Kamis, 18 Desember 2014
Wawancara dengan Yockie 3: Dan di Situlah Dia Mengambil "Beceng"
Penulis : Irfan Maullana | Rabu, 26 Oktober 2011 | 19:21 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Yockie Suryoprayogo ambil bagian dalam aksi seni dan renungan kebudayaan Indonesia Membaca Rendra, yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Oktober 2009.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada 20 Oktober 2011 dini hari, pemusik kawakan Yockie Suryo Prayogo (52), melalui wall akun pribadi Facebook-nya, membeberkan kepada publik konflik panjangnya dengan God Bless, band legendaris yang pernah dihuninya pada 1988-2003. Apakah yang menyebabkan Yockie tiba-tiba melancarkan aksinya itu? Silakan simak hasil wawancara yang dilakukan oleh Kompas.com terhadap Yockie di kediamannya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, 20 Oktober 2011 malam. Tulisan yang kami publikasi ini merupakan bagian ketiga atau terakhir dari hasil wawancara itu.

Bagaimana dengan pengakuan Anda bahwa Anda ditodong senjata genggam pada 2003, sebelum akhirnya Anda meninggalkan God Bless pada tahun yang sama?

Ada sesuatu yang ditutup-tutupi, ada sesuatu yang tidak ingin muncul di permukaan, kok. Dalam bahasa-bahasa masyarakat saat ini, istilahnya, ada kebohongan publik, yang tidak mau ketahuan. Padahal, buka saja semuanya.

Saya pun tidak malu ketika orang tahu saya berkelakuan (mengonsumsi) narkoba tahun 1970-an. Ketika orang tahu saya mencuri cincin (almarhum) Harry Roesli untuk beli narkoba, saya enggak malu. Itu bagian dari masa lalu. Jadi, jangan ditutup-tutupi.

Semua bilang, Yockie keras kepala, Yockie enggak bisa diatur. Semua alasan dicari untuk memojokkan saya. Padahal, semua orang tahu kalau sebenarnya ada yang ditutupi. Padahal, kasusnya narkoba. Tapi, semua orang membela, ditutupi dengan bilang, "Dia merokok saja tidak." Tapi, begitu ketahuan, dia ditangkap polisi (27 November 2007 di Jakarta), baru deh semuanya diam.

Saya sama sekali tidak menegur dia soal memakai narkoba. Saya sendiri tahu dia memakai narkoba dari (gitaris God Bless) Ian Antono karena, seperti yang saya katakan, saya tidak bergaul dengan mereka di luar studio. Saya datang-pergi saja.

Jadi, ceritanya, ketika rekaman pada 2003 itu sudah mau selesai, ketika sudah 75 persen, yang namanya penyanyi ini tidak pernah datang ke studio. Akhirnya, yang resah ini tidak hanya saya sendirian, tetapi semua. Saya resah karena studio ini milik saya, cost itu besar karena ini studio analog.

Bayangin aja, Ian Antono jauh-jauh dari Cibubur ke BSD (Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten) hanya nongkrong seharian saja sama saya di studio. Kami berdua ya kesal. Ian marah-marah.

Akhirnya, dia meminta saya ngomong. Dia bilang, "Yock lo omongin deh si Iyek (Achmad Albar, vokalis God Bless)." Terus, saya bilang, "Ya sudah deh, kita rapatin."

Akan tetapi sebelum itu, pertanyaan Ian saya balikin ke dia. Saya bilang "Kenapa enggak lo aja yang ngomongin dia? Bukannya lo yang dekat sama dia?" Terus, Ian jawab, "Gue capek ngomong sama Achmad Albar, Yock. Karena itu Gong 2000 saya bubarin karena saya sudah enggak bisa lagi ngomongin dia."

Jadi, itu alasan Ian Antono buat saya ngomong. "Jadi, oke kalau itu alasannya, oke nanti saya yang ngomongin. Nanti, kalau Iyek datang, kita enggak usah rekaman, tapi kita rapat aja dulu deh."

Selang enggak berapa lama, Iyek akhirnya datang. Terus saya bilang, kita enggak usah rekaman, tapi kita meeting dulu waktu itu. Terus, dari situ duduklah Titiek (Titiek Saelan), istri Ian Antono. Terus, ada juga istri saya (Tiwi Puspitasari). Terus, ada Achmad Albar. Yang dibicarakan itu masalah apa? Bukan masalah narkoba. Yang dibicarakan masalah waktu, masalah schedule.

Terus, saya heran, kenapa malah saya yang dipukulin sama Achmad Albar, bukannya Ian Antono. Saya enggak ngerti, apa dia ngerasa terpojok karena ngerasa "parno" (paranoid).

Kalau orang ngebo'at (mengonsumsi obat-obatan) atau nyimeng (mengisap ganja) itu saya tahu tandanya. Tapi, kalau orang nyabu (mengonsumsi sabu), saya enggak tahu. Yang saya tahu, ini orang pakai kacamata hitam malam-malam, terus tidur lebih dari 12 jam (sehari), ada ribut-ribut juga enggak dengar apa-apa. Saya bilang, ini orang kenapa sih? Terus, saya tahunya dari Ian Antono. Saya tahu masalah sabu itu bukan dari mana-mana.

Yang saya ributkan waktu itu bukan masalah narkoba. Masalah jadwal rekaman. Saya enggak tahu masalah dia pakaw (mengonsumsi sabu).

Dia memukul saya sekali, dua kali. Saya enggak tinggal diam. Saya berusaha mempertahankan diri saya. Terus, saya sama Ian dilerai, terus saya dorong, dan di situlah dia (Iyek) mengambil beceng (pistol) dari dalam tas, saat itu juga. Terus, yang namanya istri Ian dan istri saya mendekap saya supaya enggak di-"dor" kena saya. Terus, saya ditarik pulang ke rumah saya, yang jaraknya hanya 500 meter dari studio saya.

Di situ, saya diamankan oleh istri Ian Antono sambil istri saya mengarahkan semua satpam di wilayah situ agar jangan sampai semua tetangga bangun. Kalau tetangga bangun, nanti saya bisa dituntut ada kejahatan narkoba dan mungkin yang lain-lain.

Kalau senjata itu diduga sebagai senjata mainan, apa komentar Anda?

Ha-ha-ha... itu kan upaya-upaya untuk menghindar. Kenapa baru dikatakan sekarang, itu kan alasan anak kecil. Saya enggak mau nanggapilah.

Setelah kejadian itu, apakah Anda putus silaturahim dengan Iyek?

Jangan salah, saya tidak pernah bersikap bermusuhan dengan Iyek. Ketika Addie MS membikin konser Classic Chrisye (Classic Chrisye: a Night to Remember, 12 Oktober 2009 di Jakarta), ada technical meeting pada saat itu. Di situ saya hadir dan Achmad Albar juga hadir. Dia tidak menegur saya, melihat saya juga tidak. Akhirnya, setelah berapa lama saya tepuk dia, saya bilang, "Apa kabar." Terus, dia bilang apa kabar juga. Memang, saya tidak berniat berbicara panjang lebar. Tapi, paling tidak saya menunjukkan, saya tidak sekerdil itu.

Sama Ian Antono pun saya begitu. Saya enggak mau silaturahim terputus karena kalau silaturahim terputus, itu dosa. Tapi, kalau masalah kerjaan di God Bless, silakan jalan sendiri saja karena saya punya jalan sendiri.



Editor :
Ati Kamil