Mencari Titisan Suzzanna - Kompas.com

Mencari Titisan Suzzanna

Kompas.com - 12/01/2017, 21:07 WIB
ILUSTRASI/DWI SUGIYANTO Mencari Titisan Suzzanna

JAKARTA, KOMPAS.com - Berkaca pada kondisi terakhir, tampak bahwa salah satu yang menarik perhatian di perfilman Indonesia belakangan ini adalah pengemasan ulang film lama --atau biasa disebut dengan remake, reboot, maupun tribute.

Bukti paling baru adalah Warkop DKI Reborn, yang sukses menjadi film terlaris di Indonesia--menyisihkan Laskar Pelangi, jawara sebelumnya. Sementara bersamaan dengan itu, ada pula Ini Kisah Tiga Dara, yang merupakan remake dari Tiga Dara, salah satu karya laris dari Usmar Ismail.

Remake memang terbilang potensial, mengingat telah adanya penonton-penonton yang sudah menyaksikan versi asli film, yang mungkin dibuat penasaran sehingga datang ke bioskop.

Walaupun begitu, remake juga harus menggunakan strategi. Salah satunya adalah dengan menentukan film atau sosok yang akan dibuat versi barunya. Di sini, kita berbicara tentang mereka yang ikonik; yang mana kalau ranah komedi ada Warkop, maka di horor kita ada Suzzanna.

Film Suzzanna sudah ada dua yang dibuat versi barunya, Beranak dalam Kubur (2007) dan Bernafas dalam Lumpur (1991). Dari kedua film itu, yang horor adalah Beranak dalam Kubur, sedangkan Bernafas dalam Lumpur adalah film drama.

Bernafas dalam Lumpur (1970), yang ia mainkan sebelum Beranak dalam Kubur (1972), adalah film laris yang sarat dengan adegan panas. Versi remake-nya yang juga disutradari oleh orang yang sama, Turino Djunaidy, menghadirkan Meriam Belinna sebagai tokoh Supinah --yang dulu diperankan oleh Suzzanna.

Sama halnya dengan Bernafas dalam Lumpur, film Beranak dalam Kubur juga merupakan film laris --sekaligus film horor pertama Suzzanna. Sangat wajar bila kemudian film ini dibuat ulang.

Versi remake dari Beranak dalam Kubur disutradarai oleh Adji Saputra dan Freddy Lingga. Film ini dibintangi oleh Adhitya Putri, Revant Narya, dan Dinda Kanya Dewi, dengan sosok hantu yang diperankan oleh Jupe.

Meskipun dilabeli remake, film tersebut tidak mengikuti alur cerita Beranak dalam Kubur, dan sialnya, juga tidak laris.

Sebagai generasi yang lahir pada tahun 90-an, menonton film-film Suzzanna, baik dari layar kaca maupun DVD adalah pengalaman menarik tersendiri.

Saya jadi mengerti bahwa penampakan manusia setengah buaya, perempuan dengan punggung bolong, dan perempuan yang mampu menelan sate seratus tusuk dalam sekali kunyah itu menakutkan, salah satunya setelah menonton film-film yang dibintangi perempuan berdarah Jerman- Belanda-Jawa-Manado ini.

"Bang sate seratus tusuk, Bang." Kita kadang menjadikan satu kalimat tersebut sebagai bahan bercandaan atau pun lelucon untuk pura-pura menakut-nakuti teman.

Satu kalimat yang sejatinya berasal dari salah satu film yang dibintangi Suzzanna, Sundel Bolong (1981). Yang lucu sekaligus menakutkan dari kalimat tersebut, Suzzanna langsung memakan keseratus tusuk sate.

Adegan selanjutnya bisa ditebak, tukang sate ketakutan dan beberapa penonton terbahak karena adegan jenaka tersebut.

Sosok Suzzanna sebagai ikon film horor masa lalu sangat melekat di benak penontonnya. Dia digandrungi bukan saja karena wajah ayu dan tubuh moleknya, tapi juga hal-hal lain yang mencerminkan pribadinya.

Kita bisa menyebut beberapa, mulai dari kalimat yang ia ucapkan, wardrobe-nya yang begitu khas, mitos bunga melati, sampai dengan nama ‘Suzzanna’ itu sendiri.

Seperti kita tahu, nama Suzzanna sebagai Ratu Horor Film Indonesia tidak hanya sekadar catatan yang diukur oleh filmografi. Penobatan tersebut menyangkut juga hal-hal mistis yang Suzzanna jalani, baik di layar, maupun di belakang layar.

Nama perempuan kelahiran Bogor 13 Oktober 1942 ini marak terdengar di perfilman Indonesia dari 1950-an sampai 1990-an.

Terlahir dengan nama panjang Suzzanna Martha Frederika van Osch, ia adalah adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Kariernya dimulai saat ia memenangi audisi yang diselenggarakan oleh Usmar Ismail, dan melejit berkat film Asmara Dara (Usmar Ismail, 1959).

Saat itu usianya barulah 17 tahun. Namun, dari permainan perannya tersebut, ia berhasil mendapat penghargaan The Best Child Actress (Festival Film Asia, 1960) dan Golden Harvest Award.

Suzzanna memang sempat menekuni pengerjaan drama sebelum ia menjatuhkan pilihannya untuk fokus di produksi film horor. Selain Asmara Dara, beberapa film drama tersebut adalah Darah dan Doa (1950), Bertamasja (1959), Mira (1961), Antara Timur dan Barat (1963), Aku Hanya Bajangan (1963), Segenggam Tanah Perbatasan, Suzie (1966), Penanggalan (1967), Tuan Tanah Kedawung (1970), dan Bernafas dalam Lumpur (1970).

Ia juga sempat masuk dunia tarik suara. Bersama suaminya, Dicky Suprapto dan grup musik Eka Sapta, Suzzanna mengeluarkan album berjudul Salah Sangka. Walaupun begitu, sejatinya, nama Suzzanna baru benar-benar abadi --bahkan hingga generasi 90-an-- setelah masuk dalam produksi film horor.

Ketika ia bermain Beranak dalam Kubur (Awaludin & Ali Shahab, 1972), pada tahun yang sama, ia juga mendapat gelar aktris Terpopuler se-Asia dalam Festival Film Asia-Pasifik.

Setelah itu, terdapat tiga puluhan judul film yang dibintangi Suzzanna sepanjang karir perfilmannya --yang juga diselingi oleh film-film drama. Perjalanan filmnya berujung pada film terakhirnya yang tayang 21 Februari 2008, Hantu Ambulance (Koya Pagayo, 2008)-- sebelum kemudian meninggal pada 15 Oktober 2008.

Dalam film terakhirnya --yang didahului masa vakum selama 17 tahun-- Suzzanna tidak berperan sebagai hantu lagi. Ia berperan sebagai nenek dari tokoh utama, Rano, yang diperankan oleh Dimas Andrean.

Shankar, bos dari Indika Entertainment, mengaku kesulitan saat mengajak Suzzanna untuk kembali bermain film horor. Namun, niat produser yang satu ini terbilang sangat besar.

"Saya ini dijuluki bapak film horor. Saya tidak merasa lengkap kalau Suzzanna belum ikut main di film produksi saya. Suzanna is the legend of horror," paparnya ketika itu.

Suzzanna pada akhirnya memang bermain di Hantu Ambulance, dan dengan demikian, Shankar menyaksikan sendiri gelagat ratu horor yang satu itu. 

"Waktu saya minta main film ini, syaratnya banyak. Suzzanna minta harus ada bunga melati dan bawa baju sendiri. Setahu saya, melati itu dipakai dan ada juga yang dimakan untuk menjaga stamina," ungkapnya.

Suzzanna memang unik. Saking uniknya, tidak ada yang mampu menggantikan kehadirannya di jagat perfilman Indonesia. Pada 2012 lalu, Jupe sempat muncul dengan embel-embel 'titisan Suzzanna' di poster film terbarunya, Rumah Bekas Kuburan.

Bukannya sukses, Jupe justru menuai banyak komentar negatif. Yang paling keras adalah dari suami kedua Suzzanna, Cliff Sangra. Ia merasa keberatan, nama istrinya dicatut begitu saja. Ia juga merasa bahwa pencatutan tersebut terlalu gegabah dan digunakan melulu untuk alasan strategi untuk membuat film baru mereka laku.

"Soal pernyataan 'titisan', maaf, dengan tegas saya menolak dan tidak terima pernyataan itu. Untuk menjadi sosok Suzzanna sangat sulit dan banyak tantangan," ujar Cliff ketika itu.

Keberatan Cliff Sangra bukan tanpa alasan. Konon, untuk menjadi titisan Suzzanna, ada berbagai tuntutan yang harus dilalui.

Penerus Suzzanna harus bisa menjalani paling tidak sembilan ritual. Pertama, calon tersebut harus bersedia memakan bunga melati sebanyak satu piring penuh. Satu hal --atau juga ritual-- yang dilakukan Suzzanna di lokasi shooting.

Kedua, calon titisan tersebut diharapkan dapat bersahabat dengan ular. Hal ini berhubungan dengan kedekatan Suzzanna dengan ular-ular yang dipakainya ketika shooting.

Ketiga, calon titisan bersedia memakai baju hijau di pantai Parangtritis selama semalam suntuk. Menurut kepercayaan setempat, jika mengenakan baju berwarna hijau di pantai Parangtritis, orang tersebut akan tertimpa hal buruk, seperti hilang tertelan ombak pantai selatan --konon, ombak itu adalah jelmaan Nyi Roro Kidul, satu tokoh yang pernah diperankan Suzzanna dalam filmnya.

Keempat, puasa ngrowot dan puasa ngebleng. Puasa ngrowot dilakukan dari subuh sampai maghrib, sedangkan puasa ngebleng dijalani dengan menghentikan segala aktivitas normal sehari-hari, yaitu tidak diperkenankan makan, minum, keluar dari rumah atau kamar selama 24 jam serta tidak boleh melakukan aktivitas seksual.

Waktu tidur calon titisan harus bersedia dikurangi, dan tidak diperkenankan ada satu cahaya pun yang menerangi kamar. Kalaupun boleh meninggalkan kamar, itu hanya untuk buang air saja.

Itu baru empat, sisanya masih banyak yang Cliff Sangra rahasiakan. Namun, dari empat itu saja, Julia Perez --yang sempat menjalani beberapa ritual tersebut-- membatalkan niatannya menjadi titisan Ratu Horor Indonesia ini.

Kini tidak ada kelanjutan kabar seputar niatan Jupe menjadi bintang horor. Beberapa nama lain, yang sering bermain film horor, mungkin ada. Sebut saja Shareefa Danish, Julie Estelle, Shandy Aulia, bahkan Dewi Persik. Akan tetapi, melihat perjalanan para aktris tersebut, rasanya tidak ada yang cukup menjanjikan untuk menjadi ikon horor berikutnya.

Di atas semuanya, nama "Suzzanna" itu sendiri sudah sangat besar, di zamannya, sampai dengan saat ini. Hal itu juga yang menjadi sumber dari kesulitan setiap sineas dalam mencari penggantinya.

Tidak ada lagi magnet dari film-film horor, yang dulu begitu lihai mengedepankan nama Suzzanna. Maka dari itu, di sini mungkin ada sedikit celah bagi para pembuat film untuk membuat remake film Suzzanna pada masa sekarang.

Di genre komedi kita telah mendapatkan versi baru Warkop DKI dalam sosok Abimana Aryasatya, Vino Bastian, dan Tora Sudiro. Kira-kira, adakah yang berani mengadaptasi kisah-kisahnya dengan tokoh Suzzanna baru?

Bila iya, siapakah yang bisa mengisi sosok Suzzanna? Tentunya ini menarik untuk kita nantikan bersama. (Yulaika Ramadhani)

 

---

Artikel ini telah dimuat di ruang.gramedia.com edisi 20 Oktober 2016 dengan judul "Mencari Titisan Suzzanna".

EditorIrfan Maullana
Komentar

Close Ads X