Jodhi Yudono Tebar Cinta lewat Nyanyian Puisi - Kompas.com

Jodhi Yudono Tebar Cinta lewat Nyanyian Puisi

Susi Ivvaty
Kompas.com - 14/12/2016, 11:03 WIB
Andy Soetaryono/Facebook Jodhi Yudono konser "Betapa Cinta" di Galeri Indonesia Kaya, Minggu, 11 Desember 2016.

JAKARTA, KOMPAS - Musikalisasi puisi atau puisi yang ditembangkan selalu terdengar khas. Penikmatnya boleh memilih, ingin memusatkan perhatian pada keindahan puisinya atau badanya. 

Hal yang pasti, pencipta lagu Jodhi Yudono membuat puisi terdengar makin hidup dengan melagukannya.

Lalu mengalunkan lagu syahdu dari puisi karya penyair tahun 45, Chairil Anwar, yang berjudul Doa.

"Tuhanku//Dalam termangu//Aku masih menyebut namaMu//Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh//cayaMu panas suci tinggal kerlip lilin di kelam sunyi.....".

Puisi Chairil yang membikin merinding itu dirangkai dalam nada-nada ciptaan Jodhi.  Jodhi sendiri menyebut puisi yang dilagukan itu sebagai nyanyian puisi.

Jodhi tampil bersama pianis dan komponis kawakan Marusya Nainggolan dalam pentas Betapa Cinta di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Minggu (11/12).

Jodhi (gitar) ditemani beberapa musikus, yakni Kaunang Bungsu (perkusi), Dedi Jumwadi (cello dan biola), dan Stanislaus Patrick (gitar).

Dukungan lain datang dari Paduan Suara Purnakarya Kompas Gramedia, yang hampir semuanya telah memutih rambutnya.

"Ternyata, bagus ya mereka meski sudah tua-tua. Pengsiunan juga masih bisa bermanfaat, ternyata," kata Jodhi disambut tawa penonton.

Jodhi juga mengajak Trio Gempita Plus, paduan suara anak-anak, sebagai penyeimbang.

Dengan Marusya tampil pada piano, nyanyian puisi terdengar makin indah.

Unggulan penata musik terbaik FFI 1986 lewat film Opera Jakarta itu mengiringi nyanyian puisi di antaranya "Testimoni" (puisi karya Darmanto Jatman) dan "Doa" (Chairil Anwar).

Marusya juga menyuguhkan komposisi yang ia ciptakan dan kerap ditampilkan, Awan.

Memopulerkan puisi

Puisi Chairil Anwar telah menjadi milik publik, dan siapa pun boleh melagukannya. Melagukan puisi-puisi karya para penyair lama adalah upaya memopulerkan kembali puisi itu.

Apalagi jika kerap ditampilkan dalam konser-konser, seperti duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang melagukan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono dalam banyak panggung.

Menurut Jodhi, meski puisi-puisi Chairil telah menjadi milik publik, ia merasa harus meminta izin keluarganya untuk melagukannya.

"Saya meminta izin Bu Eva, putri Chairil Anwar," kata Jodhi.

Cukup banyak puisi Chairil yang telah menjadi lagu, di antaranya "Yang Terputus" dan "Yang Terempas", "Senja di Pelabuhan Kecil", dan "Diponegoro".

"Kalau orang lain mau menciptakan lagu dari puisi Chairil dengan judul yang sama dengan yang saya buat, ya silakan," sambungnya.

Jodhi juga menyanyikan puisi-puisi Rendra, seperti "Pamflet Cinta" dan "Balada Terbunuhnya Atmo Karpo".

Puisi karya Taufik Ismail adalah "Sajak Orang Lapar" dan "Membaca Tanda-tanda". Adapun puisi Darmanto Jatman di antaranya "Testimoni" dan "Sepasang Daun-daunan".

"Semuanya sudah minta izin ke penyair dan keluarganya," kata Jodhi, menegaskan.

Begitulah ketika Jodhi menyanyikan puisi, terdengar seperti lagu balada. Kadang ia berteriak, kadang tercekat.

Panggung di Galeri Indonesia Kaya pun membuat batas antara pelakon dan penonton tidak berjarak. Para penonton diajak bernyanyi dan berpuisi.

PenulisSusi Ivvaty
EditorKistyarini
Komentar