya dan Priya ke kamar pengantin. Prosesi siraman pun ditutup tepat pukul 11.22 WIB.

Sebagai catatan, upacara selanjutnya adalah nincak sereh yang akan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB sore hari nanti. (FAN)