Kamis, 2 Oktober 2014
Konser Kantata Barock Diprotes Keluarga Rendra
Penulis : Ichsan Suhendra | Jumat, 30 Desember 2011 | 17:47 WIB
|
Share:
M Latief
Gladi resik konser Kantata Barock, Kamis(29/12/2011) malam tadi, di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Konser Kantata Barock yang rencananya akan dilangsungkan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (30/12/2011) malam ini, mendapat tentangan dari keluarga mendiang seniman WS Rendra. Pihak ahli waris mengaku keberatan atas digelarnya konser tersebut lantaran  pihak PT Airo Swadaya Stupa, selaku pihak penyelenggara konser tersebut, tak meminta izin sebelumnya atas sejumlah karya Rendra.

"Kami menuntut penyelenggara, bukan Setiawan Djodi atau Iwan Fals. Penyelanggara yang buat hajatan, mereka yang tanggung jawab," tutur Clara Shinta saat ditemui di Warung Apresiasi (Wapres) di kawasan Bulungan, Jakarta, Jumat.

Dikatakan Clara, pihak keluarga sudah menghubungi secara baik-baik kepada Setiawan Djodi, personel Kantata Barrock sekaligus sahabat baik almarhum Rendra, untuk menanyakan hal tersebut. Sayangnya, tidak mendapat sambutan.

Namun hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember silam, pihak  keluarga baru menerima surat pemberitahuan dari PT Airo. Dalam surat itu dijelaskan bahwa konser yang akan berlangsung nanti, Kantata Barrock, yang dinahkodai Setiawan Djodi, Iwan Fals, dan Sawung Jabo, akan membawakan karya alm. W.S. Rendra sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum.

Kekecewaan keluarga semakin memuncak karena surat itu seolah memberitahukan secara tidak langsung bahwa keluarga sudah menyetujui bahwa karya Rendra akan dibawakan. "Ahli waris, tentu mengetahui ada langkah-langkah untuk konser, tiba-tiba tanggal 28 (Desember)  muncul surat pemberitahuan yang tertanggal 27 itu. Bukan minta izin sebagaimana kepatutan, etika," tambah Clara.

Tak banyak tuntutan dari pihak keluarga. Mereka hanya menginginkan masyarakat tahu bahwa konser nanti malam itu masih menyisakan sejumlah masalah. P eristiwa ini bukan semata-mata karena tidak suka atau subyektif pribadi. Tapi untuk menegakkan etika dan hukum," pungkasnya.

Editor :
Eko Hendrawan Sofyan