Rabu, 17 September 2014
Krisyanto Kembali, Jamrud Bertenaga Lagi
Penulis : Irfan Maullana | Senin, 19 Maret 2012 | 09:30 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kenyataan berbicara. Jamrud kehilangan sinarnya ketika personel yang kelewat identik dengan grup rock itu, Krisyanto (vokal), "bercerai" dari Azis MS (gitar) dan Ricky Teddy (bas) pada 2008. Kini, Krisyanto sudah kembali menjadi personel band tersebut dan ambil bagian dalam album baru mereka, Eneri + Bumi dan Langit.

Dalam dua album terdahulu, dengan dua vokalis baru, Donal dan Iwan, serta dua personel baru yang lain, Irwan (gitar) dan Danny (drum), Jamrud tak bisa sebersinar ketika Krisyanto masih bergabung. Sementara itu, Krisyanto, yang telah menuntaskan petualangan solo kariernya pada 2011, melirik kembali band yang membesarkan namanya itu.

Singkat cerita, Krisyanto akhirnya "rujuk" dengan Azis dan Ricky. Mereka meluncurkan album baru, Energi + Bumi dan Langit. "Kembalinya Krisyanto sebagai vokalis Jamrud ternyata membawa sebuah keberuntungan bagi Jamrud. Artinya, Jamrud dan Krisyanto tidak bisa dipisahkan. Kalau mereka dipisahkan, bisa sama-sama lemah. Ibaratnya orang kawin, ini rujuk lah," ujar produser eksekutif album tersebut, dari Logiss Records, Log Zhelebour, beberapa waktu lalu.

Begitu Krisyanto bergabung lagi, Azis langsung menyodorkan lagu-lagu yang harus segera dinyanyikan oleh lelaki yang khas dengan tutup kepala dan kaca mata hitam itu. "Saya bangga bisa bawain musik yang penuh distorsi, musikalitasnya juga internasional," kata Azis.

Musik metal core hasil eksplorasi Azis menjadi warna baru sekaligus roh Jamrud sekarang. Sembilan lagu ada dalam album Energi + Bumi dan Langit, yaitu lain "Ciaat", "S.H.I.T (Sepertinya Hati Ini Terbakar)", "Sik Sik Sibatumanikam", "Cerita Usang", "The Devil Wears Batik", "Kontemplasi", "Idiot", "Sakit", dan "Nangislah Negeriku".

Menurut Azis, perubahan musik Jamrud saat ini tak lepas dari eksperimennya yang ingin menonjolkan raungan distorsi gitar, kecepatan hentakan drum, dan betotan bas yang begitu menonjok. "Lebih ke eksplorasi musikalitas saja, musikalitas individunya lebih ditonjolkan. Tapi, bukan berarti ke depannya akan seperti itu terus, ya intercept saja," papar Azis.

Azis tidak menampik bahwa musik Jamrud yang lebih bertenaga itu justru untuk melampiaskan ego bermusik para personelnya. Jadi, jangan berharap musik sekarang Jamrud akan mudah dicerna seperti pada era lagu-lagu "Putri", "Surti Tejo", atau "Berakit-rakit". "Untuk album ini beda banget, seperti langit dan bumi (dengan album-album sebelumnya). Awal dibuat pun bukan untuk meraih kesuksesan, untuk prestisius saja. Super kencang, rumit, semua (kemampuan bermusik) dikeluarin," jelas Azis.

Dengan album Energi + Bumi dan Langit dan Krisyanto masuk lagi ke Jamrud, Log berharap akan ada hal positif bagi musik rock Indonesia. "Di-launching-nya album ini menjadi sebuah tanda kebangkitan musik rock Indonesia, di mana Jamrud merupakan salah satu perwakilan genre rock. Saya harapkan Jamrud bisa menjadi lokomotif," ujar Log.

Lalu bagaimana dengan nasib Donal dan Iwan? "Kita harus nerima realita, kenyataan bisnis seperti itu. Kalau Jamrud dipikir sebuah pembelajaran, itu tidak tepat, lebih baik mereka (Donal dan Iwan) bikin band baru, lebih baik (Jamrud) memertahankan nama besar. Saya rasa Donal atau Iwan menyadari lah, demi Jamrud, mengertilah supaya Jamrud bisa come back lagi menjadi band besar," ujar Log lagi.

Editor :
Ati Kamil