Selasa, 21 Oktober 2014
"Stand Up Comedy Indonesia Season 3": Fico Vs Babe
Minggu, 5 Mei 2013 | 09:44 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
Alfi, Ari Keriting, Babe Cabiita, Bene, dan Fico (kiri-kanan), lima finalis Stand Up Comedy Indonesia Season 3 berkunjung ke redaksi Kompas.com di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (1/4/2013). KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA

JAKARTA, KOMPAS.com -- "Fico itu cocoknya jadi calon legislatif. Di saat calon-calon legislatif berusaha pura-pura pintar, dia malah pura-pura bego...," kata Babe, grand finalis Stand-Up Comedy Indonesia Musim 3, KompasTV.

Fico yang disebut Babe adalah grand finalis lain Stand-Up Comedy Indonesia Musim 3 (Suci 3) yang tampil di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (3/5/2013) malam. Adapun acara Grand Final Suci 3 akan ditayangkan KompasTV, Minggu malam ini.

Fico memang mengambil persona atau memerani diri sebagai sosok yang lugu, polos, dan berkesan bego. Persona semacam itu menjadi kekuatannya. Hanya diam berdiri di panggung saja, Fico mampu mengundang tawa. Dan sekalimat ucapan salam yang ia ucapkan membuat orang terpingkal.

Fico dan Babe malam itu mengerahkan seluruh kemampuan berkomedi mereka di depan juri yang terdiri dari Indro Warkop, Raditya Dika, Tora Sudiro, dan Fenni Rose. Fico dan Babe yang telah menyisihkan 16 finalis lainnya itu tampil dalam

tiga babak penampilan yang masing-masing berdurasi 7 menit. Babak pertama mereka tampil dengan tema bebas. Babak 2 mereka diberi tema juara.

Pada babak 3 mereka diharuskan tampil dengan 5 teknik dasar stand-up comedy seperti callback, tiga jurus pedoman (rule of three), riffing atau mengolah bahan dengan berkomunikasi dengan penonton, serta merespons komentar penonton.

"Rule of three-absurd"
Babe dinilai juri cukup komplet mengeluarkan teknik-teknik dasar itu. Ia, misalnya, dengan cukup cerdik menggunakan teknik rule of three, yaitu menguraikan tiga contoh, dengan contoh ketiga sebagai tonjokan tawa, alias punch line. Ia, misalnya, menyusun persiapan singkat (set up) tentang hadiah uang yang akan diperolehnya nanti jika jadi juara. Uang sebanyak Rp 50 juta itu, kata Babe dalam materi komedinya, tidak akan dimakan sendiri karena ia seorang dermawan. Lalu ia gunakan rule of three itu.

"Uang 50 juta masak dimakan sendiri. Sepuluh persen buat sedekah, 10 persen buat orangtua, 50 persen buat juri...," dan tawa meledak, termasuk keempat juri.

Itulah teknik rule of three dengan punch line pada 50 persen buat juri. Babe pun masih sempat memberikan twist, atau tonjokan ekstra. "Karena tadi malem kesepakatannya gitu ya om...," lontar Babe yang tampaknya ditujukan kepada juri Indro yang ia sebut sebagai Om Indro.

Belum reda tawa penonton, Babe terus menambah jurus tawa. "Waktu aku nelepon juri, yang paling susah disogok itu cuma Om Indro. Karena di antara juri itu cuma Om Indro yang orangnya paling bersih," kata Babe berhenti sejenak. "Bersih kepalanya," kata Babe menyindir Indro yang berkepala pelontos.

Babe dipuji Raditya Dika malam itu sebagai komika dengan langkah (pace) cepat, runtut, ritme yang pas, dan premis umum yang mudah ditangkap penonton.

Fico, yang sejak putaran pertama selalu mengundang tawa dengan penampilan gaya "bego"-nya, masih bermain dengan materi absurd. Ia suka menghidupkan benda mati menjadi sosok hidup. Dulu, misalnya, ia melontarkan materi tentang botol kecap yang jatuh cinta pada tutup botol. Malam itu ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada mikrofon, lantai panggung, pengeras suara, dan tiang mike.

"Terima kasih panggung sudah mau diinjak-injak. Rasanya aku ingin memelukmu. Tapi gede banget. Makan apaan sih lo?" kata Fico pada lantai panggung.

Bahan semacam itu masih mampu mengundang tawa. Dalam hal materi absurd, Fico dianggap berhasil dalam memengaruhi penonton untuk masuk dalam logika yang ia gunakan. "Komika yang berhasil itu adalah komika yang mampu memengaruhi penonton dengan pikiran dia," kata Indro.

Akan tetapi, juri mengingatkan agar materi absurd Fico itu diberi konteks dan tidak mengawang-awang. Atau dalam bahasa Raditya Dika, ketololannya harus terkonsep.

Komika masa depan
Fico, komika dari Depok, dan Babe dari Medan maju ke babak Grand Final setelah menyisihkan 18 finalis. Para finalis itu lulus seleksi yang diikuti 665 peserta dari sejumlah kota di Indonesia, seperti Wakatobi, Madura, Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta.

Para finalis tampil sejak awal Februari lalu melewati sejumlah putaran sejak awal Februari lalu. Pada putaran enam besar, semakin tampak keandalan para komika. Mereka adalah Babe, Fico, Arie Keriting, Alphie, Bene, dan Muslim. Mereka adalah komika yang bakal meramaikan pentas komedi tunggal di Indonesia pada masa mendatang.

Akan tetapi, di ajang kompetisi, maka kekurangan sekecil apa pun bisa menyebabkan close mic, alias turun panggung. Bene, dengan logat Batak yang medok itu, misalnya dianggap terlalu tegang, kurang relaks. Arie Keriting tergelincir karena "kecelakaan waktu". Ia kurang taat dalam memenuhi durasi tampil selama 7 menit seperti yang ditetapkan juri.

Memang juri menerapkan peraturan lebih ketat agar mereka siap terjun sebagai komedian profesional. Mereka yang berhasil masuk final, terlebih enam besar, dan tentu saja para grand finalis, dinilai Indro sebagai komika dengan standar yang cukup tinggi. "Kami pastikan, (komika) yang menang itu yang lebih matang dalam persiapan."

Siapakah mereka, Fico atau Babe? Saksikan Minggu malam ini. (Frans Sartono)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Ati Kamil