Sabtu, 1 November 2014
Film Baru Hanung Menyentuh Isu Sensitif di Film "?"
Penulis : Irfan Maullana | Kamis, 31 Maret 2011 | 17:50 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/ BANAR FIL ARDHI
Hanung Bramantyo

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tak jarang sebagian pihak menilai film "?" (tanda tanya) cukup sensitif ketika dikemas menjadi sebuah film layar lebar yang mengisahkan tiga keluarga dengan latar belakang berbeda.

Dikisahkan keluarga Tan Kat Sun memiliki restoran masakan China yang tidak halal, lalu masalah pribadi keluarga Soleh dengan istrinya yang cantik dan soleha bernama Menuk, serta keluarga Rika yang menggenapi cerita perbedaan pandangan status, agama dan suku.

Dengan potensi yang terkandung dalam ide cerita, sutradara Hanung Bramantyo sadar bahwa perlu sowan kepada pemuka agama sebelum menghadirkan kisah itu dalam film "?" dirilis ke publik. "Saya sudah melakukan dialog dengan sekitar 20 orang, ada pemuka agama juga," kata Hanung dalam jumpa pers film "?" di Radja Ketjil, Gandaria City Mall, Kebayoran Lama Jakarta Selatan, Kamis (31/3/2011).

Hasil pertemuan itu pun cukup melegakan suami artis peran Zaskia Adya Mecca. Pasalnya, mereka yang terlibat dalam pertemuan itu percaya jika film "?" Mewakili potret Indonesia seutuhnya, di mana sika saling mengerti dibutuhkan dalam memandang keberagaman yang ada.

"Mereka memberikan saran dikasih tulisan 'Terinspirasi Dari Kisah Nyata' untuk film ini," jelas Hanung.

Toh, bagi Hanung, film terbaru yang digarapnya ini sekaligus memiliki misi untuk meluruskan pandangan miring terhadap ajaran agama Islam selama ini. "Yang ada sekarang agama Islam dibilang tidak punya toleransi. Saya ingin menunjukkan lewat film ini gambaran beberapa peristiwa yang terjadi," kata Hanung.

"Pada adegan terakhir David Chalik mengungkap bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Buat saya itulah Islam," lanjutnya.

Di sisi lain, secara keutuhan cerita, artis peran Revalina S Temat yang melakoni karakter Menuk dalam film "?" menjamin jika film yang dibintanginya itu tak sekontroversial yang diberitakan sebelumnya.

"Banyak yang bilang kontroversi, justru aku enggak melihat itunya, ini adalah gambaran kehidupaan beragama di bangsa kita ini. Aku melihatnya di sini niatnya baik, Mas Hanung dan penulis skenario ingin memberi gambaran (keberagaman agama) di Jakarta seperti ini, ya alangkah sedihnya, ya kalau niat baik kita disalah-artikan. Pasti orang akan mengerti," jelasnya.  

Editor :
Eko Hendrawan Sofyan