


JAKARTA, KOMPAS.com -- Arjuna gembira menerima undangan dari Raja. Ia bingung lantaran belum sempat belanja baju baru. Lewat saluran internet bergambar, dia bertanya kepada anak Antaboga, "Di sana ada mal nggak, Bro?"
Anak Antaboga bernama Nagatacmala menjawab. "Emangnya mal cuma ada di atas (bumi) aja, di sini juga ada. Ada Mal Saptapertala dan Saptapertala Town Square. Outlet-outlet terkenal juga sudah buka di sini."
Arjuna, Yudisthira, Bima, Nakula-Sadewa, dan ibu mereka, Dewi Kunti, pun berangkat ke Saptapertala yang berlokasi di perut bumi. Mereka sempat tersesat di jalan lantaran peranti global positioning system (GPS) mereka rusak. Namun, akhirnya mereka sampai juga di Kerajaan Saptapertala.
Itulah cuplikan adegan sandiwara wayang hiburan Pandawa Vs Kurawa yang tayang di Indosiar setiap Senin dan Selasa malam. Acara itu merupakan adaptasi dari sandiwara wayang hiburan di Motion Radio 97,5 FM Jakarta dengan lakon Asal Muasal Pandawa dan Kurawa.
Seperti versi radionya, Pandawa Vs Kurawa meletakkan wayang dalam ranah kehidupan kota metropolitan. Itu sebabnya, wilayah pergaulan dan gaya hidup para wayangnya tidak jauh-jauh dari mal atau gadget komunikasi. Alih-alih memakai kemben dan kain, Dewi Kunti memakai blus dan sepatu jinjit (high heels). Dia mengenakan gaun panjang ketat di bagian pinggul dan pinggang. Matanya selalu berbinar-binar mendengar kata belanja dan diskon.
Yudhistira dan Arjuna sehari-hari mengenakan kemeja lengan panjang, celana blue jeans atau katun, dan sepatu sport. Bima biasa mengenakan rompi tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot tubuh bentukan industri kebugaran. Celananya jins dengan sepatu bot berhias metal yang biasa dipakai penyanyi rock.
Cara bicara memberi kesan mereka adalah anak gaul kota besar. Simbol yang menunjukkan bahwa mereka adalah tokoh wayang hanya terbaca dari tutup kepala mereka.
Transformasi radio-televisi
Pandawa Vs Kurawa, menurut Saad Bima selaku sutradara, merupakan bentuk visual dari sandiwara wayang hiburan yang telah lebih dulu sukses di Motion Radio. "Ceritanya tidak kami ubah," katanya.
Lakon wayang benar-benar muncul dalam format hiburan khas televisi. Bentuknya kira-kira tidak jauh dari Opera van Java. Ada narator dan pemain wayang yang bisa berinteraksi, saling protes, ejek, dan interupsi.
Kisah pewayangan yang sedang bergulir tiba-tiba dipelesetkan jadi humor. Wayang sering latah menggerakkan badan setiap kali mendengar alunan musik, termasuk berdansa waltz dengan iringan lagu "Last Waltz". Begitulah, lakon pewayangan ini menjadi benar-benar lepas dan terkesan dibuat sekadar untuk memancing tawa penonton.
Tokoh-tokoh wayang semuanya terkesan melebur jadi satu karakter tunggal. Arjuna yang lembut, Yudhistira yang lurus, dan Bima yang temperamental di acara itu tampil sama ceria dan sama "horenya". Dewi Kunti dan Nagagini tampil sama kenesnya.
Arie Dagienkz, penulis skenario, mengaku belum puas dengan tampilan Pandawa Vs Kurawa versi televisi. "Apa yang saya lihat belum sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Kami akan terus mencari format yang lebih cocok," ujar Arie.
Imajinasi
Radio dan televisi, bagaimanapun, adalah dua media yang berbeda. Radio bersifat audio, sedangkan televisi bersifat audiovisual. Karena sifatnya yang auditif, semua adegan dinarasikan dan dideskripsikan. Katakanlah Arjuna mau memanah orang, dia akan berteriak, "Saya panah dia." Wuuuss..., bunyi anak panah berdesis. Kemudian, orang yang dipanah berteriak, "Aku kena panah. Aaahhhh, aku mati."
Dengan cara begitu, rentetan adegan dan dan atmosfer sandiwara ditanamkan dalam imajinasi pendengar.
Ketika muncul dalam format televisi, tidak ada lagi ruang imajinasi karena semua adegan dan atmosfer sandiwara ditampilkan secara visual. Kecantikan Dewi Kunti yang di radio hanya bisa dibayangkan muncul dalam bentuk yang pasti di televisi: Donna Harun.
"Karakter media yang berbeda memang memberi tantangan sendiri," kata Saad. Ada adegan-adegan tertentu yang di radio mudah dituturkan, lanjut Saad, tetapi di televisi sulit digambarkan di layar kaca. Contohnya, adegan kebakaran.
Segmentasi radio dan televisi juga berbeda. Pendengar Motion Radio adalah anak muda produk budaya metropolitan Jakarta, sementara rentang usia pemirsa Indosiar lebih lebar dengan latar budaya yang lebih beragam. "Pemirsa kami yang ada di pelosok Indonesia belum tentu mengerti idiom yang digunakan anak muda Jakarta, seperti Seven Eleven," ujar Saad.
Bahasa televisinya mungkin adalah rating. Wayang tampaknya juga perlu mengejar rating agar mendatangkan pemirsa (dan iklan). Wayang pada acara tersebut hanya dipinjam nama dan cerita dasarnya. Selebihnya hanyalah dagelan. Bagaimanapun, sandiwara wayang komedi ini memberi sedikit warna di tengah kian seragamnya corak acara hiburan di televisi kita. (BUDI SUWARNA)