Selasa, 16 September 2014
Belajar Menghargai Mimpi Lewat "Cita-citaku Setinggi Tanah"
Kamis, 4 Oktober 2012 | 07:36 WIB
|
Share:
IST
Adegan dalam film Cita-citaku Setinggi Tanah

JAKARTA, KOMPAS.com -- Setiap orang tentu memiliki cita-cita. Hal ini juga yang selalu ditanyakan oleh guru di sekolah kepada muridnya, atau oleh orangtua kepada anaknya. Semakin tinggi dan mulia cita-cita yang diimpikan, tentu akan semakin bangga orangtua dan guru yang mendengarnya.



Namun tidak dengan Agus Suryowidodo, yang bercita-cita ingin makan di restoran padang. Sontak satu kelas tertawa terbahak-bahak meremehkan cita-cita si Agus. Ibu guru pun kembali bertanya untuk memastikan supaya Agus tidak keliru.

"Iya, benar kok! Cita-cita saya adalah ingin makan di restoran padang!" Itulah yang diucapkan oleh Agus Suryowidodo dengan mantap saat dikonfirmasi oleh ibu guru di sekolah.

Dibandingkan dengan teman-teman dekatnya yang memiliki cita-cita setinggi langit, cita-cita Agus memang terkesan remeh dan hanya setinggi tanah.

Coba bandingkan dengan Sri yang ingin menjadi artis sinetron terkenal, Jono yang bercita-cita menjadi tentara, dan Puji yang bercita-cita ingin membahagiakan orang lain, tentu cita-cita Agus tidak sebanding.

Tentu bukan tidak beralasan bila Agus bercita-cita ingin bisa menikmati hidangan yang tersaji di restoran padang. Ayah Agus bekerja di pabrik tahu, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang sangat mahir membuat tahu bacem.

"Tahu bacem buatan ibuku paling enak sekabupaten. Saking jagonya bikin tahu bacem, setiap pagi aku sarapan tahu bacem, siang makan tahu bacem. Saat makan malam, aku masih diberi tahu bacem juga," cerita Agus yang rupanya bosan dengan menu makanan yang monoton.

Itulah yang tergambar pada film layar lebar pertama garapan Eugene Panji, yang berjudul  Cita-citaku Setinggi Tanah (CCST).

Namun, Eugene tidak ingin mengetengahkan mimpi dan cita-cita sebagai pusat cerita dalam film ini.

Proses, itulah yang menjadi pusat cerita dalam film ini. Bagaimana seorang Agus yang berasal dari keluarga sederhana di desa di kaki gunung Merapi, Muntilan, Jawa Tengah, harus berjuang dan berusaha untuk mengumpulkan uang agar bisa menikmati hidangan yang disajikan di restoran padang.

Agus harus menahan keinginannya untuk jajan dan membeli mainan. Dia juga mengorbankan waktu bermain dengan tiga sahabatnya; Sri, Jono, dan Puji.

Waktu yang seharusnya digunakan oleh Agus untuk bermain, dia habiskan sebagai pengantar tahu dan ayam, demi mendapatkan upah sebesar Rp 3.500 rupiah.

Ide cerita CCST berawal dari kegelisahan Eugene Panji dan rekannya, Marina Mayang Sari, yang melihat anak-anak lebih menyukai berkeliaran di mal atau pusat perbelanjaan dan bermain dengan alat elektronik yang dikenal dengan sebutan "tablet".

Eugene mendedikasikan film ini untuk anak-anak Indonesia, agar bisa lebih menghargai dan memaknai arti mimpi yang sesungguhnya melalui proses untuk mencapai mimpi tersebut.

"Anak-anak modern ini seolah-olah lupa dengan esensi mereka akan mimpi, dan orangtuanya mendukung apa yang anak-anak ini lakukan," kata Eugene pada jumpa pers CCST di Jakarta, Selasa.

Adegan demi adegan dalam film ini tampak sederhana dan natural, namun Eugene berhasil memberikan makna dalam setiap adegan, di mana arti sebuah perjuangan itu sangat dijunjung tinggi sebagai pusat cerita.

Ada satu adegan di mana Agus meminta bantuan Puji untuk menemaninya mencari sebatang bambu untuk dijadikan celengan, demi menabung untuk membeli makanan di restoran padang. Adegan ini memang tampak biasa saja, namun Eugene tampaknya berhasil menyentuh penonton melalui makna perjuangan yang tersirat.

"Oalah Gus, bilang dong kalau mau bikin celengan. Kenapa ndak beli saja to," tanya Puji yang kebingungan dengan perilaku sahabatnya itu. Jawaban Agus sederhana namun sangat mengena.

"Lha piye to Ji (ya gimana sih Ji), kalau aku beli celengan nanti uangku habis. Lantas apa yang mau ditabung?"

"Aguuus..Agus. Cita-citamu itu rendah, tapi menyusahkan," ujar Puji kepada Agus.

Puji pun tampaknya mengerti betapa Agus harus berjuang dengan susah payah untuk menggapai cita-citanya yang setinggi tanah itu.

Sebagai orang baru dalam perfilman Indonesia, Eugene yang lebih dikenal sebagai sutradara video musik, ternyata memiliki misi khusus untuk film CCST.

Film yang dibintangi oleh Nina Tamam, Agus Kuncoro, Iwuk Tamam, dan Donny Alamsyah ini memiliki tujuan baik yaitu mendonasikan seluruh hasil bersih dari penayangan film ini di bioskop, kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).

"Komitmen berbagi ini diwujudkan dengan berbagi ilmu dengan orang-orang yang berlum pernah terlibat dalam pembuatan film," kata Eugene.

Benar saja, sebagian besar pemain dalam CCST dan seluruh kru, kecuali juru kamera, adalah orang-orang yang baru dalam industri perfilman.

"Melalui film ini, saya berkesempatan untuk berbagi nilai-nilai baik yang terkandung di dalam cerita kepada masyarakat luas, dan yang terpenting lagi adalah berbagi hak 'hidup yang lebih baik' kepada semua anak penderita kanker," imbuh Eugene.

Sumber :
ANT
Editor :
Eko Hendrawan Sofyan