"Salawaku": Obat Luka di Pulau Seram - Kompas.com

"Salawaku": Obat Luka di Pulau Seram

Kompas.com - 19/02/2017, 17:00 WIB
KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Jumpa pers dan syukuran film Salawaku di Ivy Restaurant, Brawijaya II, Jakarta Selatan, Selasa (18/10/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com -- Langkah-langkah dalam perjalanan terkadang lebih istimewa dari titik akhir tujuannya.

Dalam sebuah perjalanan di Pulau Seram, Ambon, Saras tak hanya terobati oleh hamparan pasir putih, bening kristal laut, dan biru cerah langit. Namun, juga oleh pertemuan dengan orang-orang asing yang lalu menjadi tempat becermin sekaligus pengobat luka.

Salawaku yang bergenre film perjalanan pada akhirnya tak sekadar film jalan-jalan yang menghibur dan indah, tetapi diam-diam juga kontemplatif.

Lebih dalam lagi, lewat sudut pandang anak yang polos, isu besar dan penting sesungguhnya digarap, yakni tentang posisi perempuan yang kerap dalam relasinya dengan laki-laki tidak diuntungkan, tambahan lagi ketika berhadapan dengan adat.

"Semula cerita ini berangkat dari sosok perempuan, tetapi kemudian dipilih sudut pandang anak yang polos dan tanpa tendensi," ujar Pritagita Arianegara, sutradara film Salawaku, Selasa (14/2/2017).

Film itu menjadi debut Pritagita sebagai sutradara film layar lebar. Pilihan itu pula yang membuat film itu tak kehilangan unsur hiburan dan kesegaran.

Elko Kastanya mampu menghidupkan karakter Salawaku dan diganjar penghargaan sebagai pemain anak terbaik dalam Festival Film Indonesia 2016.

Cerita berawal dari Salawaku seorang bocah murid sekolah dasar yang agak badung, tengil, dan keras kepala.

Dia mendadak sebatang kara lantaran ditinggalkan kakaknya, Binaiya (Raihaanun), tanpa penjelasan. Ketimbang dirawat kerabat, Salawaku memilih mencari kakak perempuannya.

Sebelumnya, pada adegan pembuka, seorang perempuan yang ternyata kakak Salawaku, Binaiya, digambarkan berteriak-teriak seperti orang kehilangan ingatan, terapung- apung di dalam sampan.

Pada suatu malam, Salawaku nekat mencuri sampan seorang pemuka adat di kampungnya.

Berbekal rantang berisi ikan dan pisang, dia membelah bening lautan dengan sampannya.

Di tepi sebuah pantai, dia bertemu Saras ( Karina Salim) yang sedang tertidur. Padahal, matahari sudah tinggi dan terik. Salawaku mendekat dan menawarkan bekalnya kepada Saras (Salawaku lalu kesal karena makanannya dihabiskan Saras).

Saras lantas meminta bantuan Salawaku mengantarkannya ke resor, tempat tinggalnya selama liburan. Namun, Saras yang sedang galau malah menemani Salawaku mencari kakaknya.

Sementara itu, pemuka adat meminta putranya, Kawanua ( JFlow Matulessy), mencari Salawaku dan membawanya pulang.

Salawaku berhasil lolos sekali dari pengejaran, tetapi di tengah jalan bertemu dengan Kawanua yang lalu berjanji membantunya mencari sang kakak.

Ketiganya lalu berjalan bersama dengan segala ketegangannya. Tanpa diketahui Salawaku, orang-orang dewasa di sekitarnya, Binaiya, Kawanua, dan Saras semua menyimpan rahasia.

Sepanjang perjalanan, interaksi antara Saras dan Salawaku yang berbeda usia dan konteks sosial budaya ditampilkan wajar dan diselipi humor. Seperti ketika Saras beralasan menemani pencarian Salawaku sebagai balas budi.

"Budi itu siapa, Kak?" tanya Salawaku polos atau ketika bocah itu keheranan dengan Saras yang menyebutnya "gagal paham" dan bingung dengan Saras yang selalu berkutat dengan gawainya.

"Saya tidak ingin film ini hanya berkutat tentang satu daerah dengan budaya yang tak sepenuhnya kami kuasai karena itu tokoh Saras dari Jakarta ditambahkan," ujar Pritagita.

Seiring langkah Saras, Salawaku, dan Kawanua, keindahan alam Seram barat dihadirkan.

Semburat matahari senja, pantai putih, taman bawah laut, dan air terjun Lumoli yang cantik. Begitu pula makanan-makanan khas di sana.

Gambar-gambar sengaja dihadirkan seperti apa adanya, termasuk warnanya, sehingga terkesan riil serta terasa pula betapa terang dan teriknya matahari Indonesia timur.

Produser nekat
Penggarapan film Salawaku pun berawal dari perjalanan nekat sejumlah produser muda yang masih duduk di bangku kuliah jurusan film di Universitas Bina Nusantara di Jakarta. Mereka rata-rata berusia awal 20 tahun.

"Waktu itu, pulang liburan dari Pulau Seram dan kami begitu terkesan. Bagi kami yang penting membuat karya dan puas dengan itu, tulus saja," ujar Mike Julius, salah satu produser.

Para produser baru itu lalu bertemu Pritagita yang lebih dari sembilan tahun menjadi penjaga script continuity dan asisten sutradara di sejumlah film.

Lantaran keterbatasan dana, film itu dirancang tidak besar dan dengan kru terbatas, tetapi tidak mengorbankan kualitas.

Di tengah ketatnya dana dan lokasi syuting di Indonesia timur, pengambilan gambar tak bermanuver dengan drone ataupun track. Semua gambar diambil dari pengalaman wajar mata manusia sehari-hari.

"Kita ketika datang ke suatu tempat baru tidak mungkin kita melayang-layang di udara. Segala yang kita lihat dengan berdiri di atas kaki kita. Itu pilihan tepat untuk film ini. Jika saya bekerja dalam film lain, bisa jadi pilihannya berbeda, sesuai kebutuhan," ujarnya.

Karya film tersebut terbukti berjaya di sejumlah ajang. Film itu menang untuk kategori pengarah sinematografi terbaik (Faozan Rizal), pemeran pendukung wanita terbaik (Raihaanun), dan pemeran anak terbaik (Elko Kastanya).

Selain itu, Salawaku mendapatkan nomine untuk film terbaik, sutradara terbaik, penata musik terbaik, lagu tema film terbaik, dan pemeran pendukung pria terbaik.

Film itu juga meraih Piala Dewantara kategori Film Cerita Panjang Bioskop dalam Apresiasi Film Indonesia 2016.

Salawaku diputar perdana di Tokyo International Film Festival pada Oktober 2016 dalam kategori Asian Future.

Di Indonesia, film itu akan tayang di bioskop mulai 23 Februari mendatang.

Dalam kebersahajaan film Salawaku, kisah tentang perempuan, keindahan Pulau Seram, dan riak ombaknya akan menyusup ke dalam benak. (INDIRA PERMANASARI)

Salawaku
Produser: Mike Julius dan Ray Zulham
Koproduser: George Timothy dan Kristo Damar Alam
Sutradara: Pritagita Arianegara
Skenario: Iqbal Fadly
Pemain: Elko Kastanya (Salawaku), Karina Salim (Saras), Raihaanun (Binaiya),    JFlow Matulessy (Kawanua)
Rumah Produksi: Kamala Film

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Februari 2017, di halaman 24 dengan judul "Obat Luka di Pulau Seram".

EditorAti Kamil
Komentar
Close Ads X