Jumat, 31 Oktober 2014
Renungan Waisak Kebijaksanaan Tonggak Kejujuran
Sabtu, 5 Mei 2012 | 23:13 WIB
|
Share:
KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI
Sejumlah siswa Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan membaca Parita dalam perayaan Waisak 2556BE bersama para Bhiksu di sekolah mereka, Kamis (3/5/2012). Tiap tahun sekolah multikultur itu menyelenggarakan perayaan agama termasuk Waisak di halaman sekolah mereka.

OLEH JOTIDHAMMO MAHATHERA

Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa saat purnamasidi di bulan Waisak. Tiga peristiwa itu adalah kelahiran Pangeran Sidharta Gautama tahun 623 SM di Taman Lumbini, India utara; pencerahan kebuddhaan pertapa Sidharta Gautama pada 588 SM di Bodhgaya; dan mangkatnya Buddha Gautama tahun 543 SM di Kusinara.

Waisak akan berarti apabila hikmah Waisak digunakan dalam kehidupan dewasa ini. Kejujuran merupakan sikap moral bagi tingkah laku, tutur kata, dan pemikiran untuk menyelesaikan berbagai masalah. Kejujuran adalah dasar setiap upaya menjadi pribadi yang kuat secara moral. Tanpa kejujuran, manusia tidak dapat berani menjadi diri sendiri.

Tidak jujur berarti tidak seia-sekata, atau belum sanggup mengambil sikap lurus. Padahal, sikap inilah yang menjadikan kita melakukan apa pun dengan tulus, disertai kesungguhan dari lubuk hati paling dalam.

Kejujuran bagi kehidupan masyarakat akan menumbuhkan sikap saling percaya yang sangat diperlukan bagi relasi sosial. Kepercayaan akan membantu kehidupan sosial tumbuh dalam bingkai persatuan-kesatuan, saling tolong untuk meraih cita-cita keadilan sosial dan kebahagiaan sosial.

Dasar pijakan

Kejujuran merupakan dasar pijakan bagi suatu kebenaran yang sungguh-sungguh, bukan rekayasa rasionalisasi. Sering kali pembenaran suatu hal akan mengaburkan kenyataan sesungguhnya. Padahal, kebenaran nyata sangat penting bagi upaya menyelesaikan masalah hidup.

Kalau kelebihan dan kekurangan hidup dapat diketahui jelas, seseorang akan memiliki kemampuan melihat diri sesuai kenyataannya, dan pilihan tindakan tepat yang akan dilakukan. Apabila kejujuran dipadukan dengan sikap malu berbuat buruk dan tahu akibat perbuatan buruk bagi diri sendiri maupun orang lain, hal itu akan merupakan dasar pijakan bagi kemandirian moral dan keberanian moral.

Tekad mengikuti pandangan benar sesuai ajaran Buddha adalah keberanian moral, yang membutuhkan sikap rela berkorban demi mempertahankan kebenaran. Pengorbanan itu tidak sia-sia karena mempertahankan kebenaran berarti menumbuhkan kemajuan dan kejayaan hidup.

Bagaimana kejujuran dapat ditegakkan? Pandangan benar dan pikiran benar adalah dasar bagi timbulnya kejujuran. Pandangan atau pengertian benar berupa pemahaman terhadap hukum kebenaran yang berlaku dalam kehidupan.

Pikiran benar merupakan kondisi pikiran yang menopang implementasi hukum kebenaran tersebut. Ibarat tanaman, pandangan benar adalah akar tanaman, sedangkan pikiran benar adalah tanah tempat tumbuh akar tanaman tersebut. Pandangan benar dan pikiran benar adalah tumpuan tumbuh-kembangnya kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

Menabur-memetik

Pengertian karma sebagai sebab-akibat perbuatan merupakan salah satu pandangan benar. Buddha mengatakan, sesuai benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dipetik. Ia yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat buruk akan menerima keburukan.

Pandangan itu akan memperkuat pengendalian diri untuk tidak melakukan keburukan, atas dasar pengertian bahwa kita akan memetik hasil akibat dari perbuatan buruk itu. Sebaliknya, sangatlah perlu melakukan kebaikan berulang-ulang.

Orang yang meyakini pandangan sebab-akibat perbuatan tidak akan mengabaikan pertimbangan moral antara baik dan buruk. Ia tidak terjerat pada keserakahan dan keangkuhan terhadap harta kekayaan serta kuasa jabatan.

Keserakahan dan keangkuhan sering kali merendahkan bahkan meniadakan nilai-nilai moral, serta penghargaan terhadap kebaikan di atas keburukan. Oleh sebab itu, orang yang memiliki pandangan karma akan memandang kebaikan sebagai hal terpenting untuk dihargai.

Pandangan karma juga akan mencegah keputusasaan dan kepasrahan terhadap nasib, sedangkan perjuangan melakukan hal terbaik adalah peluang yang selalu ada. Jadi, pandangan benar terhadap karma akan menimbulkan pengendalian diri, penghargaan terhadap kebaikan, serta perjuangan hidup terbaik.

Pikiran benar berarti jauh dari mementingkan diri sendiri, tidak berniat buruk, dan nir-kekerasan. Pikiran benar merupakan bentuk pikiran yang sangat peduli terhadap kehidupan bersama, baik sebagai sesama manusia maupun sesama makhluk hidup, termasuk lingkungan hidup. Kepedulian diungkapkan dalam pikiran rela berkorban, meniadakan keserakahan dan kebencian, dengan mengutamakan kepentingan orang lain, pengorbanan, dan persahabatan.

Cita-cita luhur

Orang yang memiliki pandangan benar dan pikiran benar adalah orang yang mengembangkan kebijaksanaan ajaran Buddha. Pandangan benar dan pikiran benar akan memotivasi hidup kita dalam kebaikan. Kejujuran adalah salah satu bentuk kebaikan.

Marilah kita mengembangkan kebijaksanaan yang merupakan tonggak bagi penegakan kejujuran dalam hidup sehari-hari demi cita-cita luhur kehidupan. Kejujuran tingkah laku, tutur kata, dan pemikiran adalah cara yang benar untuk meraih cita-cita hidup sesuai kebenaran untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan, dan kebebasan.

Selamat Hari Raya Waisak 2556/2012, semoga berkah Waisak melimpah pada kita semua, hidup berbahagia bebas derita lahir maupun batin. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi....

JOTIDHAMMO MAHATHERA Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono