Minggu, 21 Desember 2014
"Gelombang Korea" Menerjang Dunia
Minggu, 15 Januari 2012 | 18:03 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com -- Gelombang budaya pop Korea sedang menerjang dunia. Tengoklah, anak muda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncak gunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.

Penyanyi Korea, Shi Min-chul, muncul di atas panggung ulang tahun ke-17 Indosiar diiringi jeritan histeris penggemarnya, Kamis (12/1) malam, di Jakarta. Ia berkata, "Saya suka Indonesia, terutama cuaca, makanan, dan... gadis-gadisnya!" Sontak ratusan perempuan yang mendengar ucapan Shi Min-chul klepek-klepek. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan. "Aaaahhh.... Aku mau jadi gadismu," jerit seorang gadis belia.

Begitulah penampilan band-band Korea yang mengusung musik pop Korea (K-Pop), seperti Super Junior, Park Jung-min, The Boss, Girls' Generation, X5, dan N-Sonic, mampu membangkitkan histeria di mana-mana, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di banyak negara, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.

Hal yang mengagetkan, penggemar K-Pop begitu fanatik. Nadhila (18), remaja asal Bekasi, misalnya, saking cintanya kepada band Korea pernah nekat memburu personel band asal Korea, X5, di Bandara Soekarno-Hatta. "Saya sampai lemas dan kehilangan kata-kata," kata Nadhila menggambarkan perasaannya ketika berjabat tangan dengan Haewon, personel X5.

Belum puas, Nadhila menguntit X5 hingga ke hotel tempat mereka menginap. Ceritanya cukup dramatis. Ia menyamar sebagai wartawan agar bisa menembus barikade pengamanan hotel. Bersama rombongan wartawan, Nadhila berhasil menemui X5 di lobi hotel. Saking senangnya, ia menjerit keras. "Semua kaget dan menoleh ke arah saya," kenang Nadhila, yang kini menjadi personel Ladyschool, coverband Afterschool asal Korea.

Imajinasi Korea

Banyak orang menyebut serbuan K-Pop sebagai hallyu atau gelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjingan orang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak muda Asia kemudian mengenal K-Pop dan menggilainya. Maklum, K-Pop tidak hanya memanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebriti Korea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kini banyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea.

Dewi (23), misalnya, seumur-umur tidak pernah mengubah rambutnya yang hitam dan lurus panjang hingga pinggang. Namun, setelah kepincut penampilan artis Korea, ia memotong rambut dan mengecatnya menjadi coklat. Ujung rambutnya dibuat ikal mirip gaya rambut sejumlah artis top Korea. "Saya tidak mencontoh penampilan artis Korea tertentu. Pokoknya gayanya harus Korea," kata Dewi, yang ditemui di Salon Johnny Andrean di Plaza Semanggi, Rabu.

Hasrat berpenampilan ala Korea ini ditangkap sejumlah pengusaha salon di Jakarta. Mereka ramai-ramai mengusung tema K-Cut Style (potongan rambut Korea). Sederet butik kosmetik Korea, seperti Skin Food, The Face Shop, dan Missha, pun merangsek masuk ke Indonesia. Bahkan, toko roti Korea pun mulai tumbuh di Jakarta.

Ya, tanpa kita sadari, produk serba Korea telah mengepung kehidupan kita, mulai dari mobil, alat elektronik, gadget, hingga jaringan hipermarket Korea. Bahkan, "kampung" Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti bank, klinik, salon, restoran, hotel, kos-kosan, supermarket, dan toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten.

Perwakilan perusahaan Korea tumbuh subur di Indonesia. Berdasarkan data Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini, ada 1.300 kantor cabang perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia. Seperti kata Yoon Jae-kwon, salah satu agen artis Korea, "K-Pop sebenarnya hanyalah bagian kecil dari gelombang (penetrasi budaya) Korea ke sejumlah negara."

Latihan keras

Bagaimana Korea bisa mengekspor produk budaya popnya? Kim Hyun-ki, Direktur Pusat Kebudayaan Korea di Jakarta, menceritakan, awalnya Pemerintah Korea berperan banyak. Sekitar 20 tahun lalu, misalnya, pemerintah memberi beasiswa besar-besaran kepada artis dari berbagai bidang seni untuk belajar di AS dan Eropa. Dari program itu lahirlah artis-artis berpengalaman.

Seni pop Korea—termasuk K-Pop—pun berkembang. Selanjutnya, K-Pop digerakkan sepenuhnya oleh pihak swasta. Kini, ada ratusan rumah produksi yang setiap tahun mencetak banyak artis K-Pop.

Yoon Jae-kwon menceritakan, semua artis K-Pop digembleng selama enam bulan hingga satu tahun. Tampilan fisik mereka juga dipoles sebelum diluncurkan sebagai artis tingkat global. "Sistem pelatihan ini sudah ada sekitar tahun 1990-an dan sangat dirahasiakan. Bahkan, calon penyanyi tidak akan tahu sistem itu sampai mereka ikut pelatihan."

Korea, kini, memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Etnews.com, situs berita teknologi informasi Korea mengutip data The Korea Creative Content Agency, memprediksi, pendapatan Korea dari ekspor budaya pop, termasuk musik, sinetron, dan games, di seantero dunia tahun 2011 berjumlah sekitar 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 triliun. Angka ini meningkat 14 persen dibandingkan dengan 2010.

K-Pop juga mendongkrak citra Korea. Jutaan orang tertarik berkunjung ke Korea, termasuk menengok Pulau Nami di Provinsi Gangwon-do yang menjadi lokasi shooting Winter Sonata, sinetron Korea yang meledak tahun 2002. Choi Jung-eun, staf pengelola Pulau Nami, mengatakan, dulu pulau kecil dan sepi itu hanya dikunjungi sekitar 200.000 turis per tahun. Kini, pengunjungnya rata-rata 1,6 juta turis setahun.

Zaman Asia

Gelombang Korea mengalir deras dan tak tertahankan ke sejumlah negara. Ini memang zamannya Asia. "Tidak heran proses asianisasi terhadap kebudayaan global pun terjadi," ujar pengamat komunikasi Idi Subandy.

Proses pengglobalan budaya pop Korea ini, menurut sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robert, sama dan sebangun dengan pengglobalan produk kebudayaan industri kapitalistik lain, seperti burger McDonald dan Coca-Cola. Korea bisa melakukan itu karena residu kebudayaan dominan di Asia memang dekat dengan Korea, selain Jepang dan China. Persebaran penduduk Korea, Jepang, dan China di berbagai belahan dunia kian mengukuhkan dominasi kebudayaan mereka.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Fenomena orang keranjingan budaya pop Korea di sini kian menegaskan bahwa Indonesia hanyalah pasar yang diperebutkan. Robertus Robert pesimistis kita bisa mencetak "Indonesian Wave". Pasalnya, industri hiburan kita lebih cenderung mencetak pengekor daripada inovator.

Sayang memang. Ini tantangan bagi industri kreatif Indonesia. (BSW/ROW/IYA/DAY/SF)



Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Ati Kamil