Kamis, 18 Desember 2014
Stand Up Comedy Indonesia: Negeri Ini Lucu
Minggu, 17 Februari 2013 | 13:56 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI
Ryan Adriandi akhirnya menjadi juara Stand Up Comedy Indonesia 2011, mengalahkan Insan Nur Akbar, dalam Grand Final Stand Up Comedy 2011, yang digelar oleh Kompas di Layar Kaca, di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu malam lalu (14/12/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com -- "Laut itu egois. Kenapa dia airnya banyak. Danau 'aja dikit'. Air sungai juga 'dikit'. Tapi, diminta juga sama laut. Pas sudah sampai laut, airnya jadi asin. Dia enggak 'mikirin' perasaan ikan. Entar kalau matanya kelilipan bagaimana?"

Itu lontaran Fico, peserta Stand Up Comedy 3 KompasTV yang tayang setiap Minggu pukul 20.00. Materi yang disampaikan Fico itu dinilai oleh juri Raditya Dika sebagai unik. Raditya sampai sulit mendapatkan kerangka teori untuk mengomentari penampilan peserta dari Jakarta itu. "Itu baru banget," kata Raditya terheran-heran.

Pendekatan personifikasi serupa itu juga digunakan Fico dalam putaran kedua yang tayang pada Minggu (17/2) malam ini. Putaran kedua musim ketiga itu mengambil tema cinta dalam rangka Hari Valentine. Ketika peserta lain memilih tema percintaan dengan kekasih, Fico mengolah bahan tentang cinta segi tiganya dengan botol minuman.

"Gue enggak tau kalau si botol itu punya pacar. Namanya tutup botol." Ketika tutup botol dibuka, dan air diminum, sang tutup merasa cemburu karena sang botol telah berciuman dengan si peminum.

Boleh dikata ini ide liar. Sebuah permainan imaji dengan cara memanusiakan benda mati. Materi semacam itu cukup jarang digunakan para komika Suci dalam dua musim terakhir. Fico mengambil persona atau gaya pembawaan seseorang yang polos, kekanak-kanakan.

Wakatobi, Batak, Madura
Stand Up Comedy Indonesia 3 memperlihatkan kelebaran latar belakang peserta. Sebanyak 18 finalis berasal dari beberapa daerah, dengan profesi beragam. Ada Ari "Keriting" Satriaddin dari Wakatobi yang kuliah di ITN, Malang. Muslim perawat dari Madura, Bene Dion Rajaguguk dari Tebing Tinggi (Sumut), Alison Victoria yang menyebut diri sebagai Bule Bandung adalah ekspatriat, direktur prasekolah di Bandung.

Keragaman latar itu memperkaya khazanah materi komedi di jagat perkomedian Indonesia. Mereka mengulik karakteristik dan tipikalisasi yang melekat, atau setidaknya dilekatkan orang, pada daerah asal mereka. Ari Kriting, misalnya, mengangkat tema olahraga, karena banyak atlet datang dari timur. Kekalahan tim sepak bola Indonesia itu kata materi dalam penampilannya karena kekurangan orang dari Indonesia timur.

"Orang timur itu jago main bola karena kebiasaan berburu. Orang timur itu kalau berburu, yang namanya anoa, kasuari, babi hutan itu kita kejar, kita kejar, kita kejar, kemudian kita tackling...," kata Ari yang mendapat tepuk riuh.

"Kalau Kenya menang lawan Indonesia, itu karena latihannya memang lebih berat. Mereka latihannya tackling cheetah," kata Ari menyebut binatang yang bisa berlari sampai 100 kilometer per jam.

Pada putaran kedua, Ari masih menyitir sedikit soal tackling sebagai pemuncak tampilan. Kali ini ia bercerita tentang romantisisme berjalan di pantai kala senja bersama sang pacar. Ia membawa tombak untuk menombak gurita. "Karena gurita susah di-tackling. Kakinya banyak...."

Muslim perawat dari Madura memainkan tipikalisasi orang Madura yang banyak berbisnis besi bekas. Tiang mikrofon ia ketuk-ketuk, lalu ia taksir harganya Rp 7.500. Bahkan kawat gigi pacar pun ia taksir harganya.

Bene Diony Rajagukguk membawa tipikalisasi orang Batak yang dalam materi Bene digambarkan berkarakter tegas. "Orang Batak kalau ber-stand up comedy pasti lucu karena yang tidak ketawa akan dipukuli...."

Indro Warkop, juri Suci 3, menilai materi dengan warna tipikalisasi kedaerahan itu merupakan kekayaan bahan berkomedi komika di Indonesia. "Itu kekayaan kita dan itu sah, selama mereka bisa menyampaikan dengan baik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menertawakan diri sendiri," kata Indro.

Lebih siap
Ajang Stand Up Comedy Indonesia yang digelar KompasTV untuk ketiga kalinya sejak 2011 terbukti semakin banyak diminati khalayak. Produser Eksekutif Suci 3 Johanna Dewi Kartika menyebutkan, peserta audisi Suci 3 mencapai 665 peserta, alias dua kali lebih besar daripada Suci 2. Mereka mengikuti audisi di 4 rayon, yaitu Jakarta yang diikuti 250 peserta, Bandung (180), Surabaya (120), dan Yogyakarta (115).

Dari materi penampilan, peserta Suci 3 tampak lebih siap dan cukup matang dibandingkan dengan peserta dua musim sebelumnya. Berbeda dengan sebelumnya, peserta kali ini hanya diberi waktu tampil 3 menit. Durasi ringkas itu mengondisikan komika untuk merancang materi sematang mungkin. "Peserta sudah mendapat pembelajaran dari sesi 1 dan 2," kata Johanna.

Indro yang menjadi juri sejak awal penyelenggaraan Suci menggambarkan, 90 persen peserta kali ini sudah memahami benar apa itu ber-stand up comedy. Pada musim pertama 2011, kata Indro, peserta audisi belum bisa membedakan antara komedi tunggal dan melawak gaya badutan, dan bercerita (story telling). Ia menduga, bertumbuhnya komunitas komedi tunggal di beberapa daerah turut memberikan kontribusi pada kesiapan peserta Suci 3.

Kesiapan peserta ditunjang juga oleh penggodokan yang dilakukan tim Suci selama masa karantina. KompasTV melibatkan para pemenang Suci 1 dan 2 sebagai mentor, seperti Ernest Prakasa, Gilang Bhaskara, G Pamungkas, Insan Nur Akbar, juga para senior, seperti Raditya Dika dan Panji Pragiwaksono.

Salah satu bagian dari tahapan penggodokan peserta itu adalah lewat semacam lokakarya dengan bimbingan para komika senior tersebut. Materi yang akan ditampilkan disimulasikan terlebih dahulu sehingga memungkinkan adanya penajaman materi. Bahkan, materi tersebut juga dijajal dulu di sebuah kafe.

"Di Suci 3, peserta belajar menjadi comic profesional. Mereka tidak sekadar mengejar hadiah, tetapi belajar ilmu," kata Johanna.

Pada akhirnya, penonton memang membutuhkan hiburan yang bisa membuat mereka tertawa. Bukan suguhan dari orang yang masih dalam taraf mencoba-coba untuk bikin orang tertawa. Karena tertawa itu tidak bisa dicoba-coba. (XAR)



Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Ati Kamil