Sabtu, 19 April 2014
Fico "Stand Up Comedy Indonesia" Dulu Cuma Penonton Setia
Penulis : Irfan Maullana | Senin, 1 April 2013 | 17:28 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
Fico Fachriza, yang akrab disapa Fico, berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (1/4/2013). Fico merupakan salah seorang komika yang masuk babak lima besar Stand Up Comedy Indonesia Season 3.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tak banyak yang tahu bahwa selama ini salah seorang komika yang masuk babak lima besar Stand Up Comedy Indonesia Season 3 (SUCI 3), Fico Fachriza, dulu hanyalah seorang penonton setia program komedi yang ditayangkan oleh KompasTV itu dari Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta, setiap Minggu mulai pukul 20.00 WIB.

"Dari season dua berjalan, saya sudah suka sama Stand Up Comedy Indonesia itu. Ketika season dua berjalan, saya memang berniat ikut season tiga, saya nonton terus dari babak 10 besar sampai final waktu itu, enggak pernah absen," cerita Fico, yang bersama empat komika lainnya berkunjung ke kantor Redaksi Kompas.com, Jakarta, Senin (1/3/2013).

Singkat cerita, Fico berhasil menembus babak lima besar SUCI 3 dengan gaya lawakannya yang khas. Misalnya, suatu ketika Fico mengangkat lawakan mengenai kecap.

"Kecap ini sering diremehkan, padahal kecap punya peran penting. Kalau enggak ada kecap, bisa-bisa nasi uduk sama nasi goreng ketukar. Padahal, itu juga nasi uduk sudah dengki banget sama nasi goreng, yang lebih dulu go international,"  ucap Fico dalam canda.

Contoh lainnya, "Aku ke sini (kantor Redaksi Kompas.com) tadi naik ojeg, di jalan ketemu orang gila naik sepeda. Terus, orang gilanya bilang, 'Mas, Mas, mau tukeran enggak motornya sama sepeda?', 'Ah, Bapak gila kali. Masa tukeran', 'Ya kali aja Masnya mau ikutan gila'," celoteh Fico dalam canda.  Yang anehnya, kenapa gue mesti nimpali orang gila," lanjutnya.

Bisa melontarkan canda seperti itu, bagi Fico cukup sulit, walau pun ujung-ujungnya ia berhasil membuat para penontonnya tertawa. "Bahannya dari sekitar, cuma saya menulisnya dengan majas personifikasi. Padahal, kalau orang di rumah ngelihatnya, 'Ah itu Fico bego.' Padahal, buat nulis personifikasi, enggak segampang itu, enggak bisa bego buat nulis personifikasi," jelas Fico.

Editor :
Ati Kamil