Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Gedung Baru DPR Katanya Anggota Dewan Pintar-pintar...
Eko Hendrawan Sofyan | Kamis, 2 September 2010 | 09:42 WIB
|
Share:
Dok. Pribadi

JAKARTA, KOMPAS.com — "Wah, kalau Gedung DPR sampai ada spa-nya, bisa  menurunkan pamor salon saya, dong," ujar pesinetron Della Puspita yang juga pemilik Della Salon di lima wilayah di Jakarta ketika mendengar kabar rencana pembangunan gedung baru DPR berbiaya Rp 1,6 triliun yang dilengkapi fasilitas pusat kebugaran hingga spa.

Mendengar kabar itu, Della benar-benar dibuat tak habis pikir. Katanya, kok bisa para anggota dewan yang pintar-pintar itu tak punya rasa empati terhadap masyarakat miskin.

"Jelas saya sangat tidak sepakat. Mereka itu orang pintar, masa yang begituan harus  diajarin. Bukannya mereka dipilih untuk menyejahterakan rakyat dan bukan untuk diri sendiri? Uang yang digunakan pun tentu uang rakyat dari pajak," ujarnya dengan nada kesal.   

Della yang pernah ikut terlibat sebagai pengisi acara dalam kampanye sejumlah partai tahu betul betapa calon-calon wakil rakyat pada saat itu menjual janji-janji setinggi langit. "Kita, masyarakat kecil, dicekokin dengan janji-janji. Setelah disumpah, apa mereka enggak malu," katanya.

Sebagai bagian dari masyarakat, ibu dua anak ini hanya berharap, rencana pembangunan itu dipikir ulang. "Hal ini jelas mencederai hati masyarakat. Apa mereka enggak pernah nonton acara Bila Aku Menjadi. Itu kan menggambarkan bahwa masih banyak (masyarakat miskin) seperti itu," ujarnya.   

Ia juga bercerita, tingginya aksi kejahatan yang belakangan menghantui jelas-jelas mengisyaratkan bahwa masyarakat Indonesia masih dihadapkan dengan masalah kemiskinan. "Saya yakin tidak semua wakil rakyat di DPR itu buruk. Di antara 1.000 orang, pasti ada segelintir orang yang baik. Tapi tolong, yang buruk itu jangan sampai mencoreng anggota dewan yang jujur dan baik," kritik Della.

Seperti diberitakan Kompas, Rabu (1/9/2010), anggaran untuk membangun gedung berlantai 36 itu ditaksir mencapai Rp 1,6 triliun. Padahal, angka itu bisa membantu iuran Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi lebih dari 22 juta warga miskin selama setahun.