Senin, 1 September 2014
Ryan Jadi Juara "Stand Up Comedy Indonesia 2011"
Penulis : Irfan Maullana | Sabtu, 17 Desember 2011 | 22:30 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/ BANAR FIL ARDHI
Ryan Adriandi (mengenakan blus kaus kuning) menerima hadiah Rp 50 juta sebagai juara Stand Up Comedy Indonesia 2011, yang grand finalnya digelar di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu malam lalu (14/12/2011), dan ditayangkan oleh Kompas di Layar Kaca pada Sabtu (17/12/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Ryan Adriandi, peserta dari Jakarta, akhirnya keluar sebagai juara dengan menyisihkan lawannya, Insan Nur Akbar, dari Surabaya pada grand final "Stand Up Comedy Indonesia 2011" atau sesi pertama yang diadakan di  Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu (14/12/2011) malam dan disiarkan Kompas di Layar Kaca hari Sabtu (17/12/2011) pukul 19.30-22.00.

Pada grand final yang terbagi dalam tiga babak itu, Akbar dan Ryan tak henti-hentinya mengocok perut lewat komedi yang mereka suguhkan di hadapan Indro "Warkop", Astrid Tiar, dan Butet Kartaredjasa, yang bertindak sebagai dewan juri.

Dalam tema "Juara", tampil berbaret sebagai ciri khasnya. Akbar lebih dulu membuka babak pertama dengan guyonan nakal yang dibungkusnya dengan cerdas. Akbar mendeskripsikan juara sebagai tujuan dari sebuah lomba dan pertandingan. "Nah... tahu bedanya lomba dengan pertandingan? Seperti lomba menyanyi, yang satu menghadap ke sini (kanan) dan yang satu menghadap ke situ (kiri) dan pemenangnya ditentukan juri. Sedangkan pertandingan itu langsung berhadapan satu sama lain dan yang kalah langsung ketahuan," cerita Akbar.

Akbar kemudian membahas lomba dan pertandingan dalam konteks kehidupan rumah tangganya. "Kalau saya lagi berantem sama istri saya itu (seperti perlombaan), yang satu menghadap ke sini dan yang satu menghadap ke situ, biasanya yang jadi juri itu mertua saya. Tapi... kalau sudah akur, itu sudah bisa dipastikan terjadi pertandingan (saling berhadapan) dan biasanya saya yang kalah duluan. Kalau saya yang menang, pasti istri senang," masih cerita Akbar disusul ledakan tawa para penonton berusia dewasa yang memahami maksud lawakannya.

Masih di babak pertama, Ryan, yang menjadi penampil berikutnya, tak mau kalah  kocak. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu tiba-tiba meniru gaya penampilan Akbar lengkap dengan baretnya. Ryan pun membalas ledekan yang sempat dilemparkan Akbar sebelumnya. "Tadi kata Akbar, juara itu ditentukan dari tinggi podiumnya. Tapi, dia lupa, pasti susah kalau mencari yang gelap, yang dicari pasti yang terang," sindir Ryan, yang memang memiliki kulit lebih terang dibandingkan dengan Akbar.

Babak kedua semakin seru. Humor kedua finalis tersebut kian menjadi dalam acara yang dipandu Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dhika, duo pembawa acara "Stand Up Comedy Indonesia 2011", ini. Konsentrasi Akbar dan Ryan sengaja dipecah oleh para hacklers (pengganggu)—Asep, Ernest, Daned, Wisben, Sakdiyah, Zulvan, Ali , Dwianto, Budi Kusumah, Daslan, dan Fauzy—para peserta lain "Stand Up Comedy Indonesia 2011" yang lebih dulu tumbang pada tahap-tahap sebelumnya. Namun, lagi-lagi, dengan humor yang matang, Akbar dan Ryan dengan mulus mampu melewati gangguan para temannya itu.

Babak ketiga menjadi puncak grand final Stand Up Comedy Indonesia 2011. Akbar menyuguhkan komedi dengan materi boarding room bandar udara, sementara Ryan memilih fitness center sebagai lawakannya. Tak pelak, Indro, Astrid, dan Butet semakin pusing untuk menentukan siapa yang pantas menjadi juara karena Akbar dan Ryan sama-sama mampu merebut perhatian para juri sepanjang tiga babak.

Namun, setelah melalui penilaian ketat dewan juri, Ryan akhirnya keluar sebagai juara "Stand Up Comedy Indonesia 2011". Sementara itu, Akbar harus puas di posisi runner-up meski penampilannya acap kali disambut hangat para penonton dengan bertepuk tangan sembari berdiri. "Kompor gas," kata Indro. "Ryan kamu paling konsisten," timpal Astrid. "Saya harus belajar dari kamu," ujar Butet, yang memuji sang pencetak prestasi baru di jalur stand up comedy di Indonesia.

Editor :
Ati Kamil