Sabtu, 26 Juli 2014
Akhir Pergulatan "Si Wanita Besi"
Senin, 8 April 2013 | 21:20 WIB
|
Share:

OLEH MYRNA RATNA

Perjalanan hidup Margaret Thatcher diperankan dengan memesona oleh Meryl Streep. Sebuah siklus hidup yang hampir mencapai ujungnya. Sebagai politisi muda, perdana menteri yang garang, dan perempuan renta....

Sosok wanita tua itu melangkah terseok di jalanan Inggris. Masuk ke dalam toko, membeli sekantong mentega. Gerakannya yang lambat membuat petugas kasir tak sabar. Ketika kembali ke apartemennya, ia berkata kepada sang suami, "Harga mentega semakin mahal saja...."

Ini adalah pembuka yang sangat menyentuh dari film The Iron Lady. Maknanya demikian dalam karena langsung mengungkap banyak hal. Tentang sosok yang sederhana. Tentang pemimpin yang ingin tahu apa yang dihadapi rakyatnya (harga mentega yang selalu naik). Dan tentu saja tentang kesepian seorang perempuan tua.

Cara penuturan yang kilas balik, Thatcher di waktu muda (diperankan oleh Alexandra Roach) dan Thatcher di masa jaya dan tuanya (diperankan dengan memukau oleh Meryl Streep), menegaskan kekuatan karakter Perdana Menteri Inggris yang memiliki karier terpanjang itu (11 tahun, 1979-1990)

Thatcher muda digambarkan sebagai pekerja keras dan ambisius. Sedari awal, Thatcher memiliki mimpi-mimpi yang berbeda dengan perempuan sebayanya. Ia memandang dirinya setara dengan laki-laki dan tak jengah dianggap ”aneh” oleh lingkungannya. Sebab, seperti juga yang selalu ditanamkan sang ayah, ia yakin memiliki "jalan hidupnya sendiri".

Sebagai anak pedagang kelontong dari Grantham, Thatcher merasakan betul gejolak yang terjadi di tataran akar rumput, termasuk bagaimana pergeseran harga bahan pokok bisa berdampak signifikan terhadap ekonomi sebuah keluarga. Inspirasi tentang perubahan lewat jalur politik ia peroleh dari kebiasaannya menonton pidato ayahnya, seorang tokoh politik lokal.

Lulus dari Oxford, ia mencalonkan diri menjadi anggota parlemen dari Dartford, namun kalah. Meski demikian, pencalonannya menarik perhatian media, bukan saja karena ia satu-satunya kandidat perempuan, melainkan juga kandidat termuda.

Di sinilah ia menerima nasihat dari calon suaminya, Denis Thatcher, tentang strategi pencitraan. Wanita yang tak menikah dan berambisi politik tak akan mudah diterima masyarakat yang masih memiliki pandangan kolot, demikian bujukan Denis untuk mengajaknya menikah. Thatcher menerima lamaran itu, namun dengan syarat, ia tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga. Ia ingin berkarier secara penuh.

Seluruh "modal" ini mengantarnya menjadi anggota parlemen dari Finchley pada tahun 1959. Dan karier politik Thatcher pun melesat. Ia menjadi Menteri Pendidikan dan Sains, kemudian menjadi pemimpin Partai Konservatif, dan akhirnya perdana menteri perempuan pertama di Inggris.

Kesan "kelangkaan sosok perempuan" digambarkan dalam adegan yang serba kontras; seperti topi perempuan yang "menyembul" di antara gerombolan laki-laki berjas ataupun sepatu hak tinggi yang menyempil di antara deretan sepatu pria. Adegan ini mengundang senyum, namun juga mengisyaratkan betapa berat perjuangan Thatcher untuk menembus tirai diskriminasi di "dunia laki-laki" pada era itu. Bukan saja kerap dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan prianya, melainkan juga ia harus melawan pergulatan tipikal seorang ibu bekerja.

Kekerasan hatinya digambarkan dengan simbolis. Kedua anaknya menjerit-jerit ketika Thatcher berangkat bekerja. Mereka mengejar mobil sang ibu. Dengan pandangan lurus ke depan, Thatcher memindahkan kopling, melaju menuju kantornya, parlemen Inggris.

Memukau

Akting Meryl Streep sungguh memukau. Ia bukan saja menjelma menjadi Thatcher, melainkan juga "menciptakan" sisi kerapuhan perempuan ini. Streep pantas menyabet Oscar.

Toh sebagai film biografi, The Iron Lady terasa minimalis menggambarkan "sisi besi" Thatcher dalam pergolakan politik internasional. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan kebijakannya, Thatcher terlalu penting untuk diabaikan perannya dalam perubahan konstelasi dunia saat itu. Khususnya ketika Perang Dingin berakhir yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin dan terjadinya gelombang keterbukaan di Rusia.

Ada ucapan pedas Thatcher terhadap para pemimpin Rusia yang kemudian terkenal: "They put guns before butter, while we put just about everything before guns......." Gara-gara ucapannya itu, media Rusia menjulukinya ”Iron Lady”, julukan yang terus disandangnya sampai kini.

Thatcher membawa perubahan radikal semasa pemerintahannya. Ia dicintai sekaligus dibenci. Ia membawa perbaikan ekonomi Inggris, merebut kembali kepulauan Falkland yang diserobot Argentina, lolos dari pengeboman oleh gerilyawan Irlandia Utara, dan menjadi teladan pemimpin yang bersih. Namun, dia juga pro senjata nuklir, berteman baik dengan pemimpin apartheid Afrika Selatan, menentang penyatuan mata uang Eropa, menyetujui pengeboman Libya, dan juga mendorong AS untuk melakukan operasi militer ke Irak yang saat itu menginvasi Kuwait.

Di film ini momen-momen penting itu tak lebih dari "tempelan". Bisa jadi, ini upaya sutradara Phyllida Lloyd dan penulis skenario Abi Morgan "memanusiawikan" mitos Thatcher yang digambarkan mengalami kesepian akut di usia senjanya, sampai-sampai ia mengalami halusinasi berupa kehadiran almarhum Denis (James Broadbent) di setiap sudut rumahnya. Kebesaran seorang Thatcher tak berbekas lagi. Ia tak lebih dari seorang perempuan tua 86 tahun yang pikun.

Ketika adegan penutup menggambarkan Denis meninggalkan "alam sadar" Thatcher, perempuan ini pun kembali ke kesendiriannya. Bahkan, sampai di ujung hidupnya, ia harus berjuang sendirian.

Artikel ini sebelumnya tayang di Harian Kompas edisi Minggu, 29 Januari 2013

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Tri Wahono