Minggu, 21 September 2014
JEJAK PERADABAN NTT Menikmati Liarnya Komodo
Jumat, 10 Desember 2010 | 04:02 WIB
|
Share:
KOMPAS/BENNY DWI KOESTANTO
Wisatawan melihat dari dekat kehidupan satwa komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Oktober lalu. Tahun 2009, kawasan Taman Nasional Komodo dikunjungi lebih dari 36.000 wisatawan, 95 persennya adalah wisatawan mancanegara.

Pemandangan hijau menghiasi Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Baru sesaat menikmati suasana, Yonas Ora (43), petugas Taman Nasional Komodo, mengingatkan supaya pengunjung tetap waspada terhadap ancaman gigitan komodo (Varanus komodoensis).

Berkunjung ke Taman Nasional Komodo (TNK) yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, memang harus suka bertualang. Meski tampak malas, hewan purba komodo atau disebut oleh warga setempat ora tetap liar.

Kami melihat sendiri, meski mulanya sekawanan komodo tampak bermalas-malasan menghindari terik matahari, di bawah rumah panggung yang digunakan sebagai asrama para petugas hutan yang juga penjaga komodo, sekali satu hewan bergerak, lainnya akan mengikuti dengan cepat. Seorang perempuan setengah baya, yang datang bersama rombongan turis mancanegara, berteriak ketakutan dan menjauh melihat gerakan komodo itu.

Kasus gigitan terakhir menimpa seorang petugas kehutanan pada Februari 2010. Setahun sebelumnya, hal yang sama menimpa petugas lain. Dua-duanya harus diterbangkan ke Denpasar, Bali, untuk mendapat jahitan.

Sebanyak 200.000 warga tinggal di Kabupaten Manggarai Barat yang baru berumur 7 tahun setelah dimekarkan dari Kabupaten Manggarai. Sepanjang tahun 2009, 36.431 wisatawan berkunjung ke kawasan itu. Lebih dari 95 persen adalah wisatawan mancanegara yang didominasi wisatawan Eropa, seperti Belanda, Perancis, Jerman, dan Belgia. Total belanja wisatawan per tahun di daerah itu mencapai Rp 185 miliar.

Potensial

Kalau bicara potensi pariwisata, TNK ibarat emas. Keberadaan hewan purba komodo terbukti mudah mendapat perhatian dunia. Kawasan itu menyandang gelar sebagai ”a World Heritage Site and a Man and Biosphere Reserve” oleh UNESCO tahun 1986, hanya enam tahun sejak ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo.

Selain sebagai habitat asli komodo, kawasan TNK juga menjadi habitat sejumlah satwa lain yang khas, seperti burung gosong (Megapodius reinwardt), tikus rinca (Rattus rintjanus), dan rusa timor (Cervus timorensis).

Taman nasional itu terdiri dari daratan seluas 40.728 hektar dan perairan laut 132.572 hektar (data tahun 2008). Ada tiga pulau terbesar, yakni Pulau Komodo (33.937 hektar, populasi komodo diperkirakan 1.200 ekor), Pulau Rinca (19.627 hektar, populasi komodo diperkirakan 1.100 ekor), dan Pulau Padar (2.017 hektar, tak ada komodo). Selain itu, ada juga pulau kecil, Pulau Gili Motang, yang dihuni sekitar 100 komodo.

Kawasan TNK mencakup salah satu kawasan laut terkaya di dunia. Perairan seluas 1.214 kilometer persegi itu memiliki mangrove, gunung laut, dan teluk yang semi-tertutup. Kawasan dengan keanekaragaman tinggi itu dihuni lebih dari 1.000 spesies ikan, 260 spesies karang, dan 70 spesies bunga karang.

”Semua mata dunia tertuju kepada kami. Kami maunya lari secepat mungkin, tapi kami juga melihat kondisi aktual kami,” kata Bupati Manggarai Barat Agustinus Dulla.

Dulla baru dua bulan terpilih sebagai Bupati Manggarai Barat. Beberapa kali ia sempat tercenung di tengah wawancara di sela-sela pesta yang digelar di desa terpencil di kabupaten itu. Ia tahu benar bahwa kerja besar menunggu di depan mata.

Kita perlu mengapresiasi langkah Dulla yang melarang aktivitas pertambangan yang menjadi ancaman bagi keberlanjutan TNK, pariwisata Manggarai Barat, dan kelestarian alam NTT. Awal Oktober 2010, ia mengeluarkan surat keputusan untuk menghentikan semua aktivitas penambangan. Pertambangan dinilai tidak bersinergi dengan pembangunan sektor pariwisata yang menjadi prioritas bagi Manggarai Barat.

Menurut dia, mendatangkan turis ke Manggarai Barat harus diikuti dengan upaya mempermudah akses. Hal itu berarti menurunkan biaya untuk sampai ke Labuan Bajo hingga ke kawasan TNK. Akses yang terbuka antarkecamatan dan kabupaten berarti membuka pintu bagi pemberdayaan masyarakat setempat. Dulla ingin agar buah dan sayuran bagi turis di Labuan Bajo dipasok masyarakat setempat. Selama ini sayuran datang dari Pulau Bima, Nusa Tenggara Barat, sementara buah datang dari Jawa dan Bali.

Bali menjadi pintu utama menuju Labuan Bajo. Hingga saat ini, baru pesawat berbadan kecil yang bisa mendarat di Bandara Komodo di Labuan Bajo. Di Labuan Bajo baru ada tiga hotel berbintang.

Kini landasan pacu bandara sudah diperpanjang menjadi 1,8 kilometer sehingga cukup untuk didarati pesawat jenis Fokker 50. ”Idealnya, panjang landasan bisa 2 kilometer sehingga Fokker 28 bisa mendarat di sini, sedang kami upayakan serius,” kata Dulla seraya berharap dana dari pemerintah pusat dalam bentuk dana alokasi khusus ke daerahnya diperbesar.

Menurut Kepala Balai TNK Sustyo Iriyono, pengembangan kepariwisataan TNK tidak mungkin dibuka seluas-luasnya karena harus mengutamakan konservasi komodo dan habitatnya. Hingga kini, hanya kawasan Loh Liang dan Loh Buaya seluas 160 hektar yang dibuka.

Menurut dia, tidak mudah menjaga kelestarian kawasan TNK. Dalam Rencana Pengelolaan 25 Tahun (2000-2025) Taman Nasional Komodo yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam terungkap, beberapa habitat darat dan perairan di areal TNK rusak parah. Sekitar 150 kilometer persegi ekosistem darat TNK rusak akibat kebakaran dan pengambilan pohon lontar. Terumbu karang terancam hancur karena praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti pengeboman dan penggunaan sianida.

Untuk mengurangi kecenderungan itu, Balai TNK beberapa tahun terakhir memberdayakan masyarakat lewat aneka pelatihan serta menawarkan mata pencarian alternatif, seperti pengembangan perikanan pelagis, budidaya ikan, dan rumput laut.

Saat ini kita masih menunggu pengumuman hasil jajak pendapat New 7 Wonders of Nature. Apa pun hasilnya, jangan mengurangi semangat Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Balai TNK, beserta pemangku kepentingan untuk menyiapkan ”karpet merah” bagi wisatawan sekaligus memberdayakan masyarakat dan membawa komodo mendunia.

Benny D Koestanto/Mawar Kusuma Wulan