Minggu, 19 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
LIPUTAN KAMPUS Kita, Bumi, dan Masa Depan
Selasa, 19 Juni 2012 | 04:00 WIB
|
Share:
KOMPAS/FABIOLA PONTO
Mahasiswa mengikuti aksi peduli lingkungan dengan mengumpulkan sampah.

Matahari memancarkan sinarnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5/6). Namun, pendingin ruangan menyejukkan Auditorium Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Kampus II, tempat berlangsungnya ”Kompas” Kampus & Tupperware Green Living. Kampus ini berlokasi di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

petikan gitar Dik Doank mengalun. Ia menyanyikan lagu tentang manusia dan alam. Nyanyian itu sekaligus mengajak siapa pun merenung.

Dilengkapi pemutaran foto seputar kebakaran hutan, lahan kering, dan banjir yang melanda, Dik Doank mengingatkan, kondisi itu terjadi atas perilaku manusia. Bumi menangis.

Sementara petikan gitar masih terdengar, Shahnaz Haque mengungkapkan harapan kepada generasi muda. Harapan terkait kepedulian terhadap lingkungan.

”Kami ingin anak muda membawa dunia menjadi lebih baik. Bangsa Indonesia bangsa yang besar, dititipkan kepada kita semua. Kalian, penjaga Bumi dan abdi surga, jangan bilang mau masuk surga kalau tidak menjaga Bumi.”

Seketika itu juga sekitar 300 orang yang memenuhi auditorium bertepuk tangan. Shahnaz meminta mahasiswa berjanji lebih mencintai lingkungan dalam keseharian mulai kini hingga masa mendatang. Dia tersenyum puas saat pengunjung berteriak dan mengucap janji.

Langkah sederhana

Mahasiswa tak perlu memikirkan cara rumit untuk berperan serta menyelamatkan Bumi dari kerusakan yang makin parah. Sebagian mahasiswa UIN Alauddin rupanya mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan kepedulian.

Pada hari pertama Kompas Kampus & Tupperware Green Living, sekitar 100 orang mengikuti aksi peduli lingkungan. Berangkat dari depan gedung Rektorat di Kampus II, mereka berkeliling ke fakultas-fakultas yang berada di UIN Alauddin.

Sambil membawa kantung sampah berwarna hitam, mereka mendatangi fakultas-fakultas di lingkungan UIN Alauddin, antara lain, Syariah dan Hukum, Tarbiyah dan Keguruan, Ushuluddin dan Filsafat, Dakwah dan Komunikasi, Adab dan Humaniora, Sains dan Teknologi, serta Ilmu Kesehatan.

Meski panas menyengat, semangat mereka tak surut. Dengan wajah mengernyit kepanasan, mereka memunguti sampah di jalan-jalan yang dilalui. Sampah plastik menjadi sasaran utama. Itu karena plastik merupakan bahan yang memerlukan waktu 500 tahun hingga 1.000 tahun agar terurai tanah.

Tangan kanan Iksan, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, yang turut mengumpulkan sampah, mengusap peluh di kening setelah berkeliling ke sejumlah fakultas. Sementara tangan kirinya menyeret kantung plastik berisi sampah.

Kantung itu tak penuh, kira-kira terisi setengah. Di dalamnya berisi bermacam-macam sampah kering. Selain kantung plastik beragam ukuran, Iksan dan kawan-kawan juga memungut sampah lain, termasuk botol kosong.

”Bukan plastik saja, sampah kering apa saja kami pungut,” ujar dia sambil membuka tempat sampah yang dibawa dan menunjukkan isinya.

Bagi Iksan, kegiatan itu membawa dampak positif bagi peserta. Meski kelelahan dan kepanasan, usaha mereka terbayar dengan hasil yang diperoleh.

”Kegiatan begini asyik sekali, tidak masalah biarpun panas karena mengumpulkan sampah sambil bercanda dengan teman-teman,” tuturnya. Ia juga menganggap aksi peduli terhadap lingkungan merupakan salah satu cara memperluas pergaulan.

Fai, peserta aksi peduli lingkungan yang berasal dari komunitas di luar kampus, mengutarakan, sudah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa. Aksi tersebut, menurut dia, mendorong dirinya lebih mencintai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup

Ajakan mencintai lingkungan terus dikumandangkan. Berbagai aksi kepedulian makin sering digelar untuk menumbuhkan kesadaran memelihara Bumi.

Meski demikian, upaya itu harus terus dilakukan agar perilaku menjaga lingkungan menjadi kebiasaan. Membuang sampah pada tempatnya, tak menggunakan kemasan plastik sekali pakai, dan mengurangi pemakaian kantung plastik tidak hanya dilakukan saat kegiatan berlangsung.

Kompas Kampus & Tupperware Green Living di Makassar merupakan penutup dari serangkaian kegiatan di delapan kota yang dimulai awal Mei 2012. Sebelumnya, Kompas Kampus & Tupperware Green Living juga digelar di Lampung, Malang, Surabaya, Solo, Semarang, Bogor, dan Jakarta.

Seperti dilontarkan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Khalifah Mustami, bentuk kepedulian lingkungan agar Bumi bebas dari sampah plastik tidak selesai dalam satu aksi. Manusia harus menjadikan hidup bersih sebagai gaya hidup. Untuk kita, Bumi, dan masa depan.

(FABIOLA PONTO)